Menemukan Inti Atau Ekstraksinya
26 October 2018

Alkitab ditulis dengan melibatkan pikiran, perasaan manusia, kemampuannya berinteraksi dengan Tuhan dan lingkungan, budaya dan lingkungan hidup yang semuanya berbeda jauh dengan keadaan kita hari ini. Dengan demikian Alkitab bagai sebuah hutan belantara yang harus dikenali dengan benar jalan-jalannya. Ada beberapa faktor penting yang harus diperhatikan:
Pertama, kita harus belajar sungguh-sungguh memahami pola berpikir para penulis Alkitab. Harus diingat bahwa Alkitab ditulis dalam kurun 1.500 tahun oleh sekitar 40 penulis.
Kedua, budaya dan lingkungan hidup mereka pada waktu wahyu Tuhan tersebut ditulis. Alkitab ditulis dalam bungkus budaya Yahudi purba, karenanya kita harus belajar budaya mereka pada waktu itu.
Ketiga, dalam rangka apa suatu kitab ditulis, apa hubungannya dengan penulis dan manusia lain pada waktu itu dan lain sebagainya.

Seperti misalnya sebuah nubutan ditujukan kepada suatu bangsa, kita tidak boleh mengambil alih nubuatan itu untuk diri kita atau orang lain. Misalnya teks yang berbunyi: Pada waktu itu engkau akan heran melihat dan berseri-seri, engkau akan tercengang dan akan berbesar hati, sebab kelimpahan dari seberang laut akan beralih kepadamu, dan kekayaan bangsa-bangsa akan datang kepadamu (Yes. 60:5). Nubuatan ini ditujukan kepada bangsa Israel, bukan kepada semua orang Kristen. Kalau untuk tempat tertentu dan pada waktu tertentu ayat ini “dipinjam” untuk orang Kristen, mungkin bisa saja. Tetapi kemungkinannya sangat kecil.

Jadi, ayat tersebut tidak berlaku bagi semua orang Kristen dan di sepanjang zaman. Bagi orang Kristen yang hidup di negara dimana Injil diterima seperti di negara-negara Barat, orang Kristen dapat hidup makmur, kekayaan negara-negara jajahan diangkut oleh mereka. Tetapi di banyak tempat di mana Kekristenan ditolak atau masyarakatnya miskin, maka relaisasi ayat ini sangat jauh. Apakah kalau sudah demikian berarti Tuhan tidak konsekuen? Tentu tidak. Yang salah adalah kesalahan tafsir terhadap ayat tersebut. Kesalahan bukan terletak pada Tuhan.

Masing-masing kitab harus ditafsirkan menurut sifatnya, sejarah, nubuat, syair, amsal, Injil, surat dan wahyu. Kitab yang berisi syair yang penuh dengan gaya bahasa simbolis atau figuratif tidak bisa diartikan secara harafiah. Demikian pula dengan wahyu yang sering diungkapkan dengan simbol-simbol tidak boleh diartikan secara hurufiah. Kuda, singa, naga dan lain-lain mengandung makna tertentu, bukan dalam arti hurufiah. Untuk ini kita harus mengartikannya dengan teliti dan hati-hati. Harus diingat bahwa Alkitab bukan teka-teki.

Adalah lebih lengkap lagi bila mengerti bahasa asli yang digunakan menulis Alkitab. Bahasa asli Alkitab bertalian dengan maksud penulis. Misalnya dalam Alkitab bahasa Yunani Koine (bahasa asli Perjanjian Baru) terdapat dua kata yaitu “alitheia” dan “dikaosune” (Yoh. 14:6 dan Mat. 5:20), dua-duanya diterjemahkan “kebenaran”, padahal masing memiliki muatan pengertian yang berbeda. Contoh lain misalnya dalam Alkitab bahasa Yunani Koine terdapat dua kata “dedoulotetai” dan “dedetai” (1Kor. 7:15 dan 1Kor. 7:27,39) dua-duanya diterjemahkan “terikat”. Padahal masing-masing memiliki muatan pengertian yang berbeda, yang satu terikat secara “perbudakan” bukan secara legal, tetapi yang satu terikat secara legal atau secara hukum.

Sebaliknya, dalam Alkitab kita menemukan satu kata yaitu “latreia” tetapi di dalam Alkitab Bahasa Indonesia yang satu diterjemahkan berbakti dan yang lain diterjemahkan ibadah. Dengan demikian jelas dapat dimengerti bahwa Alkitab dipahami sebagai Firman Tuhan tergantung dari “cara menafsir” atau tergantung “mengolahnya”. Bila salah mengolah, maka Alkitab tidak menjadi Firman Tuhan, sebaliknya menjadi alat melawan kebenaran. Hal ini terjadi tanpa disadari oleh jemaat bahkan si “pemberita Firman”. Dalam hal ini yang sangat dibutuhkan ada dua faktor:
Pertama, Roh Kudus yang membuka pengertian. Untuk ini seorang yang menggali Alkitab harus bergantung kepada pimpinan Roh-Nya.
Kedua, kerja keras belajar menggali kekayaan Alkitab melalui literatur yang tersedia, di dalamnya termasuk mengerti prinsip menafsir yang benar. Akhirnya tidak terlalu dipersoalkan apakah Alkitab berisi Firman Tuhan atau Alkitab adalah Firman Tuhan, yang penting adalah bagaimana mengerti isi Alkitab sehingga ditemukan “butir-butir” kebenaran Firman Tuhan tersebut. Ini adalah usaha menemukan inti atau ekstraksinya.

Firman Tuhan dalam Alkitab adalah intinya atau ekstraksinya.