Menemukan Diri Sendiri
10 September 2020

Play Audio Version

Untuk memiliki perdamaian dengan Allah, seseorang harus berkeberadaan moral seperti yang Allah kehendaki. Pertanyaannya, apakah kita sudah berkeberadaan moral manusia batiniah seperti yang Allah kehendaki sehingga bisa berekonsiliasi dengan Allah? Jadi, bukan hanya merasa sudah berstatus dibenarkan, lalu merasa sudah bisa berekonsiliasi dengan Allah. Rekonsiliasi atau hidup berdamai dengan Allah dibangun bukan hanya oleh penebusan darah Yesus yang membenarkan kita, melainkan juga keadaan batiniah atau moral kita yang bisa bersekutu dengan Allah. Itulah sebabnya, menjadi tanggung jawab setiap individu untuk memperbaharui diri guna memiliki moral atau manusia batiniah seperti yang Allah kehendaki.

Ada pula orang-orang Kristen yang merasa sudah berdamai dengan Allah hanya karena merasa sudah bertobat. Padahal, ia belum mengerti bagaimana pertobatan sejati itu. Pertobatan bukan saja berhenti dari perbuatan yang melanggar hukum, kemudian aktif dalam kegiatan rohani. Pertobatan yang benar adalah kesediaan terus-menerus meninggalkan cara hidup yang Tuhan tidak kehendaki dalam segala aspeknya demi mengenakan kehidupan Yesus. Pertobatan bukan hanya satu kali, melainkan setiap hari, yaitu ketika cara berpikir kita diubah. Jadi, bertobat selain artinya berbalik (strepho; στρέφω) juga berarti perubahan pikiran (metanoia; μετάνοια). Pertobatan adalah as a change of mind leading to change of behavior repentance (sebagai perubahan pikiran yang mengarah pada perubahan perilaku pertobatan). Pertobatan setiap hari sama dengan pembaharuan pikiran setiap hari. Ini berarti proses pendewasaan atau penyempurnaan yang tidak pernah berhenti.

Banyak orang Kristen merasa sudah berdamai dengan Allah hanya karena merasa sudah bertobat, artinya sudah meninggalkan cara hidup yang bertentangan dengan moral secara umum, kemudian rajin dalam kegiatan rohani. Tadinya melakukan pelanggaran moral, sekarang berhenti dari pelanggaran tersebut, dan mengaku menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Padahal, pertobatan itu langkah hidup setiap hari. Cara berpikir yang berubah akan mengubah gaya dan cara hidup. Gaya dan cara hidup yang berubah akan terus sampai pada perubahan kodrat, sehingga dari seorang yang berkodrat manusia yaitu berkodrat dosa, menjadi seorang yang berkodrat ilahi, yaitu hidup dalam kesucian. Orang yang tidak semakin berkodrat ilahi, tidak semakin mengambil bagian dalam kekudusan Allah, tidak makin serupa dengan Yesus, dan tidak akan makin sempurna seperti Bapa, tidak bisa hidup dalam perdamaian dengan Allah.

Jadi, tidak cukup mengatakan sudah bertobat tahun sekian, lalu sekolah teologi, dan jadi pendeta. Inilah yang membuat kekristenan mengalami kemunduran, sehingga kurang, bahkan tidak mempersiapkan umat menjadi mempelai Kristus. Kalau seseorang belum berkarakter ilahi, maka ia tidak bisa ‘klop’ untuk berekonsiliasi dengan Allah. Keadaan orang itu dalam stadium tertentu masih meleset (Yun. Hamartia) sehingga belum bisa menyenangkan hati Tuhan. Tuhan tidak bisa bersekutu dengan orang tersebut. Oleh sebab itu, idealnya, semakin tua kita harus makin tidak meleset. Segala sesuatu yang kita pikirkan dan ucapkan harus semakin selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Jika tidak demikian, berarti tidak akan pernah ada rekonsiliasi dengan benar; tidak ada perdamaian dengan Allah.

Memang kalau ada orang Kristen baru dengan keberadaannya yang masih sering meleset atau bahkan melakukan pelanggaran moral, Tuhan masih bisa toleransi. Tetapi kalau seorang Kristen sudah belasan atau puluhan tahun menjadi Kristen, tidak boleh terus-menerus berkeadaan seperti manusia pada umumnya. Ia harus mengalami perubahan kodrat. Pada umumnya, orang masih mencari kesenangan sendiri dan dia tidak memikirkan perasaan Allah. Orang yang masih mencari kesenangan sendiri adalah orang yang mendukakan hati Allah. Sebaliknya, orang yang berusaha menyukakan hati Allah, pasti berarti membahagiakan diri sendiri, dan hidupnya pasti mendatangkan keteduhan bagi sesama.

Pada umumnya orang berpikir, dengan menyenangkan diri sendiri, dia akan lebih bahagia. Padahal, belum tentu demikian. Tanpa disadari, ia membangun kesenangan yang palsu, yang korbannya pasti orang di sekitarnya. Dirinya mau dilayani, tetapi tidak bersedia melayani orang lain. Tentu saja keadaan tersebut mendukakan hati Allah. Orang seperti itu tidak akan pernah hidup dalam perdamaian dengan Allah. Pada stadium tertentu, orang seperti itu tidak pernah mengenal dirinya untuk selamanya dan tidak memiliki perdamaian dengan Allah. Sebaliknya, kalau orang menyenangkann hati Allah, maka ia menemukan Allah. Dengan demikian, ia dapat menemukan dirinya sendiri. Orang yang bisa menyukakan hati Allah, dia menyukakan dan membahagiakan dirinya sendiri, dan pasti menjadi berkat bagi orang di sekitarnya. Ia bisa menemukan dirinya sendiri. Orang yang dapat menemukan dirinya sendiri dapat berdamai dengan Allah. Bagaimana seseorang bisa menemukan Allah dan berdamai dengan Dia, sedangkan dirinya sendiri belum dia temukan?