Menemui Tuhan
28 December 2020

Play Audio Version

Suatu hari nanti di kekekalan, ketika seseorang menyaksikan kedahsyatan kemuliaan Allah, barulah ia menyadari dengan benar betapa besar anugerah Allah yang memberi kesempatan makhluk ciptaan—yaitu manusia—untuk bisa berinteraksi dengan Dia. Hari ini, banyak orang yang menganggap remeh kesempatan untuk bisa berinteraksi dengan Allah, yaitu hidup di hadirat Allah, sebab mereka tidak menyadari kedahsyatan kemuliaan Allah. Tentu saja orang-orang seperti ini juga tidak menghormati Allah secara patut dan tidak mengasihi Allah secara benar. Pada umumnya, manusia berkeadaan demikian. Pada waktu itu, barulah terjadi penyesalan yang sangat dalam, menyakitkan, dan tidak terbayangkan. Penyesalan tersebut bisa lebih menyakitkan dari penderitaan itu sendiri. Alkitab menggambarkan keadaan tersebut sebagai “ratap tangis dan kertak gigi.”

Seseorang yang menolak hidup di hadirat Allah adalah orang yang mengalami kerugian yang tidak ternilai, yaitu kebinasaan—artinya keadaan terpisah dari Allah. Orang yang menolak Allah berarti tidak menerima kehidupan di dalam Tuhan. Tidak mungkin orang yang pada saat hidup di bumi tidak hidup di hadirat Allah, kemudian nanti waktu meninggal bisa hidup di hadirat Allah. Hanya orang yang sejak di bumi ini sudah hidup di hadirat Allah, nanti di kekekalan juga diperkenankan untuk berada di hadirat Allah. Dengan demikian, sejatinya, peta hari esok seseorang di kekekalan—apakah ia masuk surga atau neraka—dapat dilihat sejak hidup di bumi ini. Untuk itu, kita harus mengoreksi diri kita dengan benar, apakah kita akan diperkenankan ada di hadirat Allah atau tidak. Untuk bisa mengenali diri dengan benar, seseorang harus mengalami perjumpaan langsung setiap hari dengan Allah.

Untuk menemui Tuhan secara khusus, seseorang harus menyediakan waktu yang dipandang istimewa. Setiap hari kita harus menyediakan waktu untuk bertemu Tuhan. Waktu ini harus dipandang sebagai waktu yang lebih bernilai dari waktu kita untuk hal-hal lain. Ini adalah “prime time.” Waktu tersebut tidak digunakan untuk apa pun selain bertemu dengan Tuhan. Kita harus membiasakan diri bertemu dengan Tuhan secara rutin sehingga menjadi kebiasaan yang tidak terhapus selama hidup, sampai bertemu Tuhan Yesus nanti. Pada waktu bertemu dengan Tuhan, kita tidak boleh membuka akses dengan apa pun, dan kepada siapa pun. Waktu bertemu dengan Tuhan adalah waktu yang mulia, agung, dan berharga.

Karena pertemuan ini mahapenting, maka kita harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik: ruangan, sarana doa, dan kondisi fisik. Kadang-kadang kita sengaja memakai pakaian resmi dalam pertemuan tersebut dan memandangnya sebagai pertemuan formal. Berkenaan dengan hal ini—bila mungkin—kita menyediakan ruangan yang khusus. Ruangan yang dilengkapi dengan bantal untuk berlutut, kursi untuk meletakkan siku, gitar untuk menyanyi atau menyembah. Kita harus menyediakan tempat khusus ini untuk menutup semua hubungan dengan apa pun dan siapa pun. Ruangan tersebut bisa menjadi ruang istimewa di mana kita bertemu dengan Tuhan, sebab di tempat itu kita menemukan kehadiran Tuhan.

Membiasakan diri untuk hal ini tidak mudah. Dibutuhkan perjuangan dalam ketekunan yang tinggi, sebab pada waktu belajar berdoa akan terjadi kejenuhan. Apalagi pada waktu sudah ada di ruang doa selama berbulan-bulan dan tidak merasakan Tuhan hadir, bahkan seakan-akan Tuhan tidak ada. Dalam kondisi seperti itu, kita bisa putus asa dan kehilangan gairah berdoa. Kita harus tetap tekun. Pada waktu kita tidak ingin berdoa, justru pada waktu itulah kita harus berusaha bertemu dengan Tuhan dan masuk ruang doa. Kita harus belajar untuk bisa bersabar menanti Tuhan dan mencari wajah-Nya. Kita harus tetap setia di ruang doa untuk belajar merasakan hadirat Tuhan, dan tetap merasakan kehadiran-Nya yang semakin kuat.

Semakin hari kita akan mengalami perasaan semakin menyukai ruang doa tersebut, sampai menjadi ikatan, seperti sebuah ikatan yang adikodrati. Dalam berdoa, Tuhan akan memberi pengalaman-pengalaman yang luar biasa yang tidak bisa disaksikan kepada orang lain, atau memang tidak boleh disaksikan kepada orang lain, sebab perjumpaan dengan Tuhan sangat mulia dan pribadi. Tuhan menghendaki perjumpaan dengan Dia dipandang sebagai sesuatu yang eksklusif yang tidak boleh diumbar untuk orang lain. Kita tidak boleh sembarangan menyaksikannya kepada orang lain. Semua harus dalam pimpinan Roh Kudus. Dari perjumpaan dan percakapan dengan Tuhan di ruang doa tersebut, kita mengembangkan sebuah dialog dan fellowship yang tidak pernah berhenti di sepanjang waktu hidup kita. Kalau tidak ada perjumpaan khusus dengan Tuhan, tidak mungkin dapat memiliki kehidupan di hadirat Allah setiap saat. Orang yang menemui Tuhan setiap hari akan dikenal di Kerajaan Surga.