Menembus Batas
06 January 2019

Pada umumnya atau rata-rata orang memiliki jelajah pandang ke depan hanya sampai pada batas kubur. Jika berbicara mengenai hari depan atau hari esok yang penuh harapan, biasanya hanya di dalam area kehidupan sebelum kubur atau kehidupan di dunia ini. Kalau seseorang memiliki jangkauan berpikir hanya secara sempit demikian, maka tidak mungkin ia bisa bersungguh-sungguh secara benar atau serius dengan Tuhan. Sesuai dengan kebenaran Alkitab yang berbicara mengenai hari depan yang penuh harapan, fokus orientasinya harus kehidupan setelah kematian, bukan di bumi sekarang ini (1Ptr. 1:3 untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di surga bagi kamu). Tuhan mengarahkan umat-Nya hanya untuk memikirkan hal-hal yang menembus batas, artinya keluar dari area hidup yang biasanya orang berpikir, yaitu di dunia yang akan datang.

Tuhan mengajar orang percaya untuk memiliki jelajah berpikir atau pandangan ke depan menembus batas dibalik kubur. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata:Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada (Mat 6:21). Tuhan menyatakan ini ketika Tuhan Yesus berbicara mengenai hal mengumpulkan harta di surga. Mengumpulkan harta di surga adalah usaha bagaimana menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah, yaitu memiliki kodrati Ilahi (2Ptr. 1:3-4) atau memiliki kehidupan yang mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:9-10).

Cara berpikir orang yang tidak menembus batas, area berpikirnya hanya sekitar kehidupan hari ini, ia tidak akan sungguh-sungguh maksimal dalam berurusan dengan Tuhan. Faktanya hari ini banyak orang yang tidak berurusan dengan Tuhan secara benar dan maksimal. Mereka berurusan dengan Tuhan hanya untuk memperoleh kesembuhan dari sakit fisik, hanya supaya memperoleh pemulihan ekonomi, hanya supaya bisa memperoleh sukses di dalam karir dan berbagai jabatan lain. Karena hal ini maka jelajah berpikirnya hanya sebatas kuburan, tidak menembus batas.

Orang percaya harus belajar untuk memiliki cara pandang yang menembus batas, bukan hanya melihat kehidupan sebelum kubur, justru melihat kehidupan setelah tubuh dikubur. Inilah yang dikendaki oleh Tuhan Yesus agar orang percaya mengumpulkan harta di surga, bukan dibumi. Dalam hal ini Paulus menegaskan agar orang percaya memikirkan perkara-perkara yang di atas, bukan yang dibumi (Kol. 3:1-4). Banyak orang Kristen yang berulang-ulang mendengar dan membaca ayat-ayat tersebut, tetapi mereka tidak berani secara konsekuen dan konsisten mengenakannya.

Sebaliknya, pengertian mereka mengenai kehidupan Kristen disesatkan oleh pengajaran yang menekankan pemenuhan kebutuhan jasmani. Pengajar-pengajar yang mengajarkan hal tersebut, memang terkesan Alkitabiah karena mengambil ayat-ayat dalam Alkitab Perjanjian Lama. Hal tersebut menggiring pemahaman yang salah, seakan-akan kehidupan bangsa Israel dapat menjadi pola kehidupan umat Perjanjian Baru. Padahal seharusnya Perjanjian Baru, yaitu apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dan rasul-rasul-Nya yang menjadi pusat pengajaran atau episentrum kebenaran bagi orang percaya. Apa yang diajarkan Perjanjian Baru tidak membuka ruang sama sekali meraih dunia dan menikmatinya seperti filosofi hidup manusia pada umumnya.

Oleh sebab itu, orang percaya harus memiliki cara pandang yang benar berdasarkan Perjanjian Baru. Prinsip-prinsip yang diajarkan Perjanjian Baru harus menjadi pilar-pilar kehidupan orang percaya. Sehingga pola hidup yang dikenakan adalah pola hidup Tuhan Yesus dan rasul-rasul yang adalah murid-murid pertama Tuhan Yesus, yang dapat menjadi model orang percaya yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus sendiri. Kalau pemikiran orang percaya diarahkan kepada pola hidup bangsa Israel yang orientasi berpikirnya masih berkat-berkat jasmani, maka orang percaya dapat menyimpang dari kebenaran Injil. Tetapi ironinya, sekarang ini justru yang lebih digemari dan cocok dengan “selera” jiwa banyak manusia -termasuk banyak orang Kristen- adalah kehidupan yang masih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani seperti bangsa Israel.

Bila pemikiran orang Kristen masih dilandaskan pada kehidupan umat Perjanjian Lama, maka orang Kristen tersebut tidak melihat kekayaan Kerajaan Surga, yaitu bagaimana diubah menjadi manusia yang berkodrat Ilahi dan tidak menaruh harapan kehidupan yang akan datang.Pola berpikir orang-orang Kristen seperti ini tidak berbeda dengan pola berpikir anak-anak dunia atau manusia pada umumnya. Mereka tidak akan pernah mempersoalkan mengenai kekekalan dan usaha yang serius untuk menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Dengan kehidupan seperti itu, mereka telah dituai oleh dunia. Mereka tidak pernah menjadi seperti perawan suci yang dilayakkan sebagai mempelai Kristus.