Menembus Batas
25 January 2021

Play Audio

Fokus pelayanan gereja haruslah sungguh-sungguh mempersiapkan jemaat menjadi mempelai yang layak bagi Kristus, artinya menjadi orang-orang yang hidup tidak bercacat, tidak bercela atau kalimat lain, melakukan kehendak Bapa. Untuk melakukan kehendak Bapa, orang percaya harus memiliki kepekaaan terhadap apa yang menjadi selera Bapa. Maka untuk itu, ia harus belajar kebenaran. Jadi, kebenaran-kebenaran itu bukan hanya membuat pikiran menjadi pintar berteologi, melainkan membuat seseorang memiliki kecerdasan rohani, sehingga bisa mengerti kehendak Allah; apa yang baik, berkenan, dan sempurna. Maka, kebenaran tidak boleh kurang, harus selalu disampaikan terus-menerus. Belajar kebenaran itu mutlak; semutlak makan. Orang tidak makan dan tidak minum, mati. Orang yang tidak belajar kebenaran, mati rohaninya.

Gereja—dalam hal ini para pelayan jemaat, para pendeta—harus memiliki perasaan krisis terhadap kenyataan dunia kita yang sekarang ini sudah semakin jahat. Banyak jemaat yang telah tertarik, terpikat, dan terhanyut oleh dunia ini. Sehingga mereka tidak fokus terhadap kehendak Allah, mereka tidak peduli akan kehendak Allah, mereka hanya peduli apa yang menjadi keinginan mereka. Mereka hanya peduli materi dengan fasilitas dunia, dengan kesenangan dunia dan segala hiburan, sehingga jemaat tidak dipersiapkan untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Gereja sendiri—tentu tidak semua gereja—berfokus pada masalah pemenuhan kebutuhan jasmani. Ciri gereja seperti itu adalah pemutusan kutuk-kutuk kemiskinan, kutuk sakit-penyakit, dan berbagai kutuk yang orientasinya pada berkat jasmani. Maka, tanpa disadari, fokus jemaat pun tertuju pada dunia ini. Seperti halnya Doa Yabes, yang mana orientasinya masih alam berpikir umat Perjanjian Lama, dan fokusnya masih pada berkat jasmani di bumi ini. “Berkat yang berlimpah” adalah berkat jasmani, sedangkan “yang diperluas” adalah tanah di bumi ini. Kemudian, mereka berdalih bahwa berkat yang dimaksud adalah berkat rohani, dan tanah yang diperluas adalah hal perluasan Kerajaan Allah. Jelas hal itu dipaksakan. Maka, kita tidak boleh mengambil Doa Yabes sebagai doa wajib umat Perjanjian Baru.

Ayat-ayat dalam Perjanjian Baru sudah cukup berlimpah. Doa Yabes diangkat ke permukaan, dinyanyikan, menjadi sebuah doa wajib pada akhir kebaktian yang mana mengarahkan jemaat pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Kalau kita memang mau berlimpah secara materi, maka kita harus kerja keras. Bukan salah memiliki berkat jasmani yang berlimpah, tetapi harus dari hasil kerja keras, bukan karena Allah memberikan kemudahan. Allah kita tidak akan melanggar hukum-Nya; hukum yang ditetapkan-Nya adalah apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Kita sekarang harus mulai mengerti bahwa fokus orang percaya adalah batin yang diubah terus untuk menjadi serupa dengan Yesus. Kalau kita mengalami proses perubahan itu dengan benar; mengalami proses keselamatan dengan benar, kita akan menjadi orang yang layak didudukkan sebagai mempelai bagi Kristus dan layak masuk sebagai anggota keluarga Kerajaan, sehingga kita pasti memiliki kerinduan yang kuat terhadap langit baru bumi baru; kita memiliki kerinduan yang kuat untuk pulang ke surga. Sekarang ini, hampir kita tidak menemukan orang yang betul-betul rindu ke surga.

Jika seseorang benar-benar telah mengalami proses pertumbuhan rohani dengan melakukan kehendak Bapa, hal itu merupakan sesuatu yang menembus batas. Bukan hanya menjadi orang baik, bukan hanya dipandang sebagai orang yang melakukan hukum secara santun, melainkan bisa berpikir seperti Allah berpikir sesuai Firman Tuhan; memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Orang-orang seperti ini baru bisa menghayati bahwa dunia ini bukan rumahnya, dan pasti tidak akan terikat lagi dengan keindahan dunia. Orang-orang seperti ini baru bisa memiliki kerinduan pulang ke surga. Seperti anak di bawah 10 tahun atau di bawah 15 tahun, ketika dijanjikan pergi ke tempat wisata, walaupun ia belum pergi ke tempat wisata tersebut, namun ia yakin akan diajak ke tempat wisata. Dan setiap hari selalu menanyakan kepada orangtuanya hari dan tanggal pergi ke sana, karena dia ingin cepat-cepat pergi ke tempat wisata itu.

Demikian pula seharusnya dengan kita, seperti yang Paulus katakan, “Aku merindukan pulang, aku merindukan bertemu dengan Tuhan; kalau disuruh memilih, aku memilih pulang ke surga.” Itu standarnya. Selanjutnya, dikatakan oleh Paulus bahwa hidup kita ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat. Dalam Filipi 1:22-24, Paulus menyaksikan: “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus—itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.” Jadi karena pekerjaan Tuhan yang diembannya, Paulus masih mau di bumi. Tapi kalau harus memilih, ia memilih untuk ke surga. Namun, ia memilih masih di bumi karena jemaat lebih memerlukannya untuk menjadi berkat.

Ironis, kita jarang menemukan orang-orang Kristen yang menembus batas ini. Makanya kalau ada pemberitaan Firman Tuhan mengenai langit baru bumi baru, ada orang yang mencibir dan menganggap itu guyonan lalu mencemooh. Padahal, langit baru bumi baru itu justru menjadi tujuan kita. Gereja-gereja harus sadar—khususnya para hamba Tuhan, pendeta—bahwa kita harus kembali kepada landasan Injil yang benar, yaitu kesucian hidup, fokus langit baru bumi baru, dan sepenuhnya hidup untuk Tuhan. Kalau kita melihat orang-orang di sekitar kita, banyak orang yang fokusnya masih di dunia hari ini. Pengusaha, pendidik, dosen, ilmuwan, doktor, bahkan para rohaniwan, tidak mengarahkan pada langit baru bumi baru. Mereka masih terjebak dengan berbagai ambisi pribadi hidup di bumi, dan tidak mengarahkan diri pada Tuhan dan Kerajaan-Nya. Jangan sampai kita berbuat hal yang sama.