Mendominasi Allah
28 October 2017

Hendaknya kita tidak turut terjebak dengan pengajaran banyak orang hari ini, yang mengajarkan seolah-olah dengan iman seseorang dapat mengatur Tuhan untuk melakukan mukjizat. Kalau Tuhan menghendaki agar mukjizat terjadi, maka kita harus meyakininya bagaimanapun mustahilnya keadaan tersebut. Sebenarnya, orang yang bertumbuh dalam persekutuan dengan Allah dan semakin mengerti kehendak Allah, pasti memiliki keyakinan yang sempurna terhadap Pribadi-Nya. Dengan demikian, mukjizat dapat terjadi sesuai dengan keinginan Allah. Orang percaya seperti ini sangat tidak asing terhadap mukjizat.

Iman bukanlah kekuatan pikiran yang dapat mengatur Tuhan seperti yang diajarkan banyak pendeta dan orang-orang yang mengaku hamba-hamba Tuhan. Hal tersebut bertentangan dengan pengertian iman yang benar. Iman adalah penurutan terhadap kehendak Allah. Seseorang yang beriman pasti hidup dalam pengaturan Tuhan. Selama ini telah terjadi kerancuan antara iman dan positive thinking (berpikir positif). Iman bukanlah positive thinking atau berpikir positif. Tetapi iman pasti berpikir positif menurut kehendak Tuhan. Dalam hal ini, ukuran positif atau kebaikannya bukanlah didasarkan pada keinginan manusia, apa yang dipandang sebagai kebutuhan, kesenangan, dan cita-cita pribadi, tetapi segala hal yang sesuai dengan kehendak Allah. Di luar kehendak Allah tidak ada sesuatu yang positif. Tuhan Yesus menyatakan bahwa tidak ada yang baik selain Allah saja (Mrk. 10:18). Di luar kehendak Allah berarti apa yang dipikirkan manusia, dan apa yang dipikirkan manusia berasal dari Iblis (Mat. 16:23).

Banyak orang berpikir, “apabila meyakini sesuatu akan terjadi, maka sesuatu tersebut pasti terjadi atau terkabul”. Itulah yang dipahami sebagai iman. Sebenarnya ini bukanlah iman, tetapi hanya sekadar berpikir positif. Pola iman yang salah tersebut, yaitu meyakini bahwa apa yang diingini pasti tercapai atau terwujud, adalah usaha untuk melakukan praktik eksploitasi terhadap Tuhan dan memanipulasi kuasa-Nya. Ini adalah tindakan orang-orang oportunis (orang-orang yang mencari keuntungan sendiri tanpa mempertimbangkan kepentingan pihak lain).

Di sini jelas dikesankan bahwa Tuhan dapat diatur oleh pikiran positif dan keyakinan manusia. Oleh keyakinan seseorang, maka pintu berkat surga pasti bisa terbuka dan apa pun yang diingini dapat terkabul. Tanpa disadari banyak orang Kristen, termasuk para pendeta atau hamba-hamba Tuhan, berpikir bahwa dengan “keyakinan” tersebut Tuhan bisa dibuat tidak berdaya sehingga Tuhan tidak dapat menolak keinginan dan permintaan manusia. Akhirnya, Tuhan menuruti apa saja yang diingini oleh manusia. Dari hal ini, mereka meyakini dapat menggerakkan Tuhan melakukan mukjizat. Tidak heran kalau ada seseorang mengadakan mukjizat, maka ia dianggap memiliki keunggulan, sebab ia berani memiliki keyakinan yang menggerakkan Allah melakukan mukjizat. Ini sebuah kesalahan yang sangat fatal. Dengan konsep ini, terjadi pembalikan. Bukan Tuhan yang mendominasi manusia, tetapi manusia mendominasi Tuhan.

Tidaklah salah meyakini sesuatu akan dapat dicapai atau terkabul, asal saja seseorang memiliki kepekaan terhadap kehendak dan rencana Allah. Sehingga sebenarnya keyakinan tersebut berasal dari “kehendak-Nya”. Tentu saja segala sesuatu yang sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya pasti mendatangkan kemuliaan Tuhan. Tetapi untuk menemukan kehendak Allah, seseorang harus memahami prinsip-prinsip kebenaran Injil sehingga mengerti kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna.

Berbicara mengenai iman, seringkali orang mendasarkan pandangannya pada Ibrani 11:1 yang berbunyi: Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Sesuatu yang termuat di ayat ini sering diisi dengan bermacam-macam isian. Sesuatu itu bisa diartikan sebagai kesembuhan, jalan keluar dari problem ekonomi, sukses dalam karir atau studi, jodoh, dan lain sebagainya. Padahal yang dimaksud dengan sesuatu tersebut adalah “kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah sendiri”. Jadi kalau seseorang memiliki iman yang benar, maka ia akan menujukan pikirannya kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya. Seharusnya, obyek iman adalah sesuatu yang rohani, yaitu Tuhan sendiri dan Kerajaan-Nya, bukan mukjizat untuk pemenuhan kebutuhan jasmani di bumi hari ini.