Menderita Bersama Tuhan
23 February 2021

Play Audio

Setiap orang percaya yang ingin disempurnakan seperti Yesus harus mengalami apa yang Yesus alami. Jika diilustrasikan dengan perlombaan kelas dunia, maka seseorang yang hendak memenangkan perlombaan tersebut harus memiliki kualitas kelas dunia. Jika seseorang ingin menjadi seperti Yesus, ia harus mengalami seperti yang dialami Yesus. Sama halnya dengan Paulus ketika ia berkata, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.” Paulus menyadari bahwa panggilan hidup seperti Yesus berarti turut serta dalam kematian-Nya. Seseorang yang hendak mengikut Tuhan Yesus harus mengalami apa yang Ia alami, sampai tahap kematian dari seluruh keinginan. Oleh karenanya, jika Tuhan diludahi, dipukul, difitnah, maka tidak heran apabila kita pun harus mempersiapkan diri menghadapi semua itu dari orang lain yang kita temui.

Tuhan mengajarkan kita apa yang Dia sendiri jalani. Di sinilah letak keagungan dari kekristenan, yakni kita dapat menjalani apa yang Tuhan telah jalani. Firman Tuhan mengatakan begini, “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu (Mat. 5:38-39). Makna dari teks ini adalah jikalau seseorang berbuat kejahatan, kita tidak boleh membalasnya dengan kejahatan. Sebaliknya, kita dikehendaki untuk mengampuninya. Ketika seseorang mengasihi sesamanya dengan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, maka Tuhan katakan ia memancarkan watak anak Allah. Tuhan berkata, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga,” (Mat. 5:44-45). Jadi, keberadaan sebagai anak Bapa ditunjukkan dengan karakter yang sama dengan Tuhan Yesus, yakni mengasihi sesama dengan mengampuni.

Akan tetapi, suatu hal yang tidak dapat dibantah adalah mengampuni orang bukan saja bisa dilakukan oleh orang Kristen. Orang-orang yang beragama lain (misalnya filosofi suatu agama dari dataran Tiongkok) juga mengajarkan pengampunan, bahkan tidak membalas kejahatan musuh dengan kejahatan. Dalam agama Kejawen juga terdapat filosofi serupa yang mengajarkan penganutnya untuk mengalah. Filosofinya adalah ngalah luhur wekasani, yang artinya mengalah untuk menang. Hal ini menunjukkan bahwa di luar Kristen terdapat banyak pandangan yang luhur. Oleh karenanya, kekristenan seharusnya memiliki kebenaran yang lebih dari itu karena kita memiliki standar untuk menjadi anak-anak Allah. Namun faktanya, tidak sedikit orang Kristen sulit mengampuni orang, bahkan ada yang sengaja melukai, menyakiti, merusak nama baik orang, dan memfitnah.

Sebab itu Tuhan berkata, “kamu juga harus mengampuni.” Tuhan menujukan ini kepada orang percaya sebagai hal yang harus diperjuangkan dengan sungguh. Tuhan tidak membuat seseorang dapat mengasihi atau mengampuni. Seakan-akan ketika menerima Tuhan Yesus, orang percaya langsung bisa mengasihi orang lain karena diubah hatinya oleh Tuhan. Kita harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengasihi setiap orang, baik mereka yang berpihak atau berlawanan dengan kita. Bagi mereka yang berlawanan dengan kita, hendaknya setiap kita mampu mengampuni mereka. Hal ini kita lakukan karena kesadaran kita sebagai anak-anak Allah yang harus mencerminkan pribadi Bapa kita. Jika kita tidak mengampuni orang lain, kita akhirnya tidak berkeadaan sebagai anak.

Dengan demikian, berkualitas seperti Yesus adalah sebuah kemutlakan. Kita harus bersedia mengalami apa yang telah dialami oleh-Nya. Mengalami apa yang dialami Tuhan berarti bersedia masuk dalam penderitaan untuk menjadi serupa dengan Dia. Paulus berkata, “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia” (Rm. 8:17). Orang-orang yang telah dibenarkan oleh Tuhan diberi kesempatan untuk menjadi anak Bapa. Mereka yang berkesempatan menjadi anak Bapa ini adalah pewaris janji Allah dalam kekekalan. Namun, teks ini mengindikasikan bahwa hal tersebut tidak terjadi secara otomatis. Mereka yang dipanggil menjadi anak harus mengalami hal yang sama dengan yang dihadapi oleh Yesus, yakni masuk dalam penderitaan. Hanya dengan masuk dalam penderitaanlah setiap orang di dalam Tuhan dapat dimuliakan bersama dengan-Nya. Dalam konteks pengampunan, penderitaan dapat diartikan sebagai perasaan sakit atau tidak nyaman ketika mengampuni seseorang tanpa syarat. Hal ini harus kita gumuli dan hidupi dengan serius agar kita mengambil bagian dalam penderitaan bersama dengan Tuhan.