Mendengar Suara Allah
23 June 2020

Play Audio Version

Banyak orang Kristen berpikir, dengan pergi ke gereja, mereka pasti mendengar suara Allah melalui khotbah pendeta di mimbar gereja. Biasanya, jemaat sangat yakin bahwa semua khotbah adalah suara Allah untuk jemaat yang datang ke gereja. Jadi, kalau tidak ke gereja, mereka merasa tidak mendengar suara Allah. Itulah sebabnya, acara khotbah sering disebut sebagai pemberitaan Firman Allah. Tidak jarang sebelum khotbah, jemaat menyanyi dengan memuat syair: Berbicaralah kepada kami, ya, Allah. Jemaat juga memandang bahwa pendeta yang berdiri di mimbar selalu mewakili Allah sebagai jurubicara-Nya untuk menyampaikan teguran, peringatan-peringatan, dan nasihat-nasihat-Nya. Itulah yang membuat jemaat mudah memercayai seorang pembicara yang berbicara atas nama Tuhan dalam menyampaikan segala sesuatu yang dipandang, juga selalu sesuai dengan Alkitab, tentu karena menggunakan ayat-ayat Alkitab sebagai landasannya, walau penafsiran pendeta tersebut belum tentu benar.

Apakah setiap khotbah pendeta selalu suara Allah? Belum tentu. Khotbah pendeta belum tentu suara Allah atau memuat nasihat Allah. Khotbah yang didengar di gereja sering hanya sebuah paparan pandangan seorang teolog, apakah pandangannya sendiri atau memaparkan pandangan orang lain, seperti pandangan para teolog masa lalu. Tidak jarang, khotbah pendeta di gereja hanya berisi paparan pikiran manusia yang tidak membawa perubahan dalam kehidupan jemaat. Di gereja-gereja tertentu yang pembicaranya sering mengatasnamakan Tuhan, nama Tuhan sering diobral begitu murahan. Jemaat yang tulus hati dengan mudah tertipu atau terperdaya

Pertanyaannya: Apakah mimbar gereja bukan tempat Allah berbicara? Tentu saja itu sarana yang Allah gunakan untuk berbicara kepada umat. Tetapi masalahnya adalah apakah si pembicara benar-benar tinggal di dalam Tuhan, dan Dia di dalam diri pembicara? Apakah pembicara benar-benar hidup di hadirat Allah dengan benar sehingga dipercayai menjadi jurubicara Allah? Dengan fakta bahwa Allah membiarkan lalang dan gandum tumbuh bersama-sama di dalam gereja, maka hal ini mengindikasikan bahwa Allah membiarkan adanya penyesat-penyesat di dalam gereja (Mat. 13:34-20). Terkait dengan hal ini, Yesus berkata: “Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya” (Mat. 18:7).

Untuk mengaku sebagai hamba Tuhan yang berbicara atas nama-Nya, bukan sesuatu yang sulit. Asal bisa masuk atau mengikuti pendidikan di seminari atau sekolah tinggi teologi, seseorang pasti bisa berdiri di mimbar dan berbicara mengenai Tuhan. Tetapi, apakah ia berbicara dalam tuntunan Roh Kudus untuk menyampaikan isi hati Tuhan, sangat ditentukan oleh kualitas hidup orang tersebut dalam persekutuannya dengan Allah. Seorang yang benar-benar hidup dalam kesucian, tidak mencintai dunia, atau yang kebahagiaannya hanya pada Tuhan, hidup dalam doa yang memadai serta dilengkapi dengan pemahaman teologi yang benar, adalah yang menjadi jurubicara Allah.

Dewasa ini, banyak pendeta sangat cakap berbicara mengenai teologi. Hal ini tidak sulit diperoleh atau dilakukan kalau mereka belajar teologi di seminari atau sekolah tinggi teologi. Kecakapan seseorang berbicara mengenai teologi bukanlah jaminan atau ciri bahwa ia seorang hamba Tuhan yang benar dan pantas menjadi jurubicara Tuhan. Sangatlah mudah untuk berkarier menjadi pembicara teologi guna memperoleh nafkah dengan meniti karier dari seminari atau sekolah tinggi teologi. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak mudah percaya kepada mereka. Tentu tidak semua mereka hamba uang atau hamba karier untuk mencari popularitas.

Itulah sebabnya, persiapan seorang hamba Tuhan bukan hanya mengikuti rangkaian perkuliahan sehingga menyandang gelar sarjana, magister, atau doktor teologi, juga tidak cukup selama beberapa hari sebelum berkhotbah mengumpulkan naskah dari berbagai sumber, tetapi kehidupan setiap saat dalam perkenanan Allah. Jangan merasa sudah mempersiapkan diri sebagai pembicara hanya karena telah menyusun khotbah dari ruang perpustakaan buku, tetapi dari perpustakaan kehidupan dimana seorang pembicara memiliki kualitas diri seperti Yesus.

Di lain pihak, banyak pendeta yang memang tidak berbicara mengenai Tuhan secara akademis atau dalam koridor akademis, tetapi lebih mengemukakan pengalaman pribadi yang objektivitasnya perlu dipertanyakan. Mereka mudah sekali menggunakan nama Tuhan, seakan-akan mereka begitu akrab dengan Tuhan sehingga dipercayai untuk menyampaikan pesan-pesan-Nya. Tidak jarang, pesan-pesan atau suara Tuhan yang mereka kemukakan sangat naif, tidak menunjukkan keagungan kebesaran Allah yang Mahaagung. Kita harus berhati-hati menyikapi mereka. Kepada pembicara kelompok ini, jangan merasa puas telah berdoa lama di ruang doa atau menara doa, tetapi juga harus menggunakan nalar secara optimal dalam kejujuran untuk memahami kebenaran Alkitab secara komprehensif berdasarkan kaidah-kaidah eksegesis dan hermeneutik yang benar, serta kehidupan yang tidak dikuasai uang atau ambisi dihormati manusia. Ruang Doa dan Menara Doa bukanlah alat pembenaran bahwa seseorang sudah berjumpa dengan Allah. Perjumpaan dengan Allah juga harus dalam kehidup setiap saat. Inilah hidup di hadapan Allah.