Mendahulukan Kerajaan Allah
08 October 2019

Untuk terselenggaranya kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, Roh Kudus dimateraikan dalam kehidupan orang percaya agar dapat mewujudkannya. Roh Kudus inilah yang menuntun kehidupan orang percaya agar dapat mencapainya. Tuntunan ini membawa orang percaya kepada pengalaman kelahiran baru. Ini menunjuk titik awal dari kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Sampai taraf ini, seseorang benar-benar dapat mengenakan kodrat ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Tanpa kelahiran baru, seseorang tidak akan pernah memiliki kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Inilah masalah pelik dewasa ini. Banyak orang Kristen kelihatannya sudah bertobat, tetapi sebenarnya pertobatannya tidak signifikan mengubah kehidupannya untuk mengalami kelahiran baru. Pertobatan seperti itu adalah pertobatan semu. Pertobatan haruslah proses setiap hari dimana seseorang meninggalkan cara hidupnya yang lama sampai pada pengalaman konkret kelahiran baru.

Kekristenan bukan sekadar agama, melainkan jalan hidup yang hanya bisa dikenakan oleh segelintir orang yang benar-benar mengalami kelahiran baru sehingga mengenakan kodrat ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah, yang memungkinkan seseorang sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Orang-orang seperti ini adalah mereka yang layak disebut anak-anak Allah dan yang pasti dapat memiliki kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Mereka adalah orang-orang yang tidak berharap kebahagiaan hidup dari dunia ini. Ketika seseorang tidak berharap kebahagiaan hidup di dunia, maka barulah dapat menikmati damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal.

Selama orang berpikir dan masih berharap bahwa dunia bisa memberikan hidup yang lengkap, utuh, bahagia, aman, dan nyaman, maka ia tidak akan pernah mengenakan kekristenan yang sejati. Kekristenan yang dikenakan pasti palsu. Tentu saja orang-orang seperti ini tidak dapat memiliki kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Oleh kurban Yesus di kayu salib, orang percaya dapat dibebaskan dari cara hidup yang sia-sia yang diwarisi dari nenek moyang, yaitu kehidupan yang tidak mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah (1Ptr. 1:18). Itulah sebabnya lebih dari menggumuli untuk mencapai segala hal yang diharapkan dapat membahagiakan diri dari dunia ini, orang percaya harus berjuang untuk mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Ini berarti perjuangan untuk hidup dalam ketaatan kepada Allah Bapa dan menjadi kudus dalam seluruh kehidupannya (1Ptr. 1: 14-16).

Dalam Matius 6:33 Yesus mengatakan agar orang percaya mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Untuk memahami makna orisinal ayat ini, harus terlebih dahulu melihat konteks di mana ayat ini terletak. Konteks ayat ini adalah perkataan Tuhan Yesus mengenai kekhawatiran. Tuhan mengajarkan agar orang percaya tidak boleh memiliki kekhawatiran yang negatif, sehingga usaha memenuhi kebutuhan jasmani mengalahkan atau melampaui panggilan untuk mengumpulkan harta di surga. Mengumpulkan harta di surga sama maknanya dengan mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah harus dipahami sebagai proses bertahap yang memiliki pengertian paralel dengan mengumpulkan harta di surga. Ini berarti perjalanan kekristenan adalah perjalanan bertahap, bukan sesuatu yang bersifat instan. Dalam hal ini, dibutuhkan ketekunan orang percaya dalam menjalani kekristenannya. Kekristenan bukan perjalanan waktu yang hanya satu sampai dua tahun, bahkan lebih dari belasan atau puluhan tahun; tetapi sepanjang umur hidup dalam pergumulan dan setiap saat.

Mengumpulkan harta di surga, artinya melakukan segala sesuatu yang menyenangkan hati Bapa melalui setiap kata yang diucapkan, pilihan, keputusan, dan semua tindakan. Semua yang menyenangkan hati Bapa seakan-akan diarsipkan menjadi akumulasi dari kekayaan kekal yang dimiliki seseorang. Kalau seseorang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah—yang artinya hidup dalam pemerintahan Allah, yaitu selalu melakukan segala sesuatu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah—maka irama hidup seperti ini adalah irama mengumpulkan harta di surga. Dengan demikian, hanya orang percaya yang memiliki kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, yang dalam kehidupannya mengumpulkan harta di surga. Orang percaya harus menerima hal ini sebagai satu-satunya agenda dalam hidup.

Orang percaya tidak boleh memfokuskan diri pada objek lain, selain mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah atau yang sama dengan mendahulukan Kerajaan Surga. Kerajaan Surga memiliki pengertian: pemerintahan Allah hari ini melalui Roh Kudus, dan perwujudannya secara fisik nanti di langit baru dan bumi yang baru. Kalau fokus hidup orang percaya hanya pada kehidupan hari ini dan kelangsungannya untuk pemenuhan kebutuhan jasmani, maka berarti tidak mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Di sini letak perbedaan mencolok antara orang percaya dan mereka yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus.