Menanggulangi Kekurangan Dan Kelemahan
18 May 2020

Play Audio Version

Pergumulan hidup yang Allah izinkan terjadi dalam hidup kita, pasti sesuai dengan usia rohani dan porsi yang mampu kita tanggung. Allah tidak akan mengizinkan pencobaan melampaui kekuatan kita. Itulah sebabnya, setiap orang pasti memiliki pergumulan masing-masing yang tidak sama. Hendaknya, kita tidak meratapi keadaan ketika membandingkan bahwa pencobaan yang kita alami terasa sangat berat, sementara pencobaan dan pergumulan yang dialami orang lain kelihatannya lebih ringan. Mestinya, kita tidak boleh membandingkan keadaan kita dengan orang lain. Kita tidak tahu, bisa saja pencobaan yang dialami orang lain jauh lebih berat dari yang kita alami. Kita percaya dalam kebijaksanaan-Nya, Allah menuntun kita kepada keadaan dimana kita dapat mengerti kesalahan yang kita lakukan dan segala kekurangan-kekurangan kita.

Setiap kita mengalami pembentukan yang khusus, yang tidak sama dengan yang dialami oleh siapa pun di muka bumi ini. Hal ini sesuai dengan keberadaan kepribadian, watak, atau karakter kita. Ibarat sebuah kurikulum seperti yang dikenal dalam dunia pendidikan, setiap orang memiliki kurikulumnya sendiri yang dirancang oleh Allah. Allah sebagai Arsitek jiwa yang sempurna, mengerti bagaimana menggarap kita melalui setiap kejadian agar kita menjadi manusia seperti yang Dia kehendaki. Penggarapan tersebut untuk menanggulangi kekurangan dan kelemahan-kelemahan dalam watak atau karakter kita. Penanggulangan tersebut dapat menghasilkan suatu pribadi yang mulia dan agung, sehingga kita layak disebut sebagai anak-anak Allah. Oleh sebab itu, kita harus memperkarakan kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan kita.

Kalau kita memperkarakan kekurangan dan kelemahan kita di hadapan Allah, maka Allah pasti memberi tahu kekurangan dan kelemahan kita tersebut. Allah tidak mungkin tidak memberi tahu kepada kita kebiasaan, sikap, kelakuan kita yang tidak berkenan di hadapan-Nya. Masalahnya adalah apakah kita serius memperkarakan kekurangan dan kelemahan kita, guna mengalami pembaruan? Banyak orang Kristen tidak pernah mempersoalkan dengan serius kekurangan dan kelemahannya di hadapan Allah. Mereka tidak memperkarakan hal bagaimana seharusnya hidup sebagai anak-anak Allah. Ini adalah orang-orang yang tidak haus dan lapar akan kebenaran. Tentu saja Allah tidak akan memuaskan mereka, sebab hanya orang yang haus dan lapar akan kebenaran yang akan dipuaskan oleh Allah (Mat. 5:6). Orang-orang Kristen yang tidak haus dan lapar akan kebenaran—seperti sebagian masyarakat Barat yang tadinya Kristen tetapi sekarang meninggalkan gereja—adalah orang-orang yang tidak mengerti keselamatan, sehingga mereka tidak mengalami dan memiliki keselamatan.

Biasanya, orang-orang Kristen seperti di atas ini berpikir bahwa yang penting secara nalar sudah merasa percaya kepada Yesus, maka mereka dapat terhindar dari neraka dan diperkenan masuk surga, ini berarti sudah selamat. Ditambah lagi, pemahaman yang salah mengenai pengertian bahwa keselamatan dapat diperoleh seseorang bukan karena perbuatan baik. Mereka merasa sudah memiliki kepastian masuk surga tanpa berusaha untuk menjadi manusia seperti yang dikehendaki oleh Allah. Sehingga, mereka tidak merasa perlu memperkarakan keadaan mereka di hadapan Allah. Mereka tidak mengerti apa yang dimaksud dengan “selamat” atau “keselamatan” itu. Sebenarnya, keselamatan bukan sekadar terhindar dari neraka dan diperkenan masuk surga. Keselamatan adalah usaha Allah yang direspons dengan benar oleh manusia agar atau sehingga manusia dapat dikembalikan ke rancangan Allah semula. Untuk ini, dibutuhkan perjuangan yang sungguh-sungguh dalam kehidupan setiap orang percaya.

Perbuatan sebaik apa pun, tidak akan membuat manusia mengalami dan memiliki keselamatan. Hanya oleh kurban Yesus di kayu salib tersedia keselamatan. Tetapi selanjutnya, justru karena seseorang menerima keselamatan, ia harus menjadi murid Yesus (Mat. 28:18-20), ia juga harus mengikuti perlombaan yang diwajibkan yaitu menjadi anak-anak Allah yang sah (Yun. Huios) agar mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:1-10) atau dapat mengenakan kodrat ilahi (2Ptr. 1:3-4). Pada dasarnya, keselamatan adalah proses dimana seseorang mengalami perubahan kodrat. Bukan hanya menjadi baik, melainkan juga mengalami perubahan yang sangat mendasar, yaitu naturnya. Dari hal ini, seseorang bisa memiliki kesempurnaan seperti Bapa (Mat. 5:48) atau keserupaan dengan Yesus (Rm. 8:28-29). Dengan mengerti kebenaran ini, seseorang akan mengisi tahun-tahun umur hidupnya untuk memperoleh pembentukan Allah, guna menjadi pribadi yang layak disebut sebagai anak-anak Allah yang sah (huios). Orang percaya yang memberi diri hidup dalam proses ini sama dengan mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12-13), yaitu memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7). Jika proses pembentukan tersebut berlangsung dan kita meresponsnya dengan baik, keselamatan dapat berlangsung dan dapat kita milikinya.