Menang Sebagai Anak-Anak Allah
28 August 2019

Perlombaan yang diwajibkan bagi orang percaya sesungguhnya adalah pergumulan untuk menjadi anak-anak Allah yang sah (Ibr. 12:1-10). Ini adalah tatanan yang tidak boleh dan memang tidak bisa dihindari oleh orang percaya. Untuk memiliki kemenangan seperti Yesus harus menerima didikan dari Bapa. Itulah sebabnya Bapa mendidik orang percaya agar orang percaya menjadi anak-anak Allah yang mengambil bagian dalam kekudusan-Nya (1Ptr. 1:16). Seperti bapak di dunia ini mendidik anak-anaknya, demikian pula Bapa di surga mendidik orang percaya. Pendidikan terhadap setiap orang percaya adalah hal yang mutlak dialami. Jika seseorang tidak mengalami pendidikan ini, maka ia bukanlah anak yang sah. Orang percaya harus menerima kenyataan panggilan ini, bahwa sepanjang umur hidupnya hanyalah sebuah proses pendidikan. Untuk ini seseorang harus melepaskan diri dari segala ikatan, artinya tidak ada sesuatu yang boleh dianggap berharga. Berkenaan dengan hal ini Tuhan Yesus berkata bahwa tiap-tiap orang yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid Tuhan Yesus (Luk. 14:33).

Ketika Bapa berkata bahwa Tuhan Yesus adalah Anak yang berkenan, Tuhan Yesus belum menjadi pemenang. Ia memang berkenan atau menyenangkan hati Bapa karena rela meninggalkan kemuliaan, tetapi Ia belum sampai pada kesempurnaan dalam menunaikan tugas Bapa. Demi tugas dari Bapa, Ia menganggap kemuliaan yang dimiliki-Nya tidak berharga dibanding dengan ketaatan-Nya kepada Bapa di surga. Ia meninggalkan kemuliaan yang telah dimiliki-Nya sebelum dunia dijadikan dengan mengosongkan diri dan dalam segala hal disamakan dengan manusia. Setelah usia 30 tahun, Ia bersedia merendahkan diri disamakan dengan orang berdosa, kemudian dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Itulah sebabnya Ia memperoleh pengakuan bahwa diri-Nya adalah Anak yang berkenan.

Puncak perjuangan-Nya adalah ketika Ia disiksa, dihina, dan dipermalukan di depan umum, tetapi Ia tetap tekun menanggung bantahan atau perlawanan atau pemberontakan dari manusia yang sebenarnya adalah ciptaan dan milik-Nya. Ia adalah Anak Tunggal Allah Bapa yang berkenan, tetapi kalau Ia tidak menjadi pemenang, Ia akan terpisah dari Bapa di surga. Itulah sebabnya dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut. Hanya karena kesalehan-Nya-lah Ia diselamatkan dari maut (Ibr. 5:7-9). Jika Tuhan Yesus tidak taat kepada Bapa dan tidak menghormati Bapa, maka Ia dapat terpisah dari Allah Bapa selama-lamanya.

Perlombaan untuk menjadi anak-anak Allah yang sah harus dapat kita mengerti dan terima dengan segenap hati, kalau kita mendalami seluruh ayat dalam Ibrani 12. Perjuangan ini harus menjadi satu-satunya perjuangan atau seperti perlombaan yang diwajibkan. Dalam Ibrani 12 ini terdapat kebenaran penting berkenaan dengan hal ini, bahwa kita harus memandang kepada Tuhan Yesus, artinya meneladani ketekunan-Nya untuk menjadi pemenang. Dialah satu-satunya model Anak Allah yang harus kita teladani. Diwajibkan artinya tidak bisa tidak kita harus mengikutinya. Untuk menjadikan ini wajib bagi kita, kita tidak boleh menjadikan sesuatu yang lain sebagai wajib. Dengan demikian hanya satu yang mutlak harus kita capai, yaitu menjadi anak-anak Allah. Semua hal yang kita lakukan haruslah bermuara pada perlombaan tersebut. Hanya dengan cara ini kita memuliakan Tuhan, yaitu ketika kita menganggap dan memperlakukan Tuhan sebagai berharga. Hal inilah yang dilakukan oleh Abraham di seluruh perjalanan hidupnya, ia hanya memenuhi panggilan untuk menemukan negeri yang Allah janjikan. Inilah satu-satunya perlombaan yang diikuti.

Untuk menjadi pemenang seperti Yesus harus ada perjuangan sampai akhir hayat, seperti yang disaksikan oleh Paulus. Itulah sebabnya Paulus mengatakan: Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! (1Kor. 9:27). Pernyataan Paulus ini hendak menunjukkan betapa sulitnya untuk menjadi pemenang. Dalam tulisannya yang lain Paulus mengatakan bahwa ia berusaha menjadi berkenan kepada Allah. Dari pernyataan Paulus ini menunjukkan bahwa anugerah yang diperolehnya membuat ia bekerja keras untuk berkenan kepada Tuhan. Keberkenanan di hadapan Tuhan harus diperjuangkan sebagai sikap menghargai anugerah dan kasih karunia yang Tuhan Yesus perjuangkan di kayu salib, hal ini tidak secara otomatis dapat dicapainya. Ini adalah tatanan Allah yang harus dipenuhi.