Menabur Yang Benar
11 August 2019

Satu hal pasti yang harus dipahami dan disikapi dengan serius adalah bahwa Tuhan menghendaki agar kita menabur di dalam Roh, maksudnya mengikuti kehendak Allah dengan sempurna. Menabur dalam roh artinya hidup sesuai dengan kehendak Allah dengan sempurna, yang karenanya maka tentu saja akan menghasilkan buah Roh (Gal. 5:22). Tetapi sebaliknya, seseorang yang menabur dalam daging, tentu menghasilkan buah-buah daging. Orang yang menghasilkan buah-buah daging dalam hidupnya tidak akan memperoleh bagian dalam Kerajaan Allah (Gal. 5:19-21). Kebenaran firman Tuhan dan hukum-hukum-Nya sebenarnya membawa manusia kepada kehidupan yang berkelimpahan. Hukum tabur tuai ini hendaknya tidak dikaitkan dengan persembahan kolekte dalam gereja. Sebenarnya konteks hukum tabur tuai tidak ada kaitannya dengan persembahan uang. Kalau dihubungkan, maka terjadi kesalahan yang cukup fatal.

Hendaknya kita tidak mengaitkan hukum tabur tuai dengan uang persembahan di gereja. Bila kita menganalisa pesan pembicara di mimbar-mimbar hari-hari ini, hukum “tabur tuai” ini telah diperlakukan semena-mena. Biasanya hukum tabur tuai yang direlasikan dengan persembahan uang atau kolekte dihubungkan pula dengan Matius 12:1-8, mengenai pelipatgandaan 100, 60, dan 30 kali. Diajarkan kepada jemaat bahwa mereka yang memberi kolekte akan memperoleh balasan berlipat kali ganda. Padahal perumpamaan tersebut sebenarnya tidak berbicara mengenai persembahan uang sama sekali. Perumpamaan tersebut berbicara mengenai benih Firman yang ditabur, bukan benih uang. Penyesatan ini mengakibatkan orang Kristen tidak bertanggung jawab secara proporsional dan fokus perhatiannya bukan pada rencana penyelamatan dari Allah. Mereka terperangkap dalam keduniawian dalam sikap oportunis, yaitu memanfaatkan berkat jasmani atau berkat materi dari Tuhan Tuhan untuk kepentingan duniawi. Sebagai akibatnya pula mereka jatuh ke dalam tangan kuasa kegelapan, sehingga rencana Allah mengembalikan manusia kepada rancangan semula-Nya gagal.

Manusia adalah makhluk yang diperangkap atau dibatasi oleh hukum-hukum kehidupan. Salah satu hukum kehidupan adalah bahwa apa yang dialami manusia tidak bisa berdiri sendiri-sendiri, karena masa kini atau apa yang kita alami sekarang ini mengandung masa lalu atau akibat dari apa yang dilakukan orang tua kita dan yang kita lakukan. Selanjutnya, apa yang akan kita alami serta keturunan atau anak cucu kita alami nanti di hari esok ditentukan oleh apa yang kita lakukan hari ini. Hukum kehidupan ini tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Adalah bijaksana kalau kita tunduk kepada tatanan Tuhan ini, bahwa apa yang kita tabur, kita juga tuai. Kita harus menerimanya tanpa membantah, sehingga kita dapat bersikap antisipatif menyongsong hari esok secara proporsional.

Hawa tidak sungguh-sungguh memerhatikan apa yang dikatakan Tuhan “bahwa ia akan mati”, sehingga dengan sembrono Hawa memetik buah yang dilarang Tuhan. Hal ini sama dengan Esau yang menukar hak kesulungannya dengan sepiring makanan. Daud tidak pernah mempertimbangkan dengan serius bahwa tindakannya mengambil istri Uria dengan membunuh prajurit setia itu berbuntut bencana dalam keluarganya. Gehazi tidak berhitung dengan benar ketika menipu Naaman dengan mengambil persembahan yang mestinya diberikan kepada nabi Elisa, sehingga dirinya dan keturunannya mengidap kusta.

Demikian pula Yudas tidak mempertimbangkan dengan serius bahwa akhirnya ia kehilangan hak istimewanya menjadi pengiring Tuhan Yesus. Ia mati bunuh diri hanya karena 30 keping perak, satu jumlah yang sangat kecil. Apa yang dialami bangsa Israel selama hampir 2000 tahun tercerai-berai dari negeri leluhurnya, bahkan pedang mengejar mereka (6 juta orang Yahudi mati pada perang dunia kedua selama 7 tahun, yaitu pada tahun 1939-1945) adalah gema dari keputusan bodoh nenek moyang mereka yang tidak tunduk kepada Yahweh Allah Israel dan pernyataan mereka bahwa mereka bersedia memikul akibat dari keinginan mereka menyalibkan Tuhan Yesus. Dimana mereka berkata: “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami” (Mat. 27:25).

Dengan kenyataan ini, maka kita harus memerhatikan apa yang ditulis Paulus bahwa Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya (Gal. 6:7). Dalam teks lain dikatakan bahwa Allah tidak bisa diolok-olok. Banyak manusia hari ini yang mengolok-olok Tuhan dengan perbuatannya, dan mereka berpikir bahwa Tuhan tidak berdaya bertindak atas mereka, sebab Tuhan dianggap tidak ada (2Ptr. 3:1-7). Suatu hari mereka akan menuai apa yang mereka telah tabur.