Mempersiapkan Kedatangan Tuhan
03 November 2019

Dalam Wahyu 6:11 tertulis bahwa kedatangan Tuhan Yesus menunggu genapnya atau lengkapnya “jumlah orang yang kehilangan nyawa karena dibunuh.” Kata “dibunuh” dalam teks aslinya adalah apokteino (ἀποκτείνω). Kata ini secara metafora juga berarti memadamkan (to extinguish) atau menghapuskan (abolish) kehidupan atau nyawa. Dalam teks aslinya, kata “nyawa” adalah terjemahan dari kata psukhe (ψυχή) yang menunjuk pada pikiran, perasaan, dan keinginan atau kehendak. Kata “dibunuh” tidak harus berkaitan dengan pembunuhan secara fisik. Kalau “pembunuhan” hanya dikaitkan dengan fisik manusia, berarti mereka yang bisa mengalahkan Iblis hanyalah yang mengalami aniaya fisik. Padahal, Firman Tuhan mengatakan bahwa yang bisa mengalahkan Iblis adalah “darah Anak Domba Allah, dan oleh perkataan kesaksian mereka, karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut” (Why. 12:11). Mengalahkan Iblis berarti Iblis atau Lusifer beserta pengikutnya dapat dibuang ke dalam kegelapan abadi.

Orang yang memiliki “perkataan kesaksian” adalah orang yang benar-benar telah mengalami suatu perjuangan sungguh-sungguh, sampai tidak menyayangkan nyawanya. Tidak menyayangkan nyawa juga berarti tidak memiliki kesenangan atau keinginan dunia, kecuali melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Hal ini sama dengan berusaha menjadi corpus delicti. Sejatinya, inilah isi dan kualitas kehidupan Tuhan Yesus (Yoh. 4:34). Dalam hal ini, dapat dimengerti mengapa Tuhan Yesus memberi syarat kepada pengikut-Nya untuk tidak menyayangkan nyawa jika seseorang mau menjadi pengikut yang benar (Mat. 10:39; 16:25). Dalam jiwa, ada berbagai keinginan dan hasrat. Di dalam jiwa, ada pula berbagai pengertian dan filosofi. Oleh sebab itu, seorang yang rela kehilangan nyawa harus rela mengubah filosofi hidupnya. Perubahan ini bisa terjadi melalui pembaruan pikiran oleh kebenaran (Rm. 12:2).

Orang-orang yang tidak mengasihi nyawa bukan hanya menunjuk pada mereka yang mengalami aniaya fisik dan dibunuh secara fisik, melainkan juga mereka yang rela tidak menikmati dunia, tidak seperti anak-anak dunia yang tenggelam dengan percintaan dunia. Orang-orang yang tidak menyayangkan nyawa adalah orang-orang yang rela menderita bersama-sama dengan Tuhan Yesus demi melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan Bapa. Mereka adalah orang-orang yang menerima baptisan yang sama seperti yang Yesus terima, yaitu penderitaan (Mrk. 10:38-39). Dengan hal tersebut, jelas sekali bahwa Tuhan menghendaki orang-orang percaya memiliki fokus hidup yang benar dan pelayanan orang percaya adalah berusaha menjadi pribadi yang tidak menyayangkan nyawa, artinya rela meninggalkan kesenangan diri sendiri. Selanjutnya, pelayanan orang percaya adalah juga menolong orang lain untuk memiliki kualitas hidup yang sama.

Dengan kehidupan yang rela kehilangan nyawa,—yang juga berarti hidup tidak bercacat dan tidak bercela—orang percaya menjadi corpus delicti. Apabila jumlah corpus delicti memenuhi kuota atau genap, kedatangan Tuhan Yesus dapat terjadi atau berlangsung. Hal ini dapat mempercepat kedatangan Tuhan atau dihukumnya Iblis dan semua pengikutnya. Dalam 2 Petrus 3:11-13 tertulis, “Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.”

Dalam ayat-ayat tersebut di atas terdapat kalimat bahwa orang percaya dapat “mempercepat kedatangan Tuhan.” Kata “mempercepat” dalam teks aslinya adalah speudo (σπεύδω). Kata ini juga bisa diartikan sebagai membuat tergesa-gesa (to haste atau make haste). Itulah sebabnya Iblis dan pengikutnya berusaha menghambat terlaksananya eksekusi hukuman atas dirinya dan para pengikutnya. Dengan cara bagaimanakah mereka menghambat hari Allah itu? Dengan cara mencegah orang percaya memiliki kehidupan yang saleh tidak bercacat dan tidak bercela (2Ptr. 3:11,14). Sulit dimengerti, tetapi demikian adanya, bahwa kedatangan Tuhan Yesus untuk mengakhiri sejarah dunia bisa dipercepat oleh orang-orang percaya. Dengan demikian, terkesan bahwa orang percaya dilibatkan dalam penentuan waktu diakhirinya sejarah dunia. Oleh sebab itu, semua orang percaya harus menyadari panggilannya untuk serupa dengan Yesus atau menjadi corpus delicti. Inilah panggilan satu-satunya yang harus ditunaikan orang percaya sampai selesai dengan sempurna.