Memiliki Diri Sendiri
26 September 2018

Kalau seseorang melepaskan hak, berarti tidak berhak pula memiliki kesenangan apapun selain Tuhan. Sehingga kesenangannya adalah melakukan segala sesuatu yang diinginkan oleh Allah yang memiliki hidup ini. Hal ini sejajar dengan apa yang dialami atau dilakukan oleh Tuhan Yesus. Ketika Ia mengenakan tubuh manusia, makanan-Nya adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Orang percaya yang mengikut Tuhan Yesus harus memiliki gaya hidup seperti itu juga. Hal ini demi kepentingan orang percaya itu sendiri. Menyerahkan segenap hidup bagi Tuhan. Menyerahkan hidup bagi Tuhan tidak cukup dengan menjadi aktivis gereja yang sibuk dalam pelayanan gerejani, bahkan tidak cukup menjadi pendeta. Tidak jarang orang percaya yang menjadi aktivis gereja -bahkan menjadi pendeta- hanya sebagai sarana untuk memperoleh sesuatu yang bertendensi pada kepentingan diri sendiri. Kalau tidak bertumbuh sebagai anak-anak Allah yang mengenakan kodrat Ilahi, maka biarpun bertahun-tahun menjadi aktivis gereja -bahkan pendeta- ia hanya hidup untuk dirinya sendiri, bukan bagi Tuhan.

Ketika seseorang belum menjadi anak tebusan, ia tidak dipersalahkan kalau memiliki dirinya sendiri seperti mereka yang tidak memiliki karunia sulung roh. Hidupnya dimiliki oleh dirinya sendiri atau kuasa kegelapan. Mereka tidak bisa menjadi anak Allah yang mengenakan kodrat Ilahi. Ketika seseorang percaya kepada Tuhan Yesus dengan menerima Dia sebagai Tuhan atau pemilik kehidupan, maka mau tidak mau ia harus menyerahkan atau mengembalikan seluruh miliknya bagi Tuhan. Selama seseorang masih memiliki dirinya sendiri-artinya merasa berhak memiliki kesenangan dan menikmati hidupseperti anak-anak dunia lain- maka ia tidak bisa diubah Tuhansesuai dengan rancangan semula-Nya.

Ciri kehidupan yang mau diubah berkodrat Ilahi
adalah tidak lagimemiliki keinginan-keinginan
seperti yang dimiliki oleh anak-anak dunia.

Kalaupun ada keinginan memiliki sesuatu, maka dasarnya adalah karena hendak melakukan kehendak Bapa. Tuhan Yesus yang menjadi teladan kita menunjukkan sebuah kehidupan yang sangat agung. Keagungan-Nya adalah ketika Ia bersedia melepaskan hak-hak-Nya dan rela merendahkan Diri. Tuhan Yesus terhina di antara manusia, hal ini menunjukkan kerelaan-Nya kehilangan kehormatan.Ekspresi kerelaan kehilangan hak dihormati manusia dalam kehidupan Yesus juga ditunjukkan dengan tindakan-Nya mencuci kaki murid-murid-Nya dalam suatu perjamuan terakhir sebelum Yesus menghadapi penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya. Semua itu dilakukan bagi kemuliaan Allah Bapa.

Banyak orang ketika menyatakan diri mau mengikut Tuhan Yesus, mereka tidak tahu betapa sukarnya mengikut Tuhan Yesus. Mereka berpikir bahwa mengikut Tuhan Yesus berarti bisa memiliki jaminan pemeliharaan di dunia ini secara luar biasa menurut konsepnya sendiri. Mereka berpikir bahwa Tuhan bukan saja baik, tetapi juga kuat. Mereka tidak mengerti isi kebaikan Tuhan dan tidak memahami kehendak serta rencana-Nya. Mereka berpikir dengan percaya kepada Tuhan, maka Tuhan akan memelihara mereka di bumi ini dengan keistimewaan yang lebih dibanding orang kafir. Itulah sebabnya mereka bingung ketika melihat fakta orang kafir memiliki keadaan ekonomi, kesehatan, keluarga dan berbagai aspek lahiriah yang lebih unggul dibanding dengan sebagian besar orang Kristen.

Pada umumnya kemapanan hidup seseorang ditopang oleh terpenuhinya kebutuhan finansial, sebab dengan finansial yang “memadai” mereka merasa terjamin. Ukuran memadai masing-masing orang tentu berbeda, bersifat relatif. Selain relatif, hal itu juga bersifat bergerak. Artinya selalu menginginkan jumlah finansial yang lebih banyak, karena dengan memiliki kekuatan finansial lebih besar, berarti hidup lebih terjamin. Inilah yang membuat seseorang selalu bergerak tiada henti untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Dan target tersebut hampir selalu bergerak, sebab pada umumnya orang tidak puas dengan apa yang sudah dimilikinya. Mekanisme hidup seperti ini membelenggu seseorang dalam kesibukan hidup yang tiada henti sampai saatnya ia masuk kuburan. Biasanya mereka melupakan kehidupan yang akan datang di langit baru dan bumi yang baru.

Kedatangan Tuhan Yesus ke dunia merusak kemapanan hidup
menurut konsep manusia pada umumnya.

Kita harus memahami bahwa pengajaran yang diberikan oleh Tuhan Yesus di dalam Injil bertentangan dengan apa yang diajarkan dunia. Bahkan kehidupan Tuhan Yesus sendiri adalah kehidupan yang bertentangan dengan kehidupan tokoh-tokoh dunia. Kalau kita tidak mengerti hal ini, kita akan menjadi kecewa dan menolak Tuhan.Nampak jelas perbedaan antara umat pilihan yang memiliki karunia sulung roh dengan mereka yang tidak memiliki karunia sulung roh. Dengan ini kita bisa mengerti dan lebih menerima bahwa mereka yang tidak memiliki karunia sulung roh dengan standar yang jauh lebih rendah diperkenankan juga masuk dunia yang akan datang sebagai anggota masyarakat, bukan sebagai anggota keluarga Kerajaan. Tetapi orang yang memiliki karunia sulung Roh dirancang untuk mengenakan kodrat Ilahi menjadi anggota keluarga Kerajaan dan dimuliakan bersama-sama dengan Yesus.