Membuktikan Kebenaran
25 June 2017

Orang yang tidak mencuri belum tentu hatinya adalah hati yang tidak suka mencuri. Orang yang tidak berzina belum tentu memiliki hati yang tidak suka berzina. Seorang anak yang melakukan suatu perbuatan yang menunjukkan hormatnya kepada orang tua bukan berarti sungguh-sungguh memiliki hati yang menghormati orang tua. Hal-hal ini bisa terjadi sebab ketika seseorang berbuat baik dan menghindari perbuatan salah, ia memiliki seribu satu motivasi atau alasan. Bisa saja karena faktor-faktor tertentu yang mendesak seseorang berbuat baik. Seperti misalnya seseorang tidak mencuri atau tidak berzina karena takut dihukum. Seorang anak melakukan suatu perbuatan yang mengesankan ia menghormati orang tua, pada dasarnya ia berbuat demikian karena mau memperoleh sesuatu dari orang tuanya.

Seharusnya perbuatan baik dilakukan seseorang karena didorong oleh motivasi hati yang benar. Motivasi yang benar tersebut mestinya telah permanen berkuasa atas dirinya, yaitu di dalam hati nuraninya. Dalam hal ini, hati nurani merupakan pusat dari motivasi seseorang melakukan segala sesuatu. Hati nurani adalah sumber penggerak dari segala tindakan yang dilakukan seseorang. Kalau seseorang berpura-pura baik, padahal motivasi hatinya tidak baik, cepat atau lambat pasti nyata di mata manusia lain bahwa ia jahat. Hal ini tidak dapat disembunyikan terus menerus. Hati nurani yang telah terbangun atau terbentuk sesuai dengan kebenaran Tuhan yang murni dapat menjadi hati nurani seperti Tuhan. Di sini barulah bisa dikatakan bahwa roh (neshamah) manusia adalah pelita Tuhan. Orang seperti ini pasti dapat memancarkan pribadi Tuhan.

Hati nurani ini dibangun secara bertahap dalam kurun waktu yang pasti panjang yaitu melalui proses kehidupan setiap hari. Untuk ini seorang anak Allah harus memiliki perjuangan yang konkret untuk membentuk hati nuraninya. Misalnya kalau seseorang mau memiliki hati nurani yang lemah lembut, tidak cukup membaca buku atau mendengar khotbah mengenai kerendahan hati. Memang konsep mengenai kerendahan hati harus ditemukan dari Injil, tetapi setelah itu dalam kehidupan setiap hari, ia harus belajar dari Roh Kudus yang menuntunnya kepada segala kebenaran. Bapa memakai segala peristiwa untuk membawa orang percaya kepada “jiwa rendah hati” seperti yang dikehendaki-Nya, yang juga ada pada diri Tuhan Yesus. Tidak mungkin seseorang dapat mengalami perubahan pendewasaan hati nurani tanpa situasi konkret yang dialaminya.

Dalam banyak agama, etika dan standar moral diajarkan secara sistematis dengan berbagai contoh-contoh yang pernah dilakukan oleh tokoh-tokoh mereka. Inilah yang sama dengan mengajarkan hati nurani dengan sistem. Para pengikut agama diajar memiliki moral seperti tokohnya. Sehingga ukuran moral etika mereka kaku, tidak memiliki fleksibilitas dan dinamisitas, sukar diterapkan di situasi tertentu yang sangat berbeda dengan zaman di mana ajaran moral itu diajarkan atau zaman tokoh mereka hidup. Padahal keadaan zaman di mana sang tokoh hidup sangat berbeda dengan zaman sekarang ini. Harus jujur diakui, sulit mengimplementasikan ajaran yang dilakukan oleh tokoh-tokoh tersebut untuk zaman ini. Bahkan kadang tidak mungkin.

Berbeda dengan mereka, di dalam Kekristenan terdapat proses panjang, dari mendengar Firman Tuhan dalam bentuk logos (pengertian secara nalar), kemudian melalui pengalaman hidup menjadi rhema (logos yang diterjemahkan dalam situasi konkret oleh Roh Kudus). Roh Kudus berbicara tiada henti menunjukkan bagaimana seseorang memiliki sikap hati yang benar seperti Tuhan Yesus. Misalnya hal kerendahan hati. Tuhan Yesus tidak mengajarkan sistemnya, tetapi pengertiannya. Itulah sebabnya dalam Kekristenan tidak ada hukum atau peraturan semacam syariat (dilarang ini dilarang itu; jangan begini jangan begitu). Tuhan Yesus mengajarkan kebenaran agar orang percaya yang memahaminya sehingga dapat memiliki kecerdasan roh. Kecerdasan itu ada di dalam hati nuraninya.

Kebenaran itulah yang memerdekakan (Yoh. 8:31-32), maksudnya adalah dengan kebenaran itu seseorang mengerti apa yang dikehendaki oleh Bapa. Pengertian itulah kecerdasan roh di dalam hati nuraninya yang bersarang di neshamah-nya. Kehendak Bapa ini dapat dilakukan tidak tergantung zaman dan segala situasinya, sebab bukan pada sistemnya atau bentuk harafiahnya, tetapi esensinya. Dengan demikian Tuhan mengajarkan ukuran moral yang bertumpu pada Tuhan sendiri. Hal ini membuat Kekristenan memiliki fleksibilitas dan dinamisitas yang sangat tinggi. Di zaman manapun dan dalam situasi bagaimanapun kebenaran atau etika yang dikehendaki oleh Tuhan dapat dikenakan secara konkret. Dalam hal ini, waktu atau zaman dapat membuktikan suatu kebenaran, apakah berasal dari Allah atau bukan.