Memberhalakan Masalah
14 January 2021

Play Audio

Setiap manusia yang hidup di muka bumi ini tidak mungkin lepas dari persoalan, tidak mungkin lepas dari masalah, problem, kesulitan, dan kesukaran hidup. Tetapi yang penting adalah bagaimana kita bereaksi atau merespons masalah-masalah tersebut. Tentu kita tahu bahwa “Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.” Yang itu berarti, persoalan-persoalan hidup kita menjadi sarana Allah untuk mendewasakan kita. Tetapi secara fakta, secara faktual, banyak orang Kristen yang tidak bereaksi atau merespons masalah dengan bijak. Pada umumnya, orang bersungut-sungut, marah, kesal terhadap masalah yang harus dihadapinya. Dan biasanya, dia akan mencari kambing hitam atau mencari penyebab dari persoalan tersebut. Hal inilah yang membuat persoalan, kesulitan, kesukaran, problem tidak membuahkan buah yang baik dalam kehidupan rohani seseorang. Artinya, persoalan-persoalan tersebut tidak membuat dirinya menjadi dewasa, tapi sebaliknya, membuat ia makin terpuruk dalam ketidakdewasaan.

Orang-orang seperti ini yang marah kesal terhadap masalah yang dihadapi dan mencari kambing hitam atau penyebab adanya persoalan itu—yaitu membangkitkan kebencian, dendam terhadap orang lain—ini berarti dia memberhalakan masalah. Bukannya menerima masalah sebagai berkat kekal yang di dalamnya mengandung nasihat kebenaran-kebenaran untuk mendewasakan, tetapi malah bersungut-sungut, dan melahirkan kebencian terhadap orang yang dijadikannya sebagai penyebab dari persoalan tersebut. Ini namanya memberhalakan masalah. Orang yang memberhalakan masalah adalah orang yang tidak mungkin bisa memuliakan Tuhan. Tidak mungkin. Sejatinya, orang seperti itu, dia memuliakan dirinya sendiri. Sebab kalau orang benar-benar memuliakan Tuhan, apa pun yang dialaminya dia jadikan sebagai berkat kekal karena di dalamnya pasti ada hikmah. Dan hikmah atau hikmat atau kebenaran itu mendewasakan rohaninya.

Dan orang yang sungguh-sungguh menganggap masalah itu adalah berkat kekal, dia akan mengucap syukur. Ia tidak lagi berpusat pada dirinya sendiri atau egosentris, tapi teosentris. Jadi, orang yang masih memberhalakan masalah adalah orang yang egosentris, tidak teosentris. Selain dia tidak mengalami perubahan pendewasaan rohani melalui persoalan tersebut, dia juga menambah jumlah orang yang dia benci, dia membangun kepahitan, kemarahan kepada objek tertentu atau orang tertentu, dan tanpa sadar, secara tidak langsung dia juga mempersalahkan Allah, “Mengapa Allah mengizinkan keadaan ini?”

Tapi sebaliknya, kalau orang mengerti bahwa Allah mengasihi dirinya, maka dalam kamus hidup orang Kristen tidak ada kata “kecelakaan, musibah” atau “bencana,” karena semua yang terjadi pasti memuat berkat kekal, maka ia akan mengucap syukur kepada Tuhan. Ia tidak membuat atau menambah jumlah orang yang dia benci karena memang tidak ada orang yang boleh dibenci. Kita harus mengasihi semua orang. Dia tidak membangun kepahitan di dalam dirinya, tapi belajar melepaskan pengampunan. Dan memang mengampuni itu sakit. Tetapi dengan cara begitu, seseorang didewasakan. Dan orang yang tidak memberhalakan masalah, baru benar-benar meninggikan Tuhan dan Tuhan tersanjung kepada orang-orang seperti ini. Dia tidak akan mempersalahkan Tuhan, dia tidak marah kepada Tuhan, dia akan berterima kasih karena kejadian itu pasti memuat atau mengandung kebenaran yang mendewasakan dirinya. Inilah orang-orang yang bisa disebut “telah selesai dengan dirinya sendiri.”

Orang yang telah selesai dengan dirinya sendiri, orang yang tidak akan menuntut Tuhan membahagiakan dirinya. Bahkan ketika Tuhan membawa dia keadaan-keadaan sulit, bahkan seakan-akan Allah sendiri yang melukai dia, dia tetap mengucap syukur dan memercayai Allah, seperti Yesus yang walaupun—seakan-akan—Bapa tidak membela Dia, Dia mati di kayu salib dengan keadaan begitu mengerikan, begitu miris, begitu keji. Dia tetap menaruh percaya kepada Bapa di surga, tidak menaruh curiga, dan Dia berkata, “ke dalam tangan-Mu, Kuserahkan Roh-Ku.” Ini tingkat penyerahan yang benar. Mestinya kita belajar untuk bisa sampai tingkat seperti ini.

Kita semua belajar untuk tidak memberhalakan masalah, tetapi sebaliknya, kita memuliakan Allah dan mengucap syukur atas masalah yang Tuhan izinkan kita alami. Dengan demikian, kita mengalami pertumbuhan rohani yang baik. Kalau kita memandang semua kejadian, semua peristiwa, semua persoalan, semua kesulitan, semua kesukaran dengan kacamata kekekalan, semua menjadi kecil. Menjadi ringan kita memikulnya. Apalagi kalau kita sadar bahwa persoalan-persoalan tersebut bisa mendatangkan kemuliaan kekal. Kita akan berterima kasih. Oleh sebab itu, kita harus memiliki cara pandang atau perspektif, sudut pandang yang benar, yaitu berbasis kekekalan. Basis pemikiran kita harus basis pemikiran yang terkait dengan kekekalan. Kalau kita memandang persoalan kita dengan kacamata kekekalan, semua menjadi masalah kecil. Sebab, masalah-masalah ini sementara. Pasti ujungnya akan tiba, pasti akan berakhir. Bersyukur kalau persoalan itu berakhir, telah membuahkan pendewasaan rohani di dalam hidup kita. Syukur kalau sampai bisa begitu.

Jangan sampai persoalan itu berlalu tanpa kita menikmati berkat kekal yang Tuhan sediakan. Jangan sampai persoalan berlalu, malah menyisakan kepahitan, kemarahan, kebencian, dan kehidupan yang tidak bertumbuh atau tidak berbuah. Celaka sekali! Tetapi mari dengan membaca kebenaran ini, kita mulai sadar bahwa Tuhan itu bukan saja baik, melainkan sangat baik. Kebaikan Tuhan diberikan kepada kita tidak selalu dalam bentuk hal-hal yang menyenangkan kita, tidak selalu dalam bentuk hal-hal yang memuaskan kita, tidak selalu dalam bentuk hal-hal yang membuat kita nyaman, bahkan sering apa yang Tuhan berikan itu hal-hal yang membuat kita benar-benar tidak nyaman. Hidup kita merasa tidak bahagia, kita merasa terancam, dan lain sebagainya. Namun, kalau kita memandang dengan kacamata kekekalan, kita tahu bahwa itu tidak ada artinya.

Allah yang kekal selalu menyediakan berkat dengan kualitas nilai kekekalan. Allah yang kekal tidak mungkin memberikan kepada kita sesuatu yang bersifat fana, hanya dinikmati oleh fisik tubuh fana kita. Memang Tuhan juga memberikan kita kesenangan-kesenangan, tapi pasti bukan kesenangan yang dimaksudkan untuk menjauhkan kita dari hadirat Allah. Kita jangan memberhalakan persoalan yang membuat kita tidak dewasa, membuat seseorang menjadi memanjakan diri, masochistis; seperti suka menyakiti diri sendiri dan menikmati rasa sakit itu. Orang-orang seperti ini akan bertambah menjadi rusak, egois, hanya melihat kepentingan sendiri, perasaan sendiri, dan tidak memedulikan kepentingan dan perasaan orang lain.