Memancarkan Kemuliaan-Nya
26 September 2020

Play Audio Version

Kejatuhan manusia ke dalam dosa mengakibatkan manusia berkeadaan kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Kata “kehilangan” dalam teks aslinya adalah hysterountai (ὑστεροῦνται) dari akar kata hystereo yang memiliki pengertian to be inferior, to fall short (be deficient): be destitute, fail, lack, suffer need, be the worse (menjadi rendah, gagal (kekurangan): menjadi miskin, gagal, kekurangan, menderita, menjadi lebih buruk)—artinya tidak mencapai target atau kurang. Kekurangan ini juga dipandang sebagai kehilangan, sebab dengan kekurangan tersebut manusia kehilangan kesempatan. Pertama, Adam dan Hawa tidak memiliki kesempatan. Kedua, juga seluruh keturunannya, selain mereka yang menjadi umat Allah yang diberi kesempatan untuk menemukan kemuliaan Allah. Dengan menemukan kemuliaan Allah, manusia dapat hidup dalam perdamaian dengan Allah. Tidak seperti Adam dan Hawa yang diusir dari Taman Eden.

Keselamatan dalam Yesus Kristus bermaksud membuat manusia untuk dapat berkeadaan seperti rancangan Allah semula, yaitu manusia dapat menemukan kemuliaan Allah tersebut. Manusia memperoleh kembali kesempatan untuk menemukan kemuliaan Allah yang hilang. Kemuliaan Allah itu tidak diperoleh secara otomatis, tetapi harus melalui perjuangan. Hal ini paralel dengan Kerajaan Allah diberikan secara gratis, tetapi untuk hidup dalam pemerintahan Kerajaan Allah bukan sesuatu yang gratis, melainkan harus diperjuangkan. Semakin seseorang menjadi seperti Yesus, maka ia semakin menemukan kemuliaan Allah yang tidak dimiliki oleh manusia. Yesus adalah satu-satunya model manusia yang memiliki kemuliaan Allah. Orang percaya dipanggil untuk mengikuti jejak-Nya, yaitu memiliki kemuliaan Allah.

Seseorang tidak bisa hidup dalam perdamaian dengan Allah atau hidup dalam persekutuan dengan Allah tanpa berkeadaan layak bagi Dia. Itulah sebabnya, harus ada proses pendewasaan untuk mencapai hal tersebut. Sangat sedikit orang yang benar-benar mengusahakan hal ini. Banyak orang Kristen merasa telah memiliki anugerah, merasa telah berdamai dengan Allah sehingga tidak merasa perlu memiliki perjuangan untuk itu. Sehingga mereka hidup dalam kewajaran seperti orang-orang yang bukan umat pilihan. Keadaan ini seperti Esau yang menukar hak kesulungannya dengan semangkuk makanan.

Kita harus mengerti bahwa sejak kita mengaku percaya kepada Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita harus berjuang untuk menemukan kemuliaan Allah yang hilang tersebut. Kemuliaan Allah (the glory of God) dalam teks aslinya adalah tes doktes tou theou (τῆς δόξης τοῦ θεοῦ). Kata “kemuliaan” atau doktes berasal dari akar kata doksa yang artinya brightness, radiance, splendor (kecerahan, cahaya, kemegahan). Kemuliaan tersebut bukan terletak pada hal-hal lahiriah, melainkam manusia batiniah yang cemerlang. Manusia batiniah yang memancarkan dan mengekspresikan perasaan dan pikiran Allah.

Orang yang berjuang mengerjakan keselamatan akan semakin menyatakan atau menunjukkan manifestasi dari kemuliaan Allah (as a manifestation of God's excellent power glory, majesty). Ini adalah satu-satunya yang terpenting dalam kehidupan orang percaya seperti yang dikatakan Paulus dalam suratnya di Filipi 2:15, yang tertulis: … supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia. Dalam hal ini, orang percaya menjadi seperti bintang-bintang di cakrawala, yang menjadi terang dunia, sehingga kota yang terletak di atas bukit “Surga” dapat dilihat, dan kehidupan orang percaya memuliakan Allah.

Ayat sebelumnya dalam Filipi 2:5-8, tertulis: Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Dari Firman Tuhan ini, kita dipanggil untuk memiliki langkah kehidupan seperti Yesus.

Memiliki langkah kehidupan seperti yang dimiliki oleh Yesus ini tidak bisa terjadi secara otomatis, tetapi kita harus berjuang dan membiasakan untuk melakukannya. Itulah sebabnya, dalam Filipi 2:12-13 tertulis: Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Mengerjakan keselamatan artinya membiasakan diri memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7). Filipi 2 ini konteksnya adalah panggilan untuk mengenakan pikiran dan perasaan Kristus.