Melirik Perasaannya Sendiri
02 August 2020

Play Audio Version

Orang yang mengaku percaya bahwa Alkitab adalah satu-satunya kebenaran dan Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat, tetapi hanya di dalam pikiran atau nalarnya, pasti hidupnya tidak memiliki tujuan. Artinya, segala sesuatu yang dia lakukan hanya demi sesuatu itu sendiri. Kalau dia pekerja, demi pekerjaan itu sendiri; kalau dia berkarier, demi karier itu sendiri; kalau dia studi, demi studi itu sendiri, dan pada akhirnya, semua hanya untuk kepentingan diri sendiri. Dia bisa bekerja keras atau giat, tetapi di balik semua aktivitasnya, agendanya hanyalah bagaimana dia bisa menikmati semuanya, yaitu pekerjaannya, kebersamaan dengan orang-orang di sekitarnya, yaitu segala sesuatu yang dirasakan membahagiakan dirinya. Tentu orang-orang seperti ini tidak pernah memikirkan bahwa ada Allah yang hidup, yang berperasaan.

Sebagai orang percaya yang benar, mestinya kita memikirkan, merenungkan dan menghayati kenyataan keberadaan atau adanya Allah yang hidup, yang menaruh roh-Nya dalam diri kita. Orang Kristen yang percayanya kepada Tuhan hanya di dalam pikiran, pasti hanya melirik perasaannya sendiri. Dia hanya melihat apa yang dapat membuat dirinya bahagia dan senang. Tetapi dia tidak melirik dan melihat hati Tuhan. Secara antrophomorfistis, dia tidak melihat bibir Tuhan, apakah tindakannya membuat Tuhan tersenyum atau sebaliknya, membuat Tuhan berduka. Irama hidup seperti ini dimiliki hampir semua orang, dan itu memiliki pengaruh yang kuat dalam kehidupan orang-orang Kristen.

Banyak orang Kristen yang pola hidupnya sebenarnya tidak berbeda dengan orang-orang non-Kristen. Mengisi hidupnya untuk kesenangan diri sendiri. Dia bisa bertanggung jawab atas orangtua, karena pasti memiliki naluri membela orangtua. Tetapi hanya sampai pada ‘naluri’ itu saja. Ia bisa membela keluarga, keluarga besar. Tetapi, karena ada naluri ikatan kekeluargaan, bukan karena mau menyukakan hati Allah. Tentu orang-orang seperti ini akan sangat membatasi diri. Dia tidak akan memberi ruangan yang cukup untuk orang lain. Yang penting keluarga sendiri atau keluarga dekatnya. Dia tidak akan memedulikan orang lain. Dan dia juga tidak peduli dengan pembantu rumah tangga, supirnya, dan lain-lain. Dia bisa memanfaatkan mereka, tetapi tidak sungguh-sungguh menaruh kasih, bagaimana mereka bisa menemukan Allah dan Juruselamat di dalam dan melalui hidupnya.

Tentu saja orang-orang Kristen seperti di atas ini bisa ramah dan santun kepada orang lain, tetapi tidak akan memancarkan keagungan anak Allah. Sebab, sampai pada titik tertentu, bagaimana pun dia akan menunjukkan egoismenya, dia tidak akan bisa menembus batas mengasihi sesama seperti diri sendiri. Sifat atau jiwa kesukuannya pasti masih kuat, memandang orang karena materi atau harta, pangkat, gelar, suku, dan sebagainya. Karena dia tidak peduli perasaan Allah, kalaupun dia ramah terhadap orang lain yang berbeda agama, suku, sosial ekonomi, itu karena kepentingan dirinya sendiri, bagaimana dia menyesuaikan diri dengan keadaan demi keuntungan pribadi. Mereka tidak bisa mengerti yang dimaksud Alkitab, “Baik makan atau minum, dilakukan untuk kemuliaan Allah.” (1Kor. 10:31). Yang dia mengerti adalah bagaimana dia hidup dalam kesenangan. Bisa melalui hobi, wisata, makan dan minum bersama keluarga, dan segala sarana yang bisa membuat dirinya bahagia.

Memang bedanya tipis, antara orang percaya dan orang tidak percaya. Kadang-kadang, agak sukar dibedakan. Tetapi, pada akhirnya akan tampak. Orang yang memiliki percaya yang benar pasti menerjemahkan percayanya dalam tindakan hidup secara konkret; sebaliknya, orang yang tidak mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan adalah mereka yang tidak memiliki percaya secara benar. Bagaimana pun pada titik tertentu akan kelihatan, karena orang yang mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan dengan benar—karena percaya dengan benar kepada Allah—akan mengalami pertumbuhan kedewasaan yang makin hari makin seperti Kristus. Tetapi orang yang tidak percaya dengan benar, yang tidak mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan—kalaupun bertambah menjadi dewasa sebagaimana pada umumnya orang menjadi dewasa secara mental—tapi tidak memancarkan kemuliaan Allah dan tidak memancarkan kodrat ilahi. Sebaliknya, orang yang benar-benar memiliki percaya yang benar pada Allah dan mempersembahkan hidupnya pada Allah akan dibuat Tuhan bertumbuh terus. Ibarat lampu atau terang, makin besar, makin kuat cahayanya. Dan akhirnya, bisa ditemukan bahwa dia adalah orang percaya yang benar.