Melintasi Segala Langit
01 April 2021

Play Audio

Banyak pikiran orang Kristen yang tidak mengerti rancangan Allah dalam hidupnya. Pikirannya terbelenggu dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, terikat dengan selera dunia. Padahal, kita memiliki Allah Bapa yang memiliki segala kuasa, kemuliaan, dan Kerajaan yang tidak terbatas. Sejatinya, kita harus bersyukur menjadi orang Kristen, mengenal Yesus sebagai Juruselamat, yang akan membawa kita melintasi langit untuk mewarisi Kerajaan yang tidak tergoyahkan. Kita yang debu tanah ini diperkenan Tuhan untuk mewarisi Kerajaan Allah. Oleh sebab itu, rancangan Allah bukan berkutat pada masalah jodoh, hunian, pekerjaan, maupun masalah jasmaniah lain yang dapat diselesaikan dengan tanggung jawab. Karena semua hal jasmani tersebut jika dibandingkan dengan kekekalan merupakan hal-hal yang tidak bernilai besar. Rancangan Allah adalah bagaimana kita menjadi pribadi yang berkenan di hadapan Tuhan. Untuk memenuhi rancangan-Nya, kita harus bekerja keras. Kita harus mengiring Tuhan Yesus dengan benar. 

Oleh sebab itu, berbicara mengenai rencana Allah dalam hidup kita, kita juga harus aktif merespons rancangan-Nya. Satu hal yang harus kita ingat, yaitu bagaimana kita menjadi seorang pribadi yang unik dan tidak sama dengan siapa pun. Kita harus mencapai keberadaan diri yang sesuai dengan rancangan-Nya, yakni manusia yang berkarakter dasar seperti Tuhan kita Yesus Kristus. Berkarakter seperti Yesus, artinya setiap yang kita pikirkan, katakan, dan lakukan, semuanya sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Ketika seseorang mengikuti jejak Tuhan dengan keunikan pribadi yang diberikan Tuhan pada masing-masing individu, inilah titik seseorang menjalani kehidupan yang sesungguhnya. Sebelum kita menutup mata, kita harus sudah menemukan rancangan Tuhan bagi kita secara pribadi, yaitu hidup sebagai anak-anak Allah dengan pola yang Alkitab ajarkan dan Yesus sebagai teladannya.

Kita adalah umat yang dipilih Tuhan, tetapi apakah kita menjadi umat pilihan yang sesuai dengan rancangan Allah? Itu masalahnya. Karena tidak sedikit orang Kristen yang walaupun pakai kalung salib namun perbuatannya tidak seagung makna salib tersebut. Walaupun nyanyian kita dari bibir terdengar merdu—yang kita pikir dapat membuat Tuhan tersenyum—namun jika kelakuan kita sehari-hari tidak sesuai dengan Injil, maka nyanyian kita tidak berkenan di telinga-Nya. Percuma semua acara kebaktian dan liturgi yang kita selenggarakan.

Bukan tidak mungkin di antara kita ada yang merasa gagal hidup, gagal rumah tangga, gagal karier, gagal bisnis. Namun, jangan menganggap itu sebagai kegagalan fatal. Bukankah sering Tuhan mengizinkan kita mengalami kegagalan? Hal itu Tuhan izinkan supaya kita bisa dibentuk oleh-Nya. Sebab, kalau rumah tangga bahagia, tidak ada masalah, uang berlimpah, jabatan tinggi naik terus, kita bisa menjadi orang lupa diri. Lebih lagi, kita bisa terjebak untuk membangun Firdaus di bumi. Padahal, rumah kita yang sesungguhnya ada di belakang langit biru. Dalam hal ini, kegagalan hidup secara duniawi bisa menjadi sarana Allah menyelematkan kita.

Masalahnya, bagaimana proses melintasi perjalanan kehidupan ini sampai ke belakang langit biru? Satu-satunya cara hanya melalui karakter atau wajah batiniah kita yang diubah dari waktu ke waktu. Sebab dengan perubahan manusia batiniah secara tidak langsung, kita sedang berjalan melintasi segala langit. Oleh karenanya, meskipun hari ini kita tidak kaya, gagal berumah tangga, gagal karier, hal itu bukanlah masalah. Hal terpenting adalah wajah batiniah kita yang indah di mata Tuhan. Walaupun wajah kita cantik, ganteng, banyak uang, sukses karier, tapi kalau batin kita tidak cantik, maka semua itu tidak ada artinya.

Rencana Allah adalah ketika setiap kita bertumbuh terus menjadi indah di mata Allah. Ketika kita mengenakan keindahan wajah Tuhan di dalam hidup kita, kita akan menjadi efektif untuk pekerjaan-Nya. Secara tidak langsung, kita menjadi saksi-Nya. Bersaksi tidak selalu dengan berkhotbah, memberi seminar, memimpin KKR, atau tindakan proklamatif lainnya, tetapi ketika perubahan hidup kita dirasakan oleh orang banyak, di situlah kita menjadi saksi bagi orang lain bahwa ada Tuhan yang benar. 

Di dalam 1 Petrus 2:9 tertulis, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani.” Artinya setiap kita adalah imam, hulubalang, bangsa yang terpilih. Bangsa yang dikhususkan, dipisahkan, umat kepunyaan Allah sendiri. Luar biasa. Kita adalah milik Allah, umat kepunyaan Allah sendiri. Kalau kita dimiliki Allah, sampai ujung langit mana pun kita dipelihara. Bahkan kematian pun menjadi indah karena ditunggu bukan hanya oleh kita, melainkan juga oleh para malaikat yang tahu bahwa kita adalah anak-anak Allah yang menjadi kekasih-Nya. Itulah artinya hidup yang menyatakan kemuliaan Allah.