Melakukan Kehendak Allah
28 June 2020

Play Audio Version

Dalam Injil Yohanes 14:6, Yesus menunjukkan bahwa Dialah satu-satunya jalan sampai kepada Bapa. Yesus sebagai jalan bukan hanya untuk dipercayai dan diakui sebagai benar, tetapi harus dijalani, karena percaya adalah tindakan, bukan sekadar aktivitas pikiran; berupa keyakinan dan persetujuan dalam pikiran. Banyak orang Kristen merasa sudah memercayai Yesus sebagai jalan, dan merasa sudah memperoleh keselamatan karena meyakini-Nya. Kita tidak boleh membedakan diri kita sebagai orang percaya dengan mereka yang bukan Kristen, hanya dari sudut kepercayaan. Orang di luar Kristen tidak percaya dan tidak mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Kalau perbedaaan hanya di keyakinan di dalam pikiran, kehidupan kita tidak berbeda dengan mereka. Yang membedakan adalah kesediaan menjalani jalan hidup itu, yaitu Yesus sebagai jalan hidup kita. Perbedaan tersebut juga dikalimatkan oleh Yesus di dalam Matius 5:20, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.” Bila hal ini belum terwujud, berarti percayanya atau imannya belum benar.

Yakobus berkata kalau hanya percaya bahwa Allah itu esa, apa bedanya dengan daimonian; roh-roh jahat (Yak. 2:19)? Iman bukan hanya keyakinan dalam pikiran, melainkan relasi antara subjek yang percaya dan objek yang dipercayai. Allah bukan hanya diyakini, melainkan juga dialami—dalam arti memiliki perjumpaan riil dengan Dia sehingga benar-benar mengalami Dia. Kalau Yesus memberi mandat kepada orang percaya untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya, berarti harus ada proses dimana orang percaya mengalami mekanisme belajar kepada Yesus sehingga memiliki kehidupan seperti kehidupan yang dijalani oleh Yesus. Itulah sebabnya, kalau kekristenan hanya menjadi agama, maka orang Kristen tidak pernah menjadi anak-anak Allah. Menjadi anak-anak Allah bukan hanya status yang diakui, melainkan keberadaan kodrat yang dialami.

Ini adalah kesalahan yang sangat fatal, sebab dengan pemikiran tersebut, banyak orang Kristen yang sebenarnya belum memiliki keselamatan tetapi merasa sudah memilikinya. Keselamatan adalah suatu proses perubahan di bumi ini, yaitu dikembalikannya seseorang ke rancangan Allah semula. Harus benar-benar dipahami dan dialami, bahwa keselamatan dimulai sekarang, di bumi ini, bukan hanya nanti setelah meninggal dunia. Kalau di bumi ini tidak mengalami keselamatan, maka di kekekalan pun ia tidak pernah memilikinya. Pengalaman keselamatan bukanlah dialami dalam atau dari keyakinan semata-mata, melainkan dari pengalaman riil perjumpaan dengan Allah yang membuat seseorang mengalami perubahan kodrat. Perjumpaann itu tidak akan dialami, kalau seseorang tidak hidup dalam penurutan total atau mutlak kepada Allah.

Banyak orang bertahun-tahun beragama Kristen dengan pergi ke gereja, menjadi majelis, bahkan menjadi pejabat sinode seperti pendeta, tetapi ternyata tidak bertumbuh mengalami perubahan kodrat, yaitu dari manusia yang berkodrat dosa menjadi manusia yang berkodrat ilahi. Mereka terkubur dalam hidup keberagamaan yang tidak pernah mengenakan kehidupan Yesus secara konsekuen dan konsisten. Itulah sebabnya, gaya hidup mereka tidak berbeda dengan orang-orang yang bukan umat pilihan. Bagi rohaniwannya, tidak berbeda dengan rohaniwan agama lain.

Dengan pengertian yang salah tersebut, mereka tidak sungguh-sungguh berusaha untuk menjadi serupa dengan Yesus. Mereka tidak sungguh-sungguh berusaha untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Itulah sebabnya, mereka tidak pernah bertumbuh dalam iman sampai pada tingkat di mana pengharapan keselamatan menjadi milik yang pasti (Ibr. 6:11) atau memiliki hak penuh masuk Kerajaan Kekal, Kerajaan Tuhan Yesus Kristus (1Ptr. 1:11). Hal ini dibuktikan dengan kehidupan wajar di bumi, dan tidak adanya gairah yang kuat dengan sukacita menantikan kedatangan Tuhan, memasuki Kerajaan Tuhan Yesus Kristus. Itulah sebabnya, Paulus mengatakan: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Rm. 12:2).

Mengapa bisa terjadi demikian? Satu hal yang menjadi penyebabnya adalah kesalahan memahami mengenai kata “percaya,” lengkapnya mengenai pengertian “dibenarkan oleh iman” (Rm. 3:28; 4:2). Iman bukan hanya keyakinan di dalam pikiran. Iman adalah tindakan, kalau orang percaya kepada Yesus, berarti bukan saja mengakui dan setuju bahwa Yesus adalah jalan untuk sampai kepada Bapa, melainkan juga menjalani jalan tersebut. Menjalani jalan itu—yaitu Yesus—dengan mengikuti jejak-Nya, yaitu menjalani hidup seperti ketika Yesus mengenakan tubuh daging seperti kita, dua ribu tahun yang lalu di Palestina. Ini berarti harus memiliki pikiran dan perasaan yang juga ada pada Yesus, memiliki gaya hidup-Nya, sehingga kita seperti Kristus, dan pantas disebut Kristen. Kita disebut Kristen seharusnya bukan karena beragama Kristen, melainkan karena seperti Kristus. Orang yang tidak semakin seperti Yesus, berarti tidak mengalami keselamatan dan tidak memilikinya.