Masih Ada Sisa-Sisa Orang Setia
27 July 2018

Roma 11 tidak dapat dipisahkan dari Roma 10. Untuk masuk ke Roma 11, kita harus memperhatikan Roma 10, khususnya di ayat-ayat terakhir. Dalam Roma 10:20-21 tertulis: Dan dengan berani Yesaya mengatakan: “Aku telah berkenan ditemukan mereka yang tidak mencari Aku, Aku telah menampakkan diri kepada mereka yang tidak menanyakan Aku.” Tetapi tentang Israel ia berkata: “Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada bangsa yang tidak taat dan yang membantah.” Firman Tuhan mengatakan, bahwa Allah memberi Diri ditemukan oleh bangsa-bangsa di luar Israel yang tidak mencari Allah, karena memang mereka pada mulanya tidak mengenal Allah yang benar sama sekali. Sementara itu, bangsa Israel terus menerus tidak taat dan memberontak kepada Allah yang selalu menolong mereka.

Kemudian Paulus mengatakan: Adakah Allah mungkin telah menolak umat-Nya? Sekali-kali tidak! Karena aku sendiri pun orang Israel, dari keturunan Abraham, dari suku Benyamin. Allah tidak menolak umat-Nya yang dipilih-Nya. Ataukah kamu tidak tahu, apa yang dikatakan Kitab Suci tentang Elia, waktu ia mengadukan Israel kepada Allah: “Tuhan, nabi-nabi-Mu telah mereka bunuh, mezbah-mezbah-Mu telah mereka runtuhkan; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku. Tetapi bagaimanakah firman Allah kepadanya? “Aku masih meninggalkan tujuh ribu orang bagi-Ku, yang tidak pernah sujud menyembah Baal” (Rm. 11:1-4).

Paulus menjelaskan bahwa Allah tidak menolak umat-Nya. Di antara sekian banyak umat Israel yang tidak taat dan memberontak kepada Allah, pada zaman Paulus masih ada orang-orang yang percaya kepada Allah, untuk mengikuti jalan-Nya. Paulus sendiri orang Yahudi, dan orang-orang percaya lainnya juga ada yang berasal dari bangsa Yahudi. Mereka masih percaya kepada Tuhan dan hidup di dalam Injil-Nya. Hal ini seperti pada zaman Elia, ketika hampir semua bangsa Israel menyembah berhala, yaitu menyembah dewa Baal. Tidak ada seorang pun nabi yang benar. Selain nabi-nabi telah dibunuh dan mezbah-mezbah Tuhan diruntuhkan, juga tidak ada lagi nabi yang menganjurkan kebenaran kepada umat Israel. Semua nabi pada zaman itu adalah nabi-nabi palsu yang menyesatkan umat, agar umat menyembah baal. Tetapi Tuhan masih menyisakan seorang hamba Tuhan yang setia, yaitu Elia, seorang nabi yang benar. Tuhan juga masih menyisakan tujuh ribu orang yang tidak menyembah Baal.

Kalau kebenaran ini diparalelkan dengan keadaan sekarang, di mana orang percaya dikepung di tengah-tengah manusia yang materialistis, tetapi orang percaya harus tetap berani berintegritas berdiri di jalan Tuhan. Materialisme adalah penyembahan berhala, seperti orang-orang Irsael pada zaman Elia, menyembah dewa Baal. Pada zaman Elia, banyak nabi-nabi yang benar telah dibunuh. Demikian pula hari ini, banyak hamba-hamba Tuhan yang dibunuh oleh semangat atau gairah materialisme dan berbagai pengaruh filosofi dunia yang jahat. Tidak banyak hamba Tuhan yang berani melawan arus, yaitu arus materialisme, yang juga menjadi berhala kehidupan banyak orang. Tetapi Tuhan pasti masih menyisakan hamba Tuhan yang berintegritas melawan pengaruh dunia yang sangat kuat, yaitu orang-orang yang berani berdiri di jalan Tuhan, walau untuk itu ia harus menderita.

Orang-orang yang berani berintegritas di zaman sekarang ini dapat digambarkan seperti orang “bunuh diri”. Inilah yang dikatakan oleh Tuhan Yesus sebagai kehilangan nyawa. Paulus mengatakan, bahwa inilah orang-orang yang mati bagi dunia dan hidup bagi kemuliaan Allah. Orang-orang yang kehilangan nyawa tersebut adalah orang-orang yang tidak akan terbunuh oleh dunia ini, sebab ia sudah membunuh dirinya sendiri. Dengan demikian, ia dapat mempersembahkan hidup sepenuhnya secara benar kepada Tuhan. Hanya orang yang kehilangan nyawa karena Yesus, yang bisa merasakan keindahan dan kesukaan di dalam Tuhan secara benar. Tentu saja orang-orang seperti ini rela berbuat segala sesuatu, apa pun dan bagaimanapun untuk Tuhan. Di aspek lain, orang percaya yang kehilangan nyawa karena Yesus, tidak akan merasa takut terhadap apa pun juga, kecuali kepada Tuhan.

Selanjutnya Paulus mengatakan: Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut pilihan kasih karunia. Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia (Rm. 11:5-6). Kalau ayat ini tidak diperhatikan dengan teliti, maka dapat menimbulkan kesan, dan dapat membangun penafsiran yang salah, bahwa Allah dengan sengaja hanya memilih orang-orang tertentu untuk diselamatkan. Dengan demikian, menurut mereka, keselamatan terjadi hanya oleh karena penunjukan dan pemilihan Allah secara sepihak semata-mata. Peran manusia tidak diperhitungkan sama sekali.

Dalam membaca Roma 11:5-6, pemikiran kita harus tetap dalam konteks sebagian besar bangsa Israel yang menolak Injil, agar kita tidak memahami secara keliru ayat tersebut. Bangsa Israel menolak Injil, bukan karena rekayasa Tuhan, atau Tuhan yang menetapkan. Tetapi hal itu terjadi, disebabkan karena bangsa Israel sendiri yang berusaha membangun kebenarannya berdasarkan polanya, bukan karena kebenaran berdasarkan iman kepada Yesus Kristus (Rm. 9:30-32; 10:20-21).

Jika keadaan orang-orang Israel pada waktu itu dihubungkan dengan orang-orang Kristen hari ini, maka dapat diperoleh suatu bentuk yang paralel. Orang-orang Israel berusaha untuk memperoleh keselamatan dengan cara melakukan hukum Taurat. Dengan melakukan hukum Taurat, maka mereka diberkati selama hidup di bumi dan nanti kalau mati memperoleh tempat istirahat bersama dengan nenek moyangnya, suatu tempat semacam surga. Orang Kristen hari ini juga hidup dengan pola berpikir seperti anak-anak dunia, fokus hidup mereka masih pada kesenangan dunia, pemenuhan kebutuhan jasmani dan segala kebanggaan lahiriah. Pola keselamatan dengan cara seperti ini adalah pola keselamatan yang sangat mudah, jika dibanding dengan keselamatan dalam Yesus Kristus.