Manusia Unggul
15 January 2021

Play Audio

Di dalam Ibrani 11:6 tertulis, “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah, sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Apa sebenarnya yang dimaksud “iman” di sini? Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Kalau kita memperhatikan iman yang dibicarakan dalam Ibrani 11, ini adalah iman dari orang-orang yang hidupnya luar biasa. Sebelum ayat yang ke-6—dari ayat 1—disebutkan mengenai Habel, Henokh, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub. Mereka adalah orang-orang istimewa; orang-orang yang benar-benar unggul. Tidak sama dengan manusia pada umumnya, mereka adalah pribadi-pribadi yang memiliki keunggulan lebih dari manusia pada umumnya. Dikisahkan satu per satu betapa hebatnya manusia-manusia ini pada zamannya. Dengan demikian, secara tidak langsung hendak dikatakan kepada kita bahwa orang yang memiliki iman yang benar adalah orang yang memiliki keunggulan di dalam hidup. Sehingga mereka menyatatkan sejarah hidup yang luar biasa, yang dapat menjadi pelajaran bagi generasi-generasi berikutnya.

Kita bertanya kepada diri kita sendiri: “Apakah kita memiliki iman seperti yang dimaksudkan dalam Ibrani 11:6 ini?” Pertanyaan itu sama dengan: “Apakah kita memiliki keunggulan yang lebih dari orang-orang di sekitar kita?” Ini masalahnya. Keunggulan apa yang kita miliki yang menandai iman yang kita miliki? Tentu “keunggulan” di sini tidak boleh diartikan sama dengan keunggulan yang dimiliki manusia pada umumnya. Manusia dianggap unggul kalau populer, kaya, berkedudukan tinggi, berkuasa, dan lain sebagainya. Tetapi keunggulan dalam konteks iman adalah orang-orang yang melakukan kehendak Allah, yang oleh karena melakukan kehendak Allah, mereka harus mengorbankan segala sesuatu. Contohnya Nuh, ia harus mempertaruhkan hidupnya demi rencana Allah menghukum dunia ini. Abraham meninggalkan Ur-Kasdim demi menjadi bapak orang percaya yang hidup imannya bisa menjadi teladan dan inspirasi umat pilihan Perjanjian Baru, sekaligus kesetiaannya untuk memiliki kemusafiran, dan itu juga bisa menjadi inspirasi orang percaya Perjanjian Baru untuk hidup sebagai musafir. Ini luar biasa.

Keunggulan manusia-manusia ini adalah mereka hidup sepenuhnya hanya untuk Allah. Orang-orang yang hidup sepenuhnya untuk Allah sama dengan orang yang selalu hidup di hadirat Allah. Orang yang selalu menghayati kehadiran Allah, sehingga dalam segala hal yang dilakukannya selalu disesuaikan, apakah itu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Pada waktu kita bercakap-cakap dengan orang di meja makan sambil ngopi, kita pun menghayati kehadiran Allah di situ; waktu kita sedang rapat, sedang berbicara di ruang tunggu, waktu kita bisnis, waktu kita dagang, pada waktu kita mengajar kalau kita guru, atau pada waktu kita di rumah sakit sebagai tenaga medis, atau kita sedang menjalankan tugas sebagai praktisi hukum, kita selalu melakukan itu di hadirat Allah. Kita tidak melakukan sesuatu supaya kita terhormat, dihargai manusia, atau kita memiliki keuntungan, atau supaya kita menjadi orang yang populer. Tetapi kita melakukan semua itu hanya untuk kesukaan Allah.

Ingat Firman Tuhan mengatakan: “Orang yang berpaling kepada Allah, harus percaya bahwa Allah ada. Sebab tanpa iman, tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.” Ingat itu! Orang yang berpaling pada Allah harus percaya bahwa Allah itu ada. Ini jangan hanya dipahami secara nalar saja dan setuju bahwa itu Firman Tuhan, tetapi kita harus menghidupi Firman ini dan menjadikan pengalaman hidup konkret kita. Kalau kita membaca tokoh-tokoh iman yang disebut sebagai orang beriman dalam Ibrani 11—Habel—dia memberi yang lebih baik. Ini bicara soal sikap hati. Henokh, bergaul dengan Allah di tengah-tengah masyarakat, di ujung dunia yang mau dihancurkan di zaman Nuh, dimana orang-orang berlaku sangat jahat, tapi Henokh berjalan dengan Allah. Abraham, tentu. Nuh, hebat sekali. Yang dikatakan “dari orang-orang sezamannya, dia mencari Allah, dia mendapat kasih karunia, dia menjauhi kejahatan.” Inilah prestasi-prestasi manusia beriman, yaitu orang-orang yang melakukan kehendak Allah, dan demi melakukan kehendak Allah itu, mereka kehilangan segala sesuatu.

Hidup mereka hanya untuk melakukan kehendak Allah, dan itu bisa terjadi, itu bisa terwujud kalau seseorang hidup di hadirat Allah. Orang bisa hidup di hadirat Allah kalau percaya bahwa Allah itu ada, seperti Ibrani 11:6 mengatakan: “Allah ada.” Keberadaan Allah bukan hanya diyakini dalam pikiran, melainkan diwujudnyatakan dalam tindakan, dan dihidupi secara konkret. Orang yang sungguh-sungguh meyakini Allah itu ada, hidup di hadirat Allah, tidak mungkin sewenang-wenang terhadap orang lain; tidak mungkin sewenang-wenang terhadap sesamanya. Dari pembantu rumah tangga, sopir, bawahan, sampai kepada teman sejawat, bahkan senior yang harus dihormati, dan bapak rohani yang harus dijagai. Mereka pasti menaruh hormat secara patut dan tidak melukai.

Tetapi kenyataannya, kita lihat banyak orang tidak bermoral, sewenang-sewenang terhadap sesamanya bahkan kepada senior sendiri, menikam bapak rohaninya, berkhianat, dan herannya, kalau orang sudah menjadi orang terhormat—misalnya kalau di lingkungan gereja itu sekolah tinggi, sudah memiliki sekolah tinggi, sudah punya gelar—jadi busuk. Ilmunya banyak, bicara pintar, punya posisi terhormat, dihargai, tapi jadi busuk. Dan ini memang ironis sekali. Tapi inilah faktanya yang terjadi. Mereka pasti tidak hidup di hadirat Allah, tapi berbicara mengenai iman, berkhotbah mengenai iman, namun hidupnya tidak memiliki keunggulan. Dia merasa punya keunggulan dengan gelar dan jabatan itu, padahal keunggulan yang sesungguhnya yang Allah kehendaki adalah kehidupan yang tidak melukai sesama, hidup yang menjadi berkat bagi orang lain, dan semuanya itu menyukai hati Allah.