Mantan Agama Lain
31 July 2020

Play Audio Version

Ketika ada orang-orang tertentu berpindah agama—dari agama lain kemudian mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat untuk menjadi orang Kristen—tidak jarang mereka disambut secara berlebihan oleh orang-orang Kristen. Mereka mendapat perhatian dan perlakuan istimewa, termasuk kemudahan mengikuti studi di seminari atau sekolah tinggi teologi. Berpindahnya seseorang dari non-Kristen menjadi seorang yang beragama Kristen, bukanlah jaminan bahwa mereka benar-benar telah mengalami pertobatan yang sejati. Kita harus memahami apa yang dimaksud dengan pertobatan itu. Pertobatan bukan saja langkah berhenti berbuat sesuatu yang melanggar moral secara umum atau berpindah keyakinan dari agama non-Kristen menjadi Kristen.

Pertobatan adalah langkah baru sebagai bentuk kesediaan meninggalkan cara hidup yang salah dengan filosofinya, kemudian berusaha untuk mengerti kebenaran Firman Tuhan. Cara hidup yang baru adalah hidup dalam kesucian dan meninggalkan segala bentuk kesenangan dunia dengan meneladani kehidupan Yesus. Bila proses ini berlangsung terus-menerus, seseorang akan benar-benar mengalami perubahan kodrat. Perubahan kodrat inilah target yang harus dicapai oleh setiap orang Kristen, sebab pada dasarnya, keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia ke rancangan semula, yaitu bisa segambar dan serupa dengan Allah atau berkodrat ilahi.

Jadi, orang-orang yang berpindah agama dari non-Kristen menjadi Kristen belum tentu benar-benar telah mengalami pertobatan. Aspek lain yang harus dipertimbangkan adalah perpindahan agama seseorang bisa disebabkan oleh berbagai faktor yang tidak membangun atau mengondisi pertobatan yang sejati. Dalam hal ini, perpindahan agama belum tentu sebuah ciri atau tanda pertobatan yang benar. Kalau dalam agama lain, bisa saja dipahami bahwa perpindahan agama seseorang kepada agama atau keyakinannya sudah dianggap sebagai pertobatan. Tetapi tidaklah demikian dalam kekristenan. Dalam hal ini, yang penting bukan hanya pindah agama menjadi Kristen, melainkan mengenakan normal baru di mata Allah.

Sudah sangat sering terjadi mantan agama lain yang masuk Kristen mendapat kesempatan berdiri di mimbar-mimbar gereja guna menyaksikan pengalaman perpindahan agamanya. Tidak jarang mereka mengemukakan hal-hal yang menjadi bukti kesalahan agama yang pernah dianutnya. Tidak sedikit pula muncul pelecehan terhadap agama yang dianut sebelumnya, pelecehan terhadap Kitab Suci, dan nabinya. Hal ini bisa menimbulkan penistaan agama. Tentu saja, hal ini bisa merusak harmonisasi kehidupan masyarakat yang heterogen, juga membahayakan kelangsungan gereja setempat. Kalaupun ada kesaksian-kesaksian seperti ini, mestinya disampaikan dalam ruangan tertutup hanya pada orang-orang tertentu. Memang bisa saja kesaksian perpindahan agama mereka disaksikan secara terbuka, tetapi harus dengan cara dan isi yang santun.

Ada orang-orang mantan agama lain yang menjadi Kristen memiliki pengetahuan yang baik mengenai agama sebelumnya. Mereka bisa menjadi narasumber untuk memahami agama mereka yang lama, tentu dalam sikap kejujuran (fair) dan dalam pemahaman yang komprehensif. Tentu hal ini bisa memberi input yang sangat berguna bagi orang percaya. Tidak semua orang mantan agama lain yang menjadi Kristen memiliki pemahaman yang baik yang dapat dipercaya mengenai agama lamanya. Pemahaman yang jujur dan komprehensif bisa mengokohkan iman orang percaya terhadap Tuhan Yesus. Orang percaya dapat mengetahui perbandingan dan perbedaan iman Kristen dengan keimanan agama lain.

Mantan penganut agama lain yang mendapat kesempatan studi di seminari atau sekolah tinggi teologi, sebaiknya mendapat perhatian dan penggarapan secara khusus, agar mereka dapat dipersiapkan menjadi hamba-hamba Tuhan yang “selesai dengan dirinya sendiri.” Latar belakang masa lalu yang telah menggores di dalam jiwa mereka telah membentuk atau membangun paradigma yang tidak mudah diubah. Tentu hal ini tergantung waktu dan proses kehidupan masa lalu mereka. Seperti yang dikemukakan di atas, perpindahan menjadi orang Kristen belumlah jaminan pertobatan yang sejati. Kalau mereka tidak mengalami pertobatan yang sejati, pada dasarnya perpindahan agama tersebut tidak ada artinya. Tidak jarang kemudian hari mereka jatuh dalam dosa perzinaan dan masalah uang. Perpindahan seseorang dari agama non-Kristen menjadi Kristen bukanlah jaminan bahwa mereka sudah menjadi dewasa.

Tidak sedikit mantan agama lain ini menjadi pendeta yang berdiri di mimbar-mimbar gereja, bukan hanya menyaksikan pengalaman pertobatan mereka melainkan juga berkhotbah, merumuskan doktrin dan tuntunan etika. Kalau mereka belum diperlengkapi dengan kebenaran yang memadai, maka unsur-unsur agama lama bisa masuk dalam khotbah di mimbar gereja. Memang ada orang-orang non-Kristen yang masuk Kristen dengan kapasitas diri yang baik secara moral maupun pengetahuan Alkitab, tetapi tidak jarang yang kapasitas dirinya belum cukup untuk menjadi seorang pendeta yang mengajar dan mengembalakan jemaat. Mereka mestinya belajar terlebih dahulu dengan baik. Oleh sebab itu, mereka harus mendapat penggarapan khusus agar mereka menjadi hamba-hamba Tuhan yang sangat efektif, bukan saja untuk orang Kristen melainkan juga untuk orang-orang beragama lain. Yang penting, mereka harus mengenal bagaimana menjalani hidup yang normal di mata Allah, sebagai anak-anak-Nya.