Maksud Utama Pentakosta
24 July 2020

Play Audio Version

Kalau kekristenan dalam kehidupan orang-orang percaya dan pelayanan di lingkungan gereja disamakan dengan kegiatan keberagamaan seperti agama lain, berarti telah terjadi kemerosotan atau penyimpangan. Tanpa disadari, telah diajarkan dan ditanamkan dalam kehidupan banyak orang Kristen, suatu Injil yang sebenarnya bukan Injil yang sejati. Dengan ini, sebenarnya kekristenan tidak ada di jalur yang benar. Faktanya, sudah berabad-abad gereja mengalami kemerosotan atau penyimpangan dimana kekristenan tidak berbeda dengan kegiatan keberagamaan seperti agama-agama pada umumnya, dengan segala atributnya. Memang tidak bisa dihindari, kegiatan keberagamaan Kristen seolah-olah mirip dengan keberagamaan manusia pada umumnya, tetapi orientasi hidup orang percaya seharusnya berbeda dengan agama mana pun. Perbedaaannya terletak pada tujuan hidup kekristenan, yaitu perubahan kodrat.

Dewasa ini, orientasi pelayanan sudah mulai bergeser dari maksud keselamatan diberikan, yaitu mengubah kodrat manusia kepada yang lain, di antaranya adalah usaha untuk memperoleh jalan keluar dari kesulitan hidup yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani; seperti masalah ekonomi, kesehatan, jodoh, pekerjaan, karier, dan lain sebagainya. Dari hal ini, lahirlah teologi kemakmuran yang menguasai banyak gereja hari ini. Padahal, kelahiran gereja seharusnya mengarah pada dikembalikan gereja pada semangat Pentakosta awal, dimana gereja hendak dikembalikan pada visi dan misi asli kedatangan Yesus ke dunia. Mengamati gereja mula-mula yang mengalami peristiwa Pentakosta, hendaknya fokus kita bukan hanya tertuju pada “tanda-tanda,” melainkan harus tertuju pada fokus kehidupan mereka yang ditujukan pada Kerajaan Tuhan Yesus yang akan datang.

Pelayanan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani tentu saja menjadi pelayanan yang memikat banyak orang, karena hal ini sangat sesuai dengan “semangat zaman” dan tuntutannya. Gereja-gereja yang menganut teologi kemakmuran dikunjungi oleh banyak orang, karena sesuai dengan kebutuhan yang diburu setiap hari oleh manusia pada umumnya. Dalam gereja-gereja yang mengikuti teologi kemakmuran tersebut, biasanya mereka menyanjung Allah sebagai Allah yang baik dan berkuasa. Di balik sanjungan dan pujian tersebut, mereka bermaksud memanfaatkan Tuhan dan memanipulasi kebaikan dan kuasa-Nya. Sikap seperti ini adalah sikap oportunis dan manipulatif yang berkembang sangat pesat dalam lingkungan gereja-gereja. Ironisnya, mereka merasa sebagai gereja yang diberkati oleh Allah dan para pelayannya sangat percaya diri sebagai hamba Tuhan yang berstandar benar.

Dengan orientasi pelayanan seperti itu, mereka telah melakukan penyimpangan. Orang-orang Kristen dari komunitas ini kelihatannya sangat giat dalam aktivitas keberagamaan, padahal kegiatan rohani mereka tidak berdaya guna mengubah hidup sesuai dengan maksud keselamatan yang diberikan oleh Allah. Biasanya, gereja-gereja seperti ini juga menekankan karunia-karunia Roh; khususnya bahasa roh, penglihatan, nubuatan, dan kesembuhan. Karunia-karunia ini jika didemonstrasikan, menjadi pesona yang kuat agar orang datang ke gereja. Allah mengizinkan karunia-karunia tersebut didemonstrasikan terlepas dari masalah apakah individu-individu itu menjadi dewasa rohani atau tidak. Hal ini yang harus membuat kita lebih waspada dan berhati-hati. Memang kenyataannya, dalam Matius 7:21-23, orang-orang yang sudah mendemonstrasikan karunia-karunia Roh tertolak oleh Allah, karena mereka tidak melakukan kehendak Bapa. Tidak melakukan kehendak Bapa artinya tidak dewasa rohani atau serupa dengan Yesus.

Orang percaya harus berhati-hati, karena sementara mendemonstrasikan karunia-karunia Roh, sangat mungkin hatinya masih bisa terbelenggu oleh percintaan dunia. Belenggu percintaan dunia inilah yang menghambat atau bahkan menggagalkan seseorang masuk Kerajaan Surga. Hal ini bukan saja terjadi atas jemaat awam, melainkan juga atas para pemimpinnya, termasuk mereka yang berhasil membangun gereja besar. Biasanya, kelompok gereja ini menekankan persembahan persepuluhan, sehingga gereja-gereja ini menjadi kaya secara materi. Tetapi pada aspek lain, gereja-gereja aliran ini kalau di daerah, berkeadaan sangat miskin dan kenyataannya sulit sekali keluar dari taraf hidup itu. Pendeta-pendetanya lebih susah dari gereja-gereja yang pendetanya digaji secara permanen.

Pada mulanya, gereja-gereja aliran Pentakosta dan Kharismatik ini kurang memberi perhatian terhadap perguruan tinggi keagamaan Kristen (seminari atau sekolah tinggi teologi), sebab bagi mereka yang penting adalah karunia-karunia Roh yang tidak diperoleh di seminari atau sekolah tinggi teologi. Dahulu (sebelum tahun 1980), mereka memandang curiga lulusan seminari atau sekolah tinggi teologi, karena dianggap hanya berteologi tetapi tidak mendemonstrasikan kuasa Allah. Gereja-gereja ini membangun sekolah Alkitab yang hanya berlangsung selama 6 bulan sampai 1 tahun. Mempertimbangkan keadaan zaman berubah, dimana masyarakat menuntut dan lebih menghargai pembicara yang memiliki gelar, maka sekarang mereka mulai melirik gelar dan mulai membangun seminari dan sekolah tinggi teologi. Tetapi, tidak sedikit sekolah itu hanya kamuflase, sebab nilai akademisnya sangat rendah, sehingga terjadi penipuan akademis. Dan tidak jarang para pemimpinnya menyandang gelar hanya melalui pendidikan yang tidak memenuhi standar. Mereka merasa sebagai gereja Tuhan yang sejati, padahal banyak kepalsuan di dalamnya.