Logos Dan Rhema
25 July 2018

Dalam Roma 10:17, terdapat kalimat yang sangat populer dan sangat penting bagi orang percaya. Kalimat itu adalah: Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. Kata “jadi”, menunjuk atau adanya hubungan dengan ayat atau kalimat sebelumnya. Kalimat sebelumnya berbicara mengenai percaya kepada Yesus, yang membawa kepada pemulihan dalam kehidupan orang-orang yang patuh kepada Injil dan yang berani menderita karena Injil. Dengan demikian, orang-orang percaya yang memberitakan Injil, memberitakan bukan hanya dengan perkataan, tetapi dengan perbuatan dan keadaan konkret. Kehidupan orang percaya seperti itu adalah kehidupan seorang saksi Kristus, memenuhi yang diamanatkan Tuhan Yesus sebelum kenaikan-Nya (Kis. 1:8). Seorang saksi Kristus harus menyatakan kehidupan Tuhan atau Guru yang disaksikan dalam hidupnya, bukan hanya di dalam perkataannya. Harus diingat pada waktu itu, Alkitab Perjanjian Baru belum terbentuk. Injil yang tertulis belum lengkap menjadi satu kesatuan. Bahkan yang pasti Injil Yohanes belum ditulis, atau mungkin juga Injil yang lain. Injil disampaikan secara lisan dengan perkataan dan perbuatan.

Perkataan mengenai apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, dan perbuatan memenuhi yang diajarkan Injil itulah yang didengar dan dilihat oleh orang-orang. Orang bisa mematuhi isi Injil atau beriman karena mendengar apa yang dikatakan, dan melihat apa yang diperagakan oleh orang percaya, di dalamnya termasuk Paulus sebagai saksinya. Itulah sebabnya dikatakan bahwa iman timbul dari pendengaran. Kata “iman” dalam teks ini adalah pistis (πίστις), kata kerjanya adalah piesteuoo(πιστεύω), yang artinya menyerahkan diri kepada obyek yang dipercaya. Adapun kata “pendengaran” adalah akoe (ἀκοή) yang berarti “sesuatu yang didengar, dikhotbahkan, dan dilaporkan”. Kehidupan orang percaya yang menjadi saksi adalah kehidupan yang memperdengarkan, mengkhotbahkan, atau melaporkan apa yang mereka ketahui dan mereka lihat. Tentulah mereka yang menjadi saksi, bukan hanya menyajikan perkataan yang diperdengarkan atau dikhotbahkan, tetapi juga menunjukkan hidup yang menjadi kesaksian bagi semua orang.

Pendengaran oleh Firman Kristus. Ada hal-hal yang menarik dari kalimat dalam ayat ini. Dalam teks aslinya dalam salah satu terjemahan bahasa Yunani berbunyi: Ara he pistis eks akoes, he de akoe dia rhematos Khristos(ἄρα ἡ πίστις ἐξ ἀκοῆς, ἡ δὲ ἀκοὴ διὰ ῥήματος Χριστοῦ). Dalam terjemahan bahasa Yunani versi lain diterjemahkan: Ara he pistis eks akoes, he de akoe dia rhematos theou (Ἄρα ἡ πίστις ἐξ ἀκοῆς, ἡ δὲ ἀκοὴ διὰ ῥήματος θεοῦ). Salah satu terjemahan menggunakan kata Firman Kristus, tetapi di terjemahan lain menggunakan kata Firman Theos. Bagaimana memecahkan masalah ini?

Kita mulai dulu dengan memecahkan pengertian kata Firman. Kata Firman dalam ayat ini adalah Rhema, bukan Logos. Logos yang terkait atau dalam konteks suara Tuhan, adalah Firman dalam pengertian pengetahuan atau filosofi. Sedangkan Rhema adalah Firman dalam pengertian suara Tuhan yang diterima dalam suatu situasi konkret. Kata “Kristou” dari salah satu terjemahan bahasa Yunani (versi pertama) artinya yang diurapi. Kata Kristus menunjuk kepada sosok Pribadi yang diurapi. Kata Kristus dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris menggunakan huruf besar, tetapi dalam teks aslinyatidak ada perbedaan. Jadi, tidak tertutup kemungkinan, kata Kristus menunjuk kepada Pribadi Kristus, tetapi juga tidak tertutup kemungkinan menunjuk orang-orang yang diurapi yang menyampaikan Firman Theos dari Rhema yang diperoleh dari Tuhan Yesus.

Mengapa Roma 10:17 tidak menggunakan kata Logos?Sebab Logosadalah pengetahuan yang berasal atau dimiliki oleh Tuhan. Allah Anak atau Yesuslah Sang Logos. Rhema dalam Roma 10:17 adalah suara Tuhan atas “orang-orang yang diurapi”, yang kemudian disampaikan kepada bangsa-bangsa kafir atau orang -orang tidak mengenal Allah. Harus diingat bahwa pemberitaan Firman (Rhema) oleh para rasul atau orang Kristen mula-mula adalah pemberitaan Firman secara lisan, bukan tertulis, sebab Alkitab Perjanjian Baru belum terbentuk. Mereka tidak memiliki doktrin teologi dan kajian ilmu teologi seperti yang dimiliki banyak pendeta hari ini. Mereka tidak memiliki pendidikan Sekolah Tinggi Teologi dengan perpustakaan-perpustakaan yang besar. Tetapi mereka memiliki perjumpaan dengan Tuhan, sehingga mereka memiliki Rhema.

Firman Tuhan dalam Matius 10:19 dapat digenapi dengan penuh (Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga). Dalam hal ini Roh Kudus selalu memberi perkataan (Rhema) di dalam pikiran orang percaya. Orang-orang kafir atau orang-orang yang tidak mengenal Allah belum bisa menerima atau memiliki Rhema, hanya orang yang diurapi yang memiliki Rhema. Iman timbul dari pendengaran, artinya orang kafir bisa memiliki iman karena menyaksikan kehidupan orang percaya yang benar dan pemberitaan Firman secara lisan yang memuat suara Tuhan (Rhema) yang telah para pemberita Firman terima dari Tuhan. Dengan demikian, idealnya, hanya orang-orang yang telah memperagakan kehidupan Yesus -sehingga menerima Rhema dari Tuhan- yang efektif menjadi pemberita Injil.