Logika Rohani
30 December 2020

Play Audio Version

Dalam kehidupan ini, Allah memberi tanggung jawab setiap individu atas dirinya sendiri di hadapan Tuhan yang memberi kendaraan hidup ini. Tuhan menciptakan manusia dan melengkapinya dengan pikiran, perasaan, dan kehendak. Semua itu merupakan sarana atau perlengkapan untuk dapat mengemudikan kehidupan masing-masing individu. Manusia harus belajar bagaimana mengemudikan hidupnya secara benar, sesuai dengan kehendak yang menciptakan kehidupan itu, dan mengarahkannya ke arah yang benar. Paulus dalam suratnya mengatakan: “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak” (1Kor. 9:26-27). Kalimat ini dalam teks Yunaninya adalah alla hupopiazo mou to soma kai doulagogo mepos, allois kheruksas autos adokimos genomai (ἀλλ᾽ ὑπωπιάζω μου τὸ σῶμα καὶ δουλαγωγῶ, μήπως ἄλλοις κηρύξας αὐτὸς ἀδόκιμος γένωμαι). Kata adokimos artinya bukan saja berarti “ditolak,” melainkan juga “tidak disetujui (disapprove), dibuang (cast away)” atau “tidak diperhitungkan karena dianggap tidak memenuhi syarat (be disqualified).” Pernyataan Paulus ini jelas menunjukkan bahwa kita harus menguasai atau mengendalikan hidup sedemikian rupa, supaya kita diterima di Kemah Abadi.

Untuk dapat mengendarai hidup ini dengan benar dan mengarahkannya ke arah yang Tuhan kehendaki, bukan sesuatu yang sederhana dan mudah. Kita harus bergumul dengan segenap hidup. Inilah perjuangan yang tiada berakhir sampai kita menutup mata. Dalam hal ini, orang percaya diajar untuk mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Manusia harus mengarahkan kehendaknya sendiri. Untuk itu, kita harus mengisi pikiran kita dengan sesuatu yang baik. Kalau kebenaran diisikan dalam pikiran, maka pikiran akan terarah ke surga dan Kerajaan-Nya. Hadirat Tuhan yang dirasakan setiap hari akan mengarahkan selera jiwa kita kepada Tuhan, sampai kita merasakan bahwa kebutuhan kita hanyalah Tuhan saja. Kita harus memiliki ketekunan fokus kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya, dan tidak bergeser. Ke arah inilah kita menemukan tujuan hidup kita. Untuk itu, kita harus memiliki logika rohani. Logika seseorang mengarahkan kemudi hidupnya.

Untuk mengubah logika duniawi ke logika rohani, memang membutuhkan waktu yang panjang. Kita harus terus-menerus memenuhi pikiran dengan Firman Tuhan, serta mengalami hadirat Tuhan setiap hari. Ini adalah perjuangan yang harus kita lakukan tiada henti sebagai satu-satunya agenda hidup ini. Hal ini tidak bisa muncul dengan sendirinya. Kitalah yang harus berjuang dalam ketekunan maksimal, artinya tidak ada yang kita perjuangkan lebih dari hal ini. Selama kita masih sibuk menikmati kepuasan materi hari ini, maka tidak ada pergumulan perjuangan untuk mengubah logika kita. Kita yang harus mengisi pikiran dengan kebenaran-kebenaran murni dalam Alkitab dan menyadari bahwa masih banyak unsur “duniawi” di dalam logika kita.

Orang percaya yang bergumul dalam perjuangan mengubah logika ini, akan merasa bahwa kehidupannya sedang meluncur ke arah yang tidak jelas, artinya suatu arah yang asing yang tidak pernah dipahami sebelumnya. Ia merasa seperti menjadi manusia asing di bumi, dibanding dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Kadang-kadang juga merasa seperti orang yang “tidak menginjak tanah.” Merasa tidak berpikir secara realistis. Namun, kalau perjuangan ini dilakukan terus-menerus dengan tekun dalam pimpinan Roh Kudus, maka ia menyadari bahwa dirinyalah yang realitis, sedangkan manusia yang lain seperti mimpi. Ini adalah kehidupan yang “mencari perkara-perkara yang di atas.” Orang-orang seperti ini dapat hidup di hadirat Allah. Orang yang masih berlogika duniawi tidak bisa hidup di hadirat Allah.

Tidak sedikit orang Kristen yang aktif dalam kegiatan pelayanan, bahkan menjadi pendeta, mengerjakan pekerjaan gerejani, tetapi belum sepenuh hidup mengarahkan dirinya kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya, sebab logika mereka masih duniawi. Hal ini disebabkan oleh karena pengaruh dunia yang sudah meracuni diri mereka, dan mereka tidak mengasup kebenaran yang murni dari Alkitab. Mereka berpikir kalau mereka sudah mempercakapkan hal-hal rohani, mereka merasa sudah hidup di dalamnya. Padahal, yang mereka percakapkan bukanlah kebenaran yang murni. Kalau sudah mempercakapkan mengenai Tuhan, mereka merasa sudah memfokuskan hidupnya pada Tuhan. Padahal, mempercakapkan hal Tuhan dengan mengarahkan kemudi hidup kepada Tuhan adalah hal yang sangat berbeda. Mengarahkan kehendak tidak cukup mengarahkan paham teologi ke arah tertentu. Mengarahkan kehendak artinya mengembangkan minat hanya bertemu dengan Tuhan Yesus, dan kerinduannya hanyalah Kerajaan-Nya. Kebahagiaan hidup orang percaya seperti ini tidak lagi ditopang oleh kekayaan materi dunia, tetapi kehadiran Tuhan atau hadirat-Nya. Dalam semua ini, logika memiliki pengaruh dan peran yang sangat besar.