Layak Hidup dalam Perdamaian dengan Allah
22 September 2020

Play Audio Version

Dalam Roma 14:17 tertulis: “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” Kalimat “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman,” tidak dapat diartikan bahwa berarti di dalam Kerajaan Surga tidak ada makan dan minum. Yesus sendiri mengatakan bahwa di dalam Kerajaan Surga, kita akan makan dan minum bersama Dia (Luk. 22:30). Maksud firman Tuhan ini adalah bahwa Kerajaan Allah tidak menekankan masalah pemenuhan kebutuhan jasmani. Tetapi masalah bagaimana orang percaya memiliki kehidupan sebagai warga Kerajaan Surga yang hidup dalam perkenanan Tuhan dengan melakukan kehendak Tuhan, yaitu kebenaran-Nya, dan damai sejahteranya tidak tergantung oleh suasana dunia ini. Orang yang suasana hatinya masih tergantung pada dunia sekitar, tidak akan dapat berdamai dengan Allah secara benar. Orang yang suasana jiwanya tergantung pada Tuhan adalah orang yang bisa hidup dalam perdamaian dengan Tuhan.

Orang percaya yang benar menunda semua kenikmatan hidup, dan memindahkannya ke dalam Kerajaan Surga nanti, di langit baru dan bumi yang baru. Oleh sebab itu, pengetahuan kita mengenai surga harus benar dan jelas agar kita mengerti apa yang disediakan Allah Bapa kepada kita. Allah tidak menghilangkan kemanusiaan kita. Kemanusiaan kita tetap abadi sebagai ciptaan Allah. Untuk itu, Allah menyediakan semua kenikmatan hidup bagi kemanusiaan kita di dalam dunia yang akan datang. Harus diingat, bahwa manusia tetaplah manusia yang membutuhkan kenikmatan hidup. Tentu saja Tuhan mengetahui kebutuhan manusia tersebut, dan Tuhan menyediakannya di langit baru dan bumi yang baru. Oleh sebab itu, adalah bijaksana kalau orang percaya menunda semua kesenangan di dunia. Nanti di Kerajaan Tuhan Yesus, kita baru menikmatinya. Kita harus memercayai fakta mengenai Kerajaan Surga tersebut dan sabar menantikan penyataan dari Kerajaan Surga tersebut.

Oleh sebab itu, kita harus menaruh pengharapan di dalam Kerajaan Surga, seperti yang dikatakan Petrus dalam 1 Petrus 1:3-4, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan,untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.” Inilah yang dimaksud oleh Yesus sebagai “harta di surga,” yaitu kehidupan bersama dengan Tuhan di Kerajaan Surga. Keindahannya bukan karena pijakannya dari emas, pintunya berhiaskan mutiara, dan lain-lain, melainkan tempat di mana ada kehadiran Allah dan perjumpaan dengan Tuhan Yesus. Tempat di mana tidak ada dosa dan kejahatan. Tempat di mana perdamaian dengan Allah dapat terbangun abadi tanpa ada gangguan sama sekali.

Perlu ditambahkan catatan penting di sini, bahwa janji ini bukan untuk semua orang Kristen, melainkan untuk mereka yang sudah teruji dan yang sudah mencapai keselamatan jiwanya, seperti yang dikatakan oleh Petrus: “Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir. Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu–yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu” (1Ptr. 1:5-9).

Dari ayat-ayat di atas, dapat diperoleh kebenaran. Pertama, Allah akan memberi kekuatan untuk memelihara iman mereka. Dimana jemaat pada waktu itu berada di tengah-tengah penderitaan aniaya yang luar biasa. Itulah sebabnya, mereka masih bisa bersukacita di tengah-tengah penderitaan. Kedua, jemaat menaruh pengharapan untuk kehidupan yang akan datang. Mereka menantikan keselamatan yang telah Tuhan sediakan, artinya realisasi dari keselamatan yang Tuhan berikan. Tentu saja pengharapan tersebut memberi kekuatan kepada mereka di tengah-tengah penderitaan yang mereka alami. Ketiga, semua penderitaan menjadi ujian terhadap iman mereka. Tuhan memang tahu kualitas hidup mereka, tetapi bagaimana pun harus ada verifikasi secara konkret dari kehidupan mereka yang dapat membuktikan kesetiaan mereka kepada Tuhan. Petrus menyatakan bahwa mereka sudah mencapai tujuan iman mereka, yaitu ketika mereka teruji melalui segala pencobaan. Mereka bisa setia sampai mati. Orang-orang yang berprestasi rohani seperti ini adalah orang-orang yang layak hidup dalam perdamaian dengan Allah.