Landasan Kemurahan Allah
24 June 2018

Terkait dengan pembahasan bab ini, kita perlu mengoreksi pandangan banyak teolog yang memungut ayat dalam Yesaya 64, dan ternyata keluar dari konteksnya. Yesaya 64:6 tertulis: Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin. Kesalehan bangsa Israel pada zaman pembuangan dan paskapembuangan yang jahat tersebut berkualitas seperti kain kotor. Hal ini menunjukkan betapa rusaknya bangsa itu pada zaman tersebut. Sangatlah keliru, kalau kemudian ayat itu dikenakan untuk semua manusia yang hidup di bumi. Pertanyaannya apakah Ayub termasuk di dalamnya? Henokh? Abraham, dan lain sebagainya? Hal ini terjadi hanya karena mereka membangun teologi predestinasi yang salah. Hal ini sekilas terkesan bukan masalah besar, tetapi sebenarnya memiliki implikasi yang sangat luas dalam memahami konsep keselamatan. Dari penafsiran mereka, maka terbangun pandangan bahwa tidak ada seorangpun yang baik, jadi kalau seseorang bisa selamat, hal itu karena pemilihan Allah berdasarkan kedaulatan-Nya secara sepihak.

Dalam Roma 9:16 tertulis: Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah. Menganalisis ayat ini, kita harus tetap dalam konteks: bagaimana Allah memberi kasih karunia dan belas kasihan kepada Musa. Hendaknya ayat ini tidak dibawa kepada konteks yang berbeda atau tidak simetris. Jika dipertanyakan mengapa Allah memberi kasih karunia dan belas kasihan kepada Musa, maka jawabnya ada di dalam keluaran 33:17 – “Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau.” Kata mengenal dalam teks aslinya adalah yada (ידע), yang artinya mengenal karena menikmati atau mengalami. Kata ini digunakan dalam Kejadian 4:1 Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: “Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN.” Kata bersetubuh dalam teks aslinya juga menggunakan kata yada. Penjelasan dalam paragraf ini juga menjadi pertimbangan mengapa Allah memilih Yakub. Sebab Yakub memang lebih baik dari Esau dan layak menerima “Berkat Perjanjian”; bahwa dari keturunan Abraham semua bangsa di bumi akan diberkati. Dalam hal ini, Allah tidak sembarangan memilih.

Tentu saja kemurahan hati Allah tidak ditujukan kepada sembarang orang. Seperti yang telah dijelaskan bahwa di dalam Diri Allah ada tatanan. Dalam memberikan kasih karuna dan belas kasihan pun pasti berdasarkan tatanan di dalam Diri Allah yang sempurna. Kemurahan hati Allah pasti ditujukan kepada orang-orang tertentu dengan landasan sesuai dengan sifat dan hakikat Allah yang kasih, kudus, adil, mulia, bijaksana dalam segala kesempurnaan-Nya. Memang hal ini merupakan misteri Ilahi. Tetapi dari memahami hakikat dan karakter Allah di dalam Alkitab, kita dapat menyimpulkan bahwa Allah bertindak berdasarkan tatanan dan hukum di dalam Diri-Nya. Dalam hal ini sudah sangatlah pasti bahwa Allah tidak akan pernah bertindak sewenang-wenang tanpa tatanan yang sempurna.

Jadi, sangatlah adil kalau Allah memilih Yakub dan menolak Esau. Ada dasar atau alasan Allah bertindak demikian. Demikian pula dalam pemilihan Allah atas bangsa di luar Israel sebagai umat pilihan atau menjadi bagian dari umat pilihan Allah. Israel sejati bukanlah mereka yang berdarah keturunan Yakub saja, tetapi yang memiliki iman seperti Abraham. Adalah adil kalau bangsa-bangsa ‘kafir’ menjadi umat pilihan yang kekal atau umat pilihan permanen sampai kekekalan, karena iman kepada Yesus Kristus. Allah memiliki alasan untuk bertindak demikian, sebab walau bangsa Israel adalah umat pilihan secara darah daging dengan segala hak istimewa, tetapi mereka menjadi keras kepala dan tegar tengkuk dengan menolak kasih karunia dalam Yesus Kristus, sehingga mereka tertolak. Allah memiliki alasan menolak mereka.

Dengan penolakan Allah atas bangsa Israel dan menerima bangsa lain menjadi Israel yang sejati (umat pilihan yang permanen), bukan berarti Allah tidak adil. Justru itulah keadilan Allah. Bangsa Israel menolak Mesias bukan karena direkayasa oleh Allah, bukan karena Allah tidak memberi kasih karunia dan belas kasihan-Nya, tetapi karena keras hati dan kesombongan hati bangsa Israel. Inilah yang membuat Paulus berdukacita, bahkan rela terlaknat demi saudara-saudara sebangsanya. Terkait dengan hal ini, Paulus mau menunjukkan bahwa cara Allah memberi keselamatan adalah kebijaksanaan-Nya, tidak ada yang dapat mengatur Allah. Kesalahan bangsa Israel, yaitu karena mereka mau membangun kebenarannya sendiri, sehingga mereka menolak “jalan Tuhan” yang telah diberikan Bapa kepada manusia melalui karya salib Tuhan Yesus. Kalau pada akhirnya Allah menolak bangsa Israel -sehingga mereka tidak menjadi umat pilihan yang permanen bagi Allah, bahkan memilih bangsa-bangsa lain menjadi umat pilihan- bukan berarti Allah tidak adil.