Landasan Berpikir
23 December 2016

Ketika belum disingkapkan mengenai keberadaan Allah yang sesungguhnya, bangsa Israel sebagai pewaris pengenalan akan Allah hanya mengenal Allah sebagai satu Pribadi Tunggal atau Esa secara dangkal. Itulah sebabnya mereka menjadi “fanatik buta” dalam mengakui bahwa Allah hanya satu Pribadi. Jika ada usaha untuk mensejajarkan oknum lain dengan Yahwe, maka mereka akan sangat bereaksi keras dan mencapnya sebagai menghujat Allah. Menghujat Allah dipandang sebagai dosa besar yang bisa mendatangkan hukuman mati bagi pelakunya. Memang menghujat Allah dipandang sebagai dosa yang tidak dapat diampuni. Oleh karena hal ini kita mengerti mengapa agama samawi yang memercayai bahwa Allah itu esa dalam arti satu atau tunggal sangat menentang ke-Ilahian Yesus. Hal ini yang paling sulit diterima.

Tuhan Yesus dituduh oleh para pemimpin agama Yahudi sebagai menghujat Allah karena mensejajarkan diri sebagai Allah di mana Ia menyebut diri sebagai Anak Allah dan bisa mengampuni dosa (Mat. 9:1-3, 26:65; Mrk. 2:7; Luk. 5:21 dan lain sebagainya). Dari hal ini kita bisa memahami kalau sekarang ini dan di sepanjang zaman ada pihak-pihak yang menentang keras Kekristenan karena dianggap melecehkan Allah dengan mengakui Tuhan Yesus sebagai Allah. Hal ini terjadi, sebab seperti bangsa Yahudi mereka memandang keesaan Allah secara salah. Kesalahan ini menjadi penyebab utama sulitnya atau tertutupnya kemungkinan menerima Yesus sebagai Allah Anak, Raja dan Tuhan yang memerintah.

Itulah sebabnya antikris di sepanjang zaman, yaitu suatu gerakan yang membenci Yesus Kristus, akan berusaha sekuat tenaga berekspansi secara cepat untuk dapat memberi landasan berpikir pada banyak orang agar meyakini bahwa Allah itu esa dalam arti tunggal atau satu. Bagi orang Roma, hanya Kaisar dan dewa-dewanya yang layak disembah. Hal ini menjadi cara yang sangat efektif untuk menutup hati terhadap ke-Tuhanan Yesus dan keberadaan-Nya sebagai Juru Selamat.

Walau Yahwe sudah menyatakan dengan jelas kepada mereka di dalam Alkitab mengenai adanya “seorang tuan dan nabi” yang akan datang di tengah-tengah mereka, tetapi mata hati mereka tetap tertutup. Dalam hal ini kita menemukan dan kita harus mengerti bahwa keberagamaan (agama samawi) bisa menjadi musuh besar dan utama terhadap Injil. Namun demikian tentu tidak semua penganut agama samawi membenci Injil dan orang Kristen sebagai penganutnya.

Ketika Tuhan Yesus datang ke dunia, Ia menyatakan mengenai siapa dan bagaimana Allah itu. Itulah sebabnya dalam suatu pernyataan Tuhan Yesus berkata: Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya (Mat. 11:27). Dengan kedatangan Tuhan, khususnya ketika Tuhan Yesus memanggil Allah (Theos) sebagai Bapa, eksistensi Allah terkuak atau tersingkap dengan jelas.

Ternyata dalam lembaga Allah (Elohim) ada Bapa dan Anak. Rahasia ini tersimpan selama berabad-abad. Kita patut bersyukur jika sekarang ini kita bisa memahaminya secara lengkap dan mendetail mengenai keberadaan Allah yang jamak ini.

Dalam Perjanjian Baru, biasanya Bapa lebih banyak mendapat julukan sebagai Theos (Allah) dan Tuhan Yesus Kristus sebagai Kurios (Tuhan). Pada waktu Tuhan Yesus mengenakan tubuh manusia, bicara mengenai Allah itu menunjuk kepada Bapa. Bapa adalah Allah yang juga dipanggil oleh Yesus sebagai Allah sendiri. Ketika di kayu salib Yesus memanggil-Nya Bapa.

Pada waktu Tuhan Yesus mengenakan tubuh manusia, semua tugas pemerintahan diambil alih sepenuh oleh Allah Bapa. Pada waktu itu tidak ada Allah selain Bapa, sebab Allah Anak mengosongkan diri sebagai manusia seratus persen. Perwakilan dari Bapa adalah Roh Kudus yang melaksanakan tugas Bapa di sepanjang zaman dan di segala tempat. Roh Kudus akan tetap berkarya mewakili Bapa dan Anak sejak Yesus menerima segala kuasa di surga dan di bumi. Roh Kudus atau Roh Allah adalah kuasa Allah satu-satunya.