Kudeta Terhadap Allah
17 November 2020

Play Audio Version

Kita belajar dari sejarah gereja kenyataan adanya gereja-gereja yang menyimpang dari kebenaran, tetapi masih bisa berusia ribuan tahun. Mereka benar-benar tidak mengajarkan kebenaran Alkitab, bahkan melarang umat untuk membaca Alkitab, sehingga Alkitab tidak digandakan. Pada waktu itu, Alkitab hanya dapat dibaca dan dimiliki oleh segelintir orang saja. Di manakah Allah pada waktu itu? Mengapa Allah berdiam diri? Tidak sanggupkah Allah mengembalikan gereja-Nya di jalan yang benar? Tentu saja Allah adalah Allah yang hidup, Allah Mahahadir. Sebenarnya, Ia tidak berdiam diri, dan Allah sanggup mengembalikan gereja-Nya pada jalur yang benar. Tetapi Allah memiliki tatanan, Ia tidak bertindak sendiri. Allah mencari orang-orang yang dapat menjadi alat di dalam tangan-Nya untuk mengembalikan gereja di jalur yang benar. Dalam hal ini, kita dapat menemukan bahwa Allah selalu memakai manusia untuk melakukan kehendak-Nya.

Tanpa disadari, telah terjadi sebuah tindakan kudeta terhadap Allah dalam kebenaran yang mestinya secara murni diajarkan kepada umat. Kudeta itu dilakukan terhadap kebenaran murni dari Alkitab oleh para teolog di seminari atau Sekolah Tinggi Teologi. Mereka telah membangun suatu pola berpikir, sistematika berpikir dan teologi yang dianggap sebagai standar baku, mutlak, dan absolut. Di luar apa yang mereka pahami sebagai kebenaran, dianggap bukan kebenaran yang berasal dari Allah. Padahal justru sebaliknya, banyak pandangan teologi, doktrin, atau ajaran mereka yang sebenarnya bertentangan dengan kebenaran murni Alkitab. Pembuktian terhadap hal ini dapat dilihat dari kehidupan orang-orang Kristen di Barat. Doktrin dan ajaran yang mereka gariskan atau rumuskan ternyata tidak mampu membuat pengajaran itu sendiri untuk terus mengalami sebuah progresivitas atau mutasi kepada isi yang lebih sempurna atau lengkap, agar dapat mengimbangi perkembangan perjalanan sejarah kehidupan manusia.

Teologi yang benar adalah teologi yang dapat menyelamatkan manusia; artinya benar-benar dapat mengubah manusia untuk menjadi sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus, atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Mat. 5:48; Rm. 8:28-29; Ibr. 11:9-10; 2Ptr. 1:3-4). Ini berarti bukan sekadar pandangan teologi yang mengisi khazanah teologi di perpustakaan dan hanya terdapat dalam pikiran tanpa memiliki potensi atau kuasa mengembalikan manusia ke rancangan Allah semula. Banyak teologi yang hanya mengisi pikiran atau nalar, yang lebih berpotensi membangkitkan perdebatan serta kepuasan rasio, tetapi tidak memiliki implementasi yang konkret di dalam kehidupan nyata. Teologi seperti ini tidak membawa manusia kepada rancangan Allah semula, dan teologi seperti ini pasti teologi yang tidak benar.

Teologi yang benar bukan hanya efektif untuk manusia pada zamannya—yaitu zaman di mana teologi itu dimunculkan—tetapi juga efektif untuk manusia di sepanjang zaman. Oleh sebab zaman selalu berubah, maka teologi yang benar adalah teologi yang bisa mengalami sebuah progresivitas. Ini bukan berarti teologi tersebut tidak berintegritas, tetapi memang oleh karena kita hidup dalam dunia yang selalu berubah, maka teologi harus dapat menjadi teologi yang bergerak secara dinamis dalam pimpinan Roh Kudus berdasarkan Alkitab. Di sinilah kita dapat menemukan keunikan kebenaran di dalam Alkitab yang memiliki dinamisitas dan fleksibilitas yang tinggi, tanpa merusak esensi atau substansi kebenaran yang termuat di dalamnya.

Oleh sebab itu, kita harus bersikap kritis, selektif, dan antisipatif terhadap segala ajaran yang selama ini sudah dianggap benar. Kita sangat membutuhkan Roh Kudus untuk membuka pikiran, guna menangkap kebenaran yang Allah singkapkan di zaman kita ini, sesuai dengan keadaan kita hari ini, yaitu kebenaran murni yang dapat menjawab kebutuhan kehidupan iman kita di tengah-tengah dunia yang sangat jahat ini. Hal ini bukanlah tindakan mengkhianati para teolog dan keputusan konsili di masa lalu, tetapi melengkapi apa yang mereka telah gagas dan temukan pada zamannya, yang memang sangat efektif pada zaman itu. Alkitab belum berhenti dieksplorasi dan kebenarannya belum kering, juga memang tidak akan pernah kering.

Semua fenomena di atas sebenarnya adalah peta yang jelas dari gerakan kuasa gelap yang benar-benar sistematis, masif, dan terstruktur. Hal ini bisa terjadi karena memang setan atau Iblis sangat berpengalaman dalam perjalanan panjang petualangannya, dimana kuasa gelap berusaha menghancurkan pekerjaan Allah di dalam lingkungan gereja atau di jantung pekerjaan Allah. Sejatinya, hal ini tidak mengherankan, karena setan atau Iblis sendiri pernah memberontak di pusat Kerajaan Allah. Dalam hal ini, kuasa gelap menggunakan orang-orang tertentu sebagai alatnya. Ironisnya, orang-orang yang mengajarkan teologi atau doktrin atau ajaran tersebut merasa sedang membela kebenaran dan merasa ada di pihak Tuhan. Padahal, justru mereka yang sedang memusuhi kebenaran dan menjadi alat setan agar orang-orang Kristen tidak memahami keselamatan yang sejati yang Yesus ajarkan.