Kuasa Ilahi Yang Membebaskan
28 October 2018

Kedua, pengenalan akan Tuhan berperan dalam penanggalan nafsu daging. Dalam Yohanes 8:31-32 terdapat pernyataan Tuhan Yesus yang berkaitan dengan pengenalan akan Tuhan yang dikalimatkan “Mengenal kebenaran” (Yun. gnosesthe aletheian). Tuhan Yesus berkata “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu”. Kemerdekaan ini adalah kemerdekaan dari dosa. Dalam hal ini harus kita mengerti bahwa ketika seseorang bertobat dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dosa-dosa masa lalu dihapus, tetapi “kodrat dosa” (sinful nature) tidak otomatis lenyap. Sejak pertobatan awal itulah Tuhan menghendaki orang percaya bertumbuh dalam kesucian.

Langkah atau proses di atas ini dikalimatkan sebagai: penanggalan manusia lama yang menyesatkan. Berbicara mengenai penyesatan, biasanya selalu dihubungkan dengan ajaran, yaitu ajaran yang tidak sesuai dengan Alkitab. Namun ternyata penyesatan bukan hanya berkaitan dengan pengajaran, tetapi juga dengan tingkah laku manusia. Dalam hal ini penyesatan berkaitan dengan nafsu (Yun: epithumia – strong desire). Dalam Roma 13:14, epithumia ini diterjemahkan “sinful nature“. Penanggalan manusia lama ini berlangsung oleh sarana pengenalan akan kebenaran Firman Tuhan.

Dalam 2 Petrus 1:3-4 kita temukan penjelasan Petrus mengenai hubungan pengenalan akan Tuhan dengan kesucian hidup. Ada beberapa pokok pikiran yang harus diperhatikan dengan seksama dari ayat tersebut: Penting dipahami kalimat “kuasa ilahi menganugerahkan kepada kita segala sesuatu untuk hidup saleh”, yang mengisyaratkan bahwa kuasa Tuhan bukan hanya dikaitkan dengan perbuatan-perbuatan spektakuler, tanda-tanda ajaib dalam pelayanan. Dalam ayat ini tekanan maksud kuasa Ilahi Tuhan diberikan “guna hidup yang saleh”. Agar kita mengambil bagian dalam kodrat Ilahi. Kedua, kuasa Ilahi tersebut tersalur melalui “pengenalan akan Tuhan”. Perhatikan “oleh pengenalan kita akan Dia”. Dalam teks aslinya “dia tes epignoseos tou kaleo antos hemas” (through the full knowledge of the One calling us). Ibarat pipa saluran, saluran untuk mendayagunakan kuasa Ilahi yang berguna untuk hidup yang saleh adalah pengenalan akan Tuhan.

Akhirnya pengenalan akan Tuhan memerdekakan kita dari ikatan mammon. Kemerdekaan dari ikatan mammon ini menyangkut kemerdekaan dari pola pikir duniawi. Tuhan menghendaki kita memasuki perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Perlombaan itu adalah menanggalkan segala beban dan dosa (Ibr. 12:1). Segala beban maksudnya adalah keterikatan kita dengan dunai ini. Bila kita menghubungkan hal kemerdekaan dari ikatan perkara duniawi dengan pengenalan akan Tuhan, kita dapati relasional yang erat pula. Dalam Matius 6:19-21, ketika Tuhan berbicara mengenai mengumpulkan harta di surga, Yesus berbicara mengenai “mata adalah pelita tubuh”. Mata di sini adalah pengertian tentang hidup. Kalau pengertian kita tentang hidup sudah salah, maka gelaplah hidup kita. Kita akan memandang keliru berbagai hal dalam hidup ini dan bertindak keliru.

Dalam perikop Matius 6:19-24 orientasi pembicaraan Tuhan mengenai mammon. Tuhan Yesus hendak menjelaskan di sini bahwa orang-orang yang hidup untuk mammon adalah orang-orang yang gelap hidupnya.

Perasukan Iblis atas manusia bukan saja kalau seseorang kerasukan setan
yang manisfestasinya secara lahiriah menakutkan,
tetapi filsafat mammonisme yang membuat manusia mengesampingkan
segala sesuatu -bahkan Allah sendiri- adalah perasukan setan yang sangat berbahaya.

Berkenaan dengan ini kita menemukan betapa pentingnya kebenaran Firman Tuhan yang mengubah pikiran dan pengertian kita untuk mengenal kebenaran-Nya (Yoh. 17:17; Rm. 12:2). Sebab bila kita tidak bertumbuh dalam pengertian kebenaran Allah, kekayaan akan menipu kita (Mat. 13:22). Tipu daya inilah yang membuat orang Kristen tidak bertumbuh. Dosa mammonisme adalah bentuk ikatan yang menenggelamkan manusia kepada kebinasaan. Pelepasan dari ikatan ini maksudnya adalah mengerti kebenaran Firman-Nya dan bertumbuh dalam pengenalan akan Allah. Dalam ucapan-Nya (Mat. 6:22-23) ini Tuhan Yesus menegaskan kalau pengertian seseorang tentang kebenaran sudah gelap, maka gelaplah hidupnya, cara memandang dunia dan harta dunia pasti keliru. Orang-orang seperti ini masih terikat dengan perkara duniawi.