Kualitas Iman Abraham
23 January 2021

Play Audio

Pada umumnya, sebagai orang Kristen pasti kita mengaku sebagai anak-anak Abraham. Bukan berdasarkan darah daging, melainkan berdasarkan iman. Kalau orang Israel adalah keturunan Abraham berdasarkan darah daging, tetapi anak-anak Abraham secara iman adalah orang percaya yang kualitas percayanya seperti Abraham. Jika demikian, sebenarnya banyak orang Kristen yang belum menjadi anak-anak Abraham karena tidak memiliki tindakan iman seperti tindakan iman Abraham. Lagipula, iman yang dimiliki orang-orang Kristen itu belumlah iman yang menyelamatkan, sebab iman yang menyelamatkan adalah tindakan seperti yang Abraham lakukan; bertindak melakukan apa yang Allah kehendaki.

Banyak orang Kristen yang sejatinya masih menjadi anak-anak dunia. Mereka tidak bertindak seperti apa yang Allah kehendaki, tapi bertindak sesuai dengan apa yang mereka ingini—dan yang diingininya adalah hasil “suntikan” dari pengaruh dunia. Apa yang mereka lihat di dunia, diikuti. “Aku mau buat ini, aku mau buat itu; aku mau punya ini, aku mau punya itu; senanglah kalau aku pergi ke sana; senanglah aku kalau mencapai kedudukan itu; senanglah aku kalau dipuji orang,” dan seterusnya. Ini adalah gaya hidup anak-anak dunia. Sebagai anak-anak Abraham, kita harus mengikuti teladan iman Abraham yang taat sepenuhnya pada Allah Bapa, bahkan melakukan hal yang pasti bertentangan dengan keinginannya sendiri; mempersembahkan anaknya, Ishak. Sekarang di dalam kehidupan orang percaya, kita mengenal sosok Tuhan Yesus, yang prinsip-Nya adalah melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Yesus adalah potret atau profil dari Anak Allah. Maka kalau kita mau menjadi anak Allah, profil kita juga harus seperti Yesus.

Jadi, bukan karena kita mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat lalu kita menjadi anak-anak Allah. Bukan! Itu adalah pembodohan dan sesat. Kita menjadi anak-anak Allah karena kita percaya kepada Yesus, dan percayanya itu seperti percayanya Abraham; menaati apa pun yang Allah perintahkan. Masalahnya, kita sudah menaati apa yang Allah kehendaki, belum? Seperti Yesus melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya, maka kalau kita mau menjadi anak-anak Allah, kita pun harus taat seperti Yesus taat. Keselamatan memang bukan hanya karena perbuatan baik. Sebaik apa pun perbuatan seseorang, tidak akan menyelamatkan. Keselamatan terjadi karena kurban Yesus di kayu salib. Kalau kita percaya dengan kurban itu, maka kita harus memiliki kehidupan seperti yang dijalani oleh Yesus. Sebaliknya, kalau kita tidak menjalani hidup seperti yang dijalani oleh Yesus, berarti kita tidak percaya kepada-Nya.

Yang menyesatkan banyak orang Kristen hari ini adalah pengajar, pembicara, teolog, yang mengajarkan: “Pokoknya, asalkan Saudara sudah percaya Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, Saudara sudah menjadi anak-anak Allah.” Itu salah! Kalau Alkitab berkata: “Yang menerima-Nya diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah,” yang diterima itu bukan hanya sosok Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, melainkan kebenaran yang diajarkan Yesus. Ingat, pada mulanya adalah Firman. Firman yang berkuasa menciptakan langit dan bumi, Firman itu adalah kebenaran. Jadi kalau kita menerima Yesus, berarti kita juga menerima logos, menerima kebenaran. Kalau kita tidak menerima kebenaran, maka kita tidak memiliki hak sebagai anak-anak Allah. Ingat, kuasa itu hak. Jadi, kalau kita menerima kebenaran dan hidup kita diubah oleh kebenaran itu, barulah kita memiliki hak sebagai anak-anak Allah.

Jadi, masuk surga itu bukan tidak bersyarat. Syarat yang utama—yang tidak bisa dibayar oleh siapa pun—adalah kurban Yesus di kayu salib yang membenarkan orang percaya. Itu anugerah. Kalau orang menerima anugerah itu—yaitu dengan mengikuti jejak Yesus—maka barulah dia bisa masuk surga. Maka, tidak heran kalau Yesus berkata “orang yang tidak melakukan kehendak Bapa, tidak dikenal-Nya dan dibuang.” Maksud Tuhan Yesus berkata: “Aku tidak kenal kamu, kamu yang tidak melakukan kehendak Bapa, kamu yang berbuat jahat,” artinya orang yang tidak hidup seperti hidup yang Tuhan Yesus jalani. Prinsip hidup-Nya adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.

Dalam Matius 7:21-23, kalau kita menyebut Yesus adalah Tuhan, berarti kita harus melakukan kehendak Bapa. Karena bukan setiap orang yang berseru kepada Yesus, “Tuhan” dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa. Maka pertanyaan untuk kita adalah apakah kita sudah melakukan kehendak Bapa? Itu masalah yang harus selalu kita pertanyakan. Kalau kita tidak melakukan kehendak Bapa, berarti kita belum selamat. “Selamat” artinya dikembalikan ke rancangan sempurna, dan profil atau model rancangan sempurna adalah Yesus sendiri. Oleh sebab itu, jangan kita anggap remeh hal keselamatan ini. Harus jelas kita pahami bahwa orang yang tidak melakukan kehendak Bapa, tidak selamat. Melakukan kehendak Bapa sama dengan melakukan kehendak Yesus, maka dikatakan “selamat” kalau seseorang makin seperti Yesus. “Seperti Yesus” di sini maksudnya bukan kita mau menyamai diri dengan Yesus. Karena standar kita berbeda dengan Yesus yang mulia, Tuhan kita.

Maksudnya “seperti Yesus” adalah dalam segala hal yang kita lakukan, kita selalu hidup sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Apa pun yang kita putuskan, apa pun yang kita lakukan, selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Persoalan hidup masing-masing kita berbeda, pergumulan yang kita alami masing-masing berbeda, pergumulan yang dialami Yesus pada waktu Ia mengenakan tubuh manusia seperti kita pun berbeda dengan kita hari ini. Tentu lebih berat Yesus. Tetapi, Dia bisa menuruti kehendak Bapa dalam pergumulan-Nya tersebut. Kita juga harus bisa mengerti dan melakukan kehendak Bapa dalam pergumulan hidup kita hari ini. Walau masing-masing kita memiliki pergumulan yang berbeda, tetapi kita memiliki satu kesamaan, yaitu kita melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak Allah.

Persoalan hidup kita bisa beda, pergumulan kita pun beda, tetapi kesamaannya adalah kita melakukan sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Di sini dasar hukumnya adalah pikiran dan perasaan Allah. Dasar hukumnya bukan kalimat-kalimat hukum, melainkan pikiran dan perasaan Allah. Jadi kita bisa berkata: “Allah itu hukumku; pikiran dan perasaan Allah itulah hukumku.” Orang-orang yang dalam segala hal melakukan sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah adalah orang-orang yang disebut sebagai anak-anak Allah; merekalah orang yang benar bisa dikatakan sebagai “selamat;” itulah orang-orang yang bisa dikatakan sebagai lahir baru. Jangan kita mendegredasi standar ini, yang akhirnya malah menyesatkan banyak orang.