Kualitas Hidup Yang Luar Biasa
21 February 2018

Di Perjanjian Lama, Allah masih berkenan menolerir kebaikan yang tidak sesuai dengan standar kesucian Allah, dan Allah juga bergaul dengan mereka yang memiliki keberadaan jauh dari standar kesucian Allah. Sebab ada “Pribadi” yang menyediakan jaminan untuk menyelesaikan masalah tersebut, yaitu Allah Anak yang akan turun menjadi manusia suatu hari nanti. Ini disebut sebagai “perjanjian berkat”. Perjanjian berkat ini sudah dikatakan oleh Allah di Eden, yaitu adanya keturunan perempuan yang akan meremukkan kepala ular. Realisasi dari perjanjian berkat ini melalui Abraham yang dipanggil untuk menjadi berkat bagi manusia di seluruh bumi; bahwa dari keturunan Abraham semua bangsa akan diberkati. Untuk penyelesaian dosa bagi umat Perjanjian Lama, untuk sementara waktu Allah memerintahkan menggunakan darah binatang. Ini pun sesungguhnya sebagai tindakan prophetis (nubuatan terhadap darah Yesus yang akan ditumpahkan).

Dalam Roma 3:21 tertulis: Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi. Apa maksud kalimat dalam ayat ini? Ketika Paulus menulis bahwa tanpa hukum Taurat kebenaran Allah dinyatakan, ini berarti bahwa kebenaran dinyatakan bukan melalui melakukan hukum sebagai landasannya. Landasan pembenaran adalah korban Tuhan Yesus di kayu salib. Dengan pernyataan ini Paulus mengarahkan pembaca suratnya untuk menerima proyek keselamatan yang Allah sediakan bagi manusia. Kebenaran yang dinyatakan oleh Allah bagi manusia di zaman Perjanjian Baru adalah kebenaran Allah karena iman kepada Yesus Kristus (Rm. 3:22… yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan.) Iman kepada Yesus adalah penerimaan terhadap cara Allah menyelamatkan manusia dan kesediaan untuk dikembalikan ke rancangan Allah semula, yaitu menjadi manusia yang sempurna seperti Yesus.

Kalimat “tidak ada perbedaan” Dalam Roma 3:22 menunjukkan kepada kita bahwa kebenaran dari Allah, yaitu melalui atau oleh iman kepada Yesus Kristus, adalah kebenaran yang tidak lagi membedakan umat pilihan secara darah daging atau bukan. Mengapa? Jawabnya ada di ayat 23. Dalam Roma 2:23 tertulis: Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah… Sekarang yang dipersoalkan bukan lagi moral berdasarkan hukum Taurat, tetapi berdasarkan “kemuliaan Allah”, yaitu bagaimana manusia dapat memiliki kesucian seperti kesucian Allah; bermoral Allah, kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela. Jadi, kemuliaan Allah pada manusia berbicara mengenai keadaan yang Allah rancang dan kehendaki dimiliki manusia, yaitu segambar dan serupa dengan Dia.

Ketika Paulus mengajarkan bahwa keselamatan diperoleh berdasarkan iman, bukan bermaksud Taurat menjadi tidak berharga. Juga bukan berarti perbuatan baik tidak berarti atau tidak berharga. Penjelasan yang salah mengenai dibenarkan oleh iman dapat membuat kesan bahwa Taurat tidak berharga lagi dan perbuatan baik tidak diperlukan. Hal ini menjadi penyesatan yang luar biasa, justru hal ini yang menjadi penyebab kegagalan seseorang meresponi keselamatan yang Allah sediakan.

Harus diingat bahwa hukum Taurat itu berasal dari Allah. Hukum Taurat adalah pencerminan sebagian dari kesucian Allah yang harus dikenakan oleh umat. Dikatakan “sebagian dari kesucian Allah” artinya Allah belum mengajarkan manusia untuk sempurna seperti Diri-Nya. Hukum yang diberikan kepada bangsa Israel adalah hukum yang mengatur bagaimana manusia menjadi beradab. Tidak saling membunuh, supaya melestarikan kehidupan agar manusia tidak punah. Kalau manusia punah sebelum keselamatan dalam Yesus Kristus datang, maka keselamatan gagal diberikan kepada manusia.

Di Perjanjian Lama Allah belum bisa menuntut manusia untuk menjadi sempurna, sebab umat di Perjanjian Lama belum memiliki fasilitas keselamatan seperti umat Perjanjian Baru. Tetapi bagi umat Perjanjian Baru, hukum Taurat yang dikenakan adalah hukum Taurat yang disempurnakan (Mat. 5:17-20). Sesungguhnya hukum Taurat yang disempurnakan adalah cermin dari kesucian Allah yang sempurna, yaitu Diri Allah sendiri. Sehingga bagi orang percaya berlaku tatanan bahwa Tuhan adalah hukum kehidupan. Segala sesuatu yang dilakukan harus selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.

Keselamatan dalam Yesus Kristus, memperkenalkan Taurat yang disempurnakan oleh Yesus (Mat. 5:17), supaya orang percaya memahaminya dan mengenakan dalam kehidupan. Taurat yang disempurnakan adalah hukum yang bersifat batiniah, yaitu moral Tuhan atau kesucian Tuhan sendiri. Taurat yang disempurnakan tersebut jika dikenakan dalam kehidupan orang percaya, maka mereka menjadi orang yang memiliki “hidup keagamaannya” atau kebenarannya (Yun. dikaiosune) lebih dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi atau tokoh-tokoh agama. Dalam hal ini orang percaya dipanggil untuk memiliki kualitas hidup yang luar biasa. Dengan demikian iman pada dasarnya adalah hidup yang luar biasa dalam kelakuan.