Konsep Takdir Dalam Penghakiman
23 June 2019

Berbicara mengenai penghakiman, tidak dapat dipisahkan dari masalah takdir. Kata “takdir” dalam pemahaman umum biasanya mendapat isi atau dimengerti sebagai penentuan Ilahi. Kata “takdir” biasanya disejajarkan maknanya dengan kata “nasib”, dalam Bahasa Inggris diterjemahkan fate atau destiny. Di balik kata “takdir” diisyaratkan jelas adanya penentuan Ilahi dalam setiap kejadian atau peristiwa, sebuah divine decree. Jadi “takdir” dimengerti sebagai penentuan suatu peristiwa atau kejadian yang berlangsung dalam hidup manusia berdasarkan kedaulatan, kebebasan kehendak, dan kebijaksanaan Tuhan yang mutlak atau absolut. Sebelum suatu peristiwa terjadi, segala sesuatunya sudah ditentukan oleh Tuhan untuk berlangsung. Ini tidak tepat. Sebenarnya konsep ini sangat kuat dianut oleh agama non-Kristen yang ada di sekitar kita.

Jika dipandang bahwa segala sesuatu sudah ditentukan sebelumnya, maka dengan demikian nampak gambar dalam bingkai bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup ini adalah skenario dari Sutradara Agung, yaitu Tuhan. Dalam hal ini, Tuhan selain Pencipta sekaligus juga berperan sebagai penulis cerita dan Sang Dalang yang mengatur setiap peran kehidupan dalam pentas panggung sandiwara. Lebih tegas lagi, bila kita obyektif memandang hidup dengan kacamata ini, maka itu berarti Tuhan berlaku sebagai pengatur remote control dan manusia menjadi robot yang hanya bisa dikendalikan oleh remote tersebut tanpa kebebasan kesempatan memilih suatu pilihan. Dalam hal ini Tuhan dipandang sebagai penyusun takdir atas segala sesuatu, baik yang hidup apa lagi bagi benda mati. Tidak ada yang luput dari penentuan-Nya.

Dalam memahami pengertian takdir, pada umumnya orang berasumsi bahwa manusia tidak memiliki kedaulatan sama sekali dalam menentukan keadaan hidupnya, sebab Tuhan telah mempersiapkan segala kejadian yang akan dialami atau dilaluinya dalam hidup. Manusia hanya menerima saja yang disediakan baginya. Demikianlah kita dapat temukan bila seseorang mengalami musibah -misalnya suatu kecelakaan, kematian orang yang dikasihinya, jatuh miskin, sakit yang tak tersembuhkan sampai kematian, dan lain-lain- maka mereka menerimanya sebagai takdir. Di dalamnya, Tuhan dianggap sebagai kausalitas prima (penyebab utama), kasarnya: biang masalah. Menjadi berkembang lagi dalam kasus lain, ketika disimpulkan bahwa jodoh ada di tangan Tuhan, sehat/sakit, kaya/miskin, gemuk atau kurus, surga atau neraka, hanya Tuhan yang menentukan.

Pemahaman di atas ini pada akhirnya bisa membangun pandangan bahwa pertimbangan rasio manusia untuk mengambil keputusan menjadi sia-sia atau tidak diperlukan. Semua sudah diatur dalam fragmen yang tidak keluar atau terlepas dari alur cerita yang ditentukan atau telah ditetapkan. Akhirnya, anjuran untuk menemukan peran dan tempat di hadapan Tuhan menjadi panggilan untuk percaya dan menerima saja setiap peran yang ditemukan secara otomatis. Semua sudah diatur oleh Allahyang mengerjakan-Nya sendiri tanpa bantuan dan peran manusia sama sekali. Kalau jujur, maka dapat dikatakan peran pikiran dan perasaan manusia menjadi sia-sia atau tidak maksimal. Dengan demikian manusia juga tidak perlu memiliki integritas dan personality-nya sendiri. Ini pandangan yang sangat keliru, sebab sesungguhnya manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab, artinya manusia harus menuai apa yang ditaburnya (Rm. 14:12; Gal. 6:7; 2Kor. 5:9-10).

Gagasan “takdir” meyakinkan adanya campur tangan langsung dari Allah yang mengendalikan nasib manusia di luar kesadaran manusia, sebab segala sesuatu ditentukan sejak semula. Ini adalah konsep agama non-Kristen yang tidak banyak membicarakan tentang kebebasan, sebab mereka hanya mengakui perbuatan-perbuatan yang dirancang oleh Allah di dalamnya. Konsep takdir ini mengingkari adanya kebebasan yang sungguh-sungguh, selanjutnya peranan etika disia-siakan. Hal ini menempatkan manusia tidak memiliki independensi. Independensi berarti seseorang tidak terikat oleh siapa pun dalam mengambil keputusan, karena tidak ada pihak lain yang mengendalikannya. Sehingga seseorang dapat menentukan takdir atau keadaan dirinya sendiri. Dalam independensi ini, baik Allah maupun manusia, dapat membangun atau menciptakan keinginan dari diri sendiri.

Konsep takdir sebenarnya secara langsung menghilangkan pertanggungjawaban manusia kepada Tuhan. Hal ini jelas tidak memberi ruangan atau tempat bagi penghakiman dilangsungkan dalam kehidupan manusia. Konsep takdir menghindarkan manusia dari tanggung jawab. Oleh sebab itu kalau seseorang meyakini adanya takdir, maka sejatinya ia juga tidak meyakini adanya tanggung jawab individu. Dengan demikian tidak ada penghakiman dan tidak ada upah di dalam Kerajaan Surga atau kehidupan yang akan datang. Oleh sebab itu kita harus menolak konsep takdir yang salah ini.