Keturunan Orang Benar
18 January 2021

Play Audio

Berkali-kali dikemukakan dan kita dengar, hidup ini tragis. Dan ke depan akan semakin tragis, artinya dunia semakin membuat manusia yang hidup di dalamnya merasa tidak nyaman. Ancaman perang dunia dengan persenjataan nuklir, bom kimia, dan lain-lain, itu menakutkan. Krisis ekonomi yang tidak pernah sembuh, keadaan kritis karena pandemi seperti COVID-19, krisis sosial ekonomi, belum lagi ekosistem bumi, munculnya tsunami, bencana alam, erupsi, ekosistem bumi yang rusak, global warming, dan sebagainya. Ini harus terus diingatkan kepada kita. Kita tidak tahu anak cucu kita akan menghadapi keadaan seperti apa di hari esok. Mengerikan. Hidup di bumi ini tidak ada optimisme. Dunia makin memburuk, tetapi apakah berarti lalu kita menjadi pesimis? Tidak. Kita optimis.

Kita optimis menyambut kedatangan Tuhan, optimis menyambut Kerajaan yang akan dibangun Tuhan di langit baru bumi baru. Yang harus kita lakukan sekarang adalah bagaimana kita hidup sesuai dengan kehendak Allah, hidup tidak bercacat, tidak bercela, tidak terikat dengan dunia, agar kita menjadi kekasih Tuhan. Dengan kehidupan seperti ini, sebenarnya kita menjagai anak cucu kita. Tuhan menjagai anak cucu orang yang takut akan Dia; orang yang benar. Kalau Alkitab berkata: “Allah tidak membiarkan anak cucu orang benar sebagai peminta-minta,” lalu dinyanyikan oleh kebanyakan orang Kristen atau hampir oleh semua orang Kristen, dan mereka merasa anak cucu mereka tidak akan menjadi peminta-minta, itu salah. Itu keliru.

Yang “tidak menjadi peminta-minta” itu bukan orang yang mengaku kebenaran ayat Alkitab, tetapi yang menjadi benar. Orang benar, anak cucunya tidak akan meminta-minta, lalu kita berkata: “Amin… Amin…” seakan-akan anak cucu kita tidak akan pernah mengalami keadaan sebagai peminta-minta. Kita lupa bahwa kita hanya mengaminkan ayat tersebut, tetapi tidak menjadi orang benar. Kita harus melihat diri kita, apakah kita orang sudah benar, sudah takut Allah atau belum, sudah menjadi kekasih Allah atau belum? Faktanya, banyak orang Kristen yang hidup di dalam dosa; orang yang tidak meninggalkan percintaan dunia, yang tidak sungguh-sungguh membela pekerjaan Tuhan, pelit untuk pekerjaan Tuhan. Kalau untuk membeli barang, membeli sesuatu bagi dirinya sendiri, berapa pun dianggarkan. Tapi untuk pekerjaan Tuhan, begitu perhitungan. Sebenarnya, jika seesorang masih perhitungan dengan Tuhan, maka uangnya pun tidak layak untuk Tuhan.

Dulu ada seorang pendeta yang berpikir, orang yang tidak memberikan kekayaannya bagi Tuhan, pasti dihukum karena dia tidak memberikan uangnya. Satu sisi itu benar, tapi di sisi lain, pendeta itu tidak tahu atau belum tahu kalau seandainya dia memberikan uangnya pun, uangnya tidak layak untuk Tuhan. Artinya sekalipun dia memberikan uang, dia tetap masuk neraka karena kehidupannya tidak sesuai dengan kehendak Allah. Jadi, jangan berpikir kalau orang memberikan uangnya dalam jumlah besar kepada Tuhan berarti ia masuk surga. Belum tentu. Keadaan batiniahnya yang menentukan apakah persembahan itu layak atau tidak, berkenan atau tidak. Jadi, kalau kita melihat orang kaya tidak memberikan persembahan, tidak usah sakit hati, tidak usah marah, karena uang dia tidak layak untuk Kerajaan Surga. Dunia kita ke depan makin sulit. Kita punya uang sebanyak apa pun tidak akan bisa melindungi anak cucu kita. Kita kenal pejabat tinggi, aparat keamanan sehebat apa pun, tidak akan bisa melindungi diri kita sendiri dan anak cucu kita selama 24 jam.

Maka, kita jangan sombong. Kalau hari ini kita kaya, memiliki relasi pejabat tinggi di sana-sini, kita merasa bahwa kita bisa menghadapi segala kesulitan dengan kekuatan uang dan relasi, itu tidak akan lama. Satu kali kita akan “dibotaki” oleh Tuhan; digunduli, dilucuti sampai kita tidak bisa buat apa-apa. Setiap kita pasti akan dilucuti Tuhan. Sebelum Tuhan “melucuti” diri kita, mari kita “lucuti” diri kita sendiri sekarang. Maksudnya adalah kita mau menjadi orang yang mau menghayati Allah sebagai milik kita satu-satunya, dan hidup untuk kesenangan-Nya

Ini nilai yang tidak bisa dicapai oleh sebagian besar orang. Bagaimana menjadi seorang yang takut akan Allah, yang dalam segala hal menjaga perasaan Allah, hidup berkenan bagi Allah, dan ini tidak bisa dicapai dalam waktu singkat. Hendaknya kita menjadikan ini sebagai agenda satu-satunya dalam menjalani hidup. Untuk itu, kita hayati kehadiran Allah sampai kita tidak perlu lagi konsentrasi dalam menghayati kehadiran-Nya karena kita sudah dengan sendirinya bisa menghayati kehadiran Allah tersebut. Tidak usah konsentrasi, karena hal menghayati kehadiran Allah sudah merupakan hal biasa, dan dalam segala hal yang kita lakukan, kita selalu mempertimbangkan perasaan Allah. Secara otomatis kita bisa melakukan itu.

Kalau kita bisa hidup dengan cara demikian—yang disebut dengan hidup di hadirat Allah—nama kita pasti dikenal oleh Allah. Tapi bukan hanya diri kita. Anak cucu kita pun akan diingat dan dikenal oleh Allah. Dalam menghadapi dunia yang semakin sulit, semakin sukar, tidak menjanjikan ini, Tuhan tetap akan memprotek kita. Artinya, kesulitan yang kita alami pun menjadi cara Allah mempersiapkan kita untuk masuk ke Kerajaan Surga. Dan puji Tuhan, bukan hanya kita yang dipersiapkan untuk masuk langit baru bumi baru menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah, tinggal di istana Tuhan Yesus, dan menikmati kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus, melainkan juga orang-orang yang kita kasihi. Tentu pasangan hidup, anak, cucu, menantu, juga sahabat-sahabat kita yang bersama-sama dengan kita melayani pekerjaan Tuhan.

Orang-orang yang mencintai Suara Kebenaran, yang bersama-sama bertumbuh, berkemas-kemas untuk menyongsong langit baru bumi baru adalah orang-orang yang menjadi masyarakat surgawi yang suatu hari akan bersama-sama dalam Kerajaan Surga. Dunia kita tidak menjanjikan. Kita tidak bisa optimis terhadap dunia. Dunia ini sudah begitu rusak, begitu tidak ideal untuk dihuni. Tetapi puji Tuhan, kita memiliki langit baru bumi baru. Kita optimis menyongsong langit baru bumi baru. Kita tidak optimis menyongsong yang lain. Optimisme kita hanya pada Tuhan dan Kerajaan-Nya. Dalam menyongsong kehidupan ke depan yang buruk, makin berat, makin sulit–baik yang kita alami, maupun yang dihadapi oleh anak cucu dan orang-orang yang kita kasihi—kita percaya pemeliharaan, perlindungan Tuhan atas kita semua.

Oleh sebab itu, kita harus mengandalkan Tuhan dan bergantung pada-Nya. Lebih dari itu, yang harus kita ketahui adalah bagaimana supaya kita bisa menjadi orang yang layak dilindungi Tuhan, orang yang layak mengandalkan Tuhan. Siapa orang yang layak dilindungi Tuhan dan orang yang layak mengandalkan Tuhan? Mereka yang hidupnya hanya menyenangkan hati Allah, tidak hidup dalam percintaan dunia, dan tidak hidup dalam dosa, merekalah orang-orang yang berharga di hadapan Allah di bumi ini sampai kekekalan.