Ketekunan Memberitakan Kebenaran
26 February 2018

Roma 4:1-5 tertulis: Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran. Sangat penting untuk memahami tulisan Paulus dalam pasal ini, sebab kesalahan memahami pernyataan Paulus di pasal ini mengakibatkan bangunan Injil yang dibangun oleh Tuhan Yesus bisa rusak di pikiran orang Kristen. Hal ini bisa membuat orang Kristen yang memiliki pemahaman yang salah tersebut tidak mengalami keselamatan yang sejati atau yang benar.

Hal utama yang harus dibedah adalah pengertian “dibenarkan”. Kata ini dalam bahasa Yunani adalah dikaio (δικαιόω). Kita harus memahami secara lengkap pengertian kata ini. Secara sempit kata dibenarkan berarti dianggap dan diakui tidak bersalah lagi. Tetapi secara luas kata dibenarkan memiliki dua aspek. Aspek pertama, dibenarkan berarti keadaan di mana seseorang diakui atau disetujui sebagai “dianggap benar” dan memperkenan hati Allah (jika kata “dibenarkan” direlasikan dengan Allah). Aspek kedua, dibenarkan berarti pembebasan seseorang dari tuduhan dan pengakuan sebagai orang yang bersalah atau berdosa, sehingga yang tadinya sepantasnya dihukum atau dikucilkan, sekarang dibebaskan dari tuduhan dan pengakuan sebagai orang bersalah tersebut serta diterima kembali dalam suatu komunitas.

Ketika Paulus menggunakan kata ini, kita harus memahami pemikiran Paulus mengenai pembenaran. Paulus sebagai teolog Yahudi tentu saja menggunakan kata tersebut dalam bingkai Yudaisme. Itulah sebabnya Paulus mengutip ayat Perjanjian Lama ketika berbicara mengenai pembenaran ini. Paulus mengutip Mazmur: Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya: “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya.” (Rm. 4:6-8). Orang-orang Yahudi memiliki sarana untuk menyelesaikan masalah dosa atau pelanggaran mereka dengan darah binatang (domba). Kalau bangsa Israel berbuat salah yang sepantasnya dimurkai, dihukum, dan dikucilkan dari Allah, tetapi oleh darah binatang mereka menerima pengampunan, dihindarkan dari murka dan hukuman, serta diterima kembali oleh Allah.

Oleh sebab itu bangsa Israel diajar untuk tidak melakukan pelanggaran terhadap hukum Taurat. Tetapi kalau ada pelanggaran, maka ada darah domba sebagai solusinya. Sepanjang mereka melakukan hukum Taurat, maka mereka memandang diri mereka sebagai orang benar. Dengan demikian betapa sentral korban darah binatang dan hukum Taurat dalam kehidupan mereka. Itulah sistem keagamaan yang mutlak harus mereka miliki. Di luar sistem tersebut berarti kafir atau sesat. Sistem keagamaan seperti ini pada umumnya juga dimiliki oleh agama-agama samawi lainnya, yaitu agama yang memercayai bahwa agama mereka adalah wahyu dari Allah, Allah adalah Esa (satu) dan memiliki hukum-hukum untuk ditaati sebagai sarana pembenaran. Tentu saja agama-agama samawi seperti ini tidak membutuhkan darah Yesus. Mereka tidak bisa menerima Injil yang juga mengajarkan bahwa Allah itu jamak; Allah memiliki Anak Tunggal.

Jalan keselamatan dan pembenaran oleh iman yang ditawarkan Injil, di mata bangsa Yahudi, adalah di luar dan menentang sistem keberagamaan mereka. Kekristenan dipandang sebagai bidat atau ajaran sesat. Belum lagi keyakinan bahwa Yesus adalah Anak Allah, maka tentu saja Injil ditolak mentah-mentah oleh mereka. Mereka tidak mengenal Allah memiliki Anak, mereka sangat monotheistis. Pengakuan Yesus sebagai Anak Tunggal Bapa, dipandang sebagai hujatan bagi Elohim Yahweh. Itulah sebabnya mereka berupaya untuk memusnahkan ajaran tersebut. Bisa dimengerti kalau kebencian bangsa Yahudi dan agama samawi lainnya terhadap Kekristenan begitu kuat (tentu tidak semua orang penganut agama samawi bersikap demikian terhadap Kekristenan). Mereka memandang bahwa usaha memusnahkan Kekristenan adalah berbuat bakti kepada Allah.

Dalam hal tersebut, kita kagum terhadap perjuangan Paulus yang tetap berusaha memperkenalkan Injil kepada orang-orang Yahudi yang sangat anti terhadap Kekristenan. Perjalanan hidupnya seperti melawan arus deras, tetapi ia tetap maju menerjang arus tersebut. Perjuangan Paulus ini dapat menginspirasi kita untuk juga teguh dan tekun memberitakan kebenaran, walau untuk itu kita harus mengalami berbagai penderitaan. Paulus meneladani Gurunya yang dikatakan dalam kitab Ibrani 12:3, Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.