Kesiapan Diri
04 January 2019

Kalau seseorang tidak menerima kenyataan bahwa hidup di bumi ini bukan satu-satunya kesempatan hidup, maka ia akan berusaha membuat hidupnya berbunga-bunga seindah-indahnya. Mengapa demikian? Sebab ia merasa bahwa dunia ini adalah satu-satunya kesempatan untuk dinikmati sebanyak-banyaknya. Orang yang tidak mau menerima bahwa hidup ini bukan satu-satunya kesempatan hidup, akan berusaha bagaimana meraih sebanyak-banyaknya yang disediakan dunia untuk dinikmati dan dimiliki. Ia tidak mau kehilangan kesempatan untuk menikmati dan memiliki segala kesenangan yang ada di bumi ini. Biasanya istilah yang digunakan menggambarkan filosofi hidup mereka adalah “mumpung masih hidup di bumi, mumpung masih bernafas, mumpung masih memiliki kesempatan”, padahal hidup di bumi sekarang ini hanya kurang lebih 70 tahun. Waktu ini seharusnya dijadikan kesempatan satu-satunya untuk persiapan menyongsong kehidupan yang sesungguhnya yang akan diberikan oleh Tuhan kepada orang percaya setelah pengembaraan di bumi.

Karena berpikir dan merasa bahwa hidup di bumi ini adalah satu-satunya kesempatan hidup, maka banyak orang tidak memedulikan kehidupan di dunia lain yang akan datang. Tentu saja mereka sama sekali tidak memperhatikan bagaimana seharusnya memiliki kesiapan diri menghadapi kehidupan yang akan datang, yaitu kekekalan. Inilah yang terjadi dalam kehidupan hampir semua orang. Mereka hidup sesukanya sendiri, melakukan apa yang mereka pandang baik, menguntungkan, menyenangkan, dan membahagiakan diri sendiri. Tetapi mereka tidak mempersoalkan apakah segala tindakan tersebut menyenangkan hati Penciptanya atau melukai-Nya.Inilah orang orang yang sebenarnya memiliki standar hidup yang tidak berbeda dengan hewan.

Berbeda dengan hewan, makhluk manusia tidaklah demikian.Hewan tidak memiliki unsur kekekalan, sebab kalau hewan hidup hari ini kemudian kalau besok mati, maka sudah selesai. Manusia yang hari ini hidup, kalau besok meninggal dunia, sebenarnya masih memiliki kesadaran, dan kesadaran yang dimiliki adalah kesadaran kekal. Orang yang tidak mau menerima kenyataan ini akan merasa bahwa hidup dibumi ini boleh “suka-suka” sendiri, bahkan ketika berurusan dengan Tuhan pun hanya karena mau memanfaatkan Tuhan supaya bisa menikmati dunia ini sebagai Firdaus. Banyak orang-orang Kristen memperlakukan Yesus sebagai Juruselamat urusan bisnis, urusan kesehatan, urusan ekonomi, dan lain sebagainya. Padahal Tuhan Yesus datang untuk menyelesaikan masalah yang paling prinsip, yaitu keselamatan kekal.

Banyak orang Kristen yang tidak mempersiapkan diri guna hidup kekalnya. Bila berurusan dengan Tuhan, fokusnya adalah pemenuhan kebutuhan jasmani. Mereka berurusan dengan Tuhan dengan harapan Tuhan memberi pertolongan atau jalan keluar bagi persoalan mereka. Mereka tidak melihat bahwa di balik persoalan-persoalan yang mereka hadapi, juga di balik berbagai kesulitan-kesulitan yang mereka alami, sesungguhnya ada pelajaran-pelajaran rohani yang Tuhan berikan agar mereka menjadi dewasa. Sebagai analoginya, bangsa Israel dalam perjalanan dari Mesir ke Kanaan, harus mengalami begitu banyak rintangan, berbagai masalah dan beban. Hal tersebut diizinkan oleh Tuhan, agar melalui kenyataan hidup yang mereka alami, mereka menjadi dewasa.

Orang percaya yang semakin bertumbuh dewasa, selalu berusaha menyenangkan hati Bapa. Adapun fokus hidupnya bukanlah kebutuhan jasmani, mukjizat-mukjizat, dan berkat pertalian dengan kemakmuran jasmani, tetapi pendewasaan untuk sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Gereja yang selalu menjanjikan kepada jemaat pertolongan dari Tuhan atas berbagai masalah hidup fana dunia membuat fokus hidup orang percaya menjadimenyimpang atau meleset. Ini hal sangat berbahaya, sebab biasanya yang menyesatkan jemaat Tuhan bukan orang dari luar gereja, tetapi justru orang-orang yang berdiri di mimbar gereja. Mereka mencoba mengesankan bahwa hidup yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan jasmani adalah kehidupan yang rumit, berat, sehingga membutuhkan campur tangan Tuhan sendiri. Dalam hal ini Tuhan dipaksa untuk sibuk dengan urusan perut dan kemuliaan duniawi. Tentu saja dalam integritas-Nya yang sempurna Tuhan Yesus tidak dapat diatur oleh siapa pun, kecuali oleh Bapa di surga.

Ketika jemaat diarahkan kepada masalah-masalah dunia fana ini, maka mereka menjadi sangat sulit untuk diarahkan agar menjadi sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus, sebab potensi diri tidak difokuskan kepada “kesiapan diri menghadapi kematian”. Sejatinya, hidup di dunia ini hanya untuk persiapan menyongsong kehidupan yang sesungguhnya nanti; di langit baru dan bumi yang baru. Hal ini juga mengakibatkan bangunan iman Kristen yang murni tidak pernah terbangun di dalam kehidupan mereka.

Orang percaya harus mengarahkan diri untuk mencari perkara-perkara yang di atas, bukan yang dibumi. Orang percaya harus mengumpulkan harta di surga, bukan harta dibumi. Mengenai kebutuhan jasmani, orang percaya harus belajar bertanggung jawab. Mereka harus memenuhi seluruh tanggungjawabnya dengan baik, sebab apa yang ditabur seseorang itu juga akan dituainya.Kalau orang orang Kristen tidak menabur dengan baik, hendaknya tidak berharap akan menuai sesuatu yang baik pula. Hendaknya orang percaya tidak diarahkan kepada kebutuhan jasmani, tetapi harus diarahkan kepada berkat rohani yang abadi, yaitu karakter yang diubah sesuai dengan rancangan Allah semula.