Kesempurnaan Dimulai Di Bumi
28 August 2017

Banyak orang Kristen berpandangan keliru, bahwa kesucian hidup tidak akan dapat dicapai di bumi ini; kesucian hanya bisa ditemukan dan dialami di surga. Jadi, kesucian hidup manusia tidak pernah akan ditemukan di bumi. Menurut mereka bumi bukanlah tempat manusia dapat mengenakan kesucian atau mengalami kesempurnaan. Ini berarti mereka juga tidak percaya bahwa ada kesempurnaan di bumi. Mengapa orang Kristen sampai beranggapan demikian? Pandangan salah di atas bisa muncul disebabkan berbagai faktor, antara lain karena mereka tidak memahami pengertian kesempurnaan menurut Alkitab. Pengertian kesempurnaan yang dipahami oleh mereka sebenarnya serapan dari berbagai pandangan agama dan filsafat dunia, bukan berdasarkan kebenaran Firman Tuhan.

Mereka berpikir suci itu seperti sebuah bidang yang tadinya dikotori oleh noda, walaupun noda itu dapat hilang oleh semacam sarana pembersih, tetapi akan selalu ternoda kembali. Dalam hal ini kalau bidang itu adalah hati manusia maka sarana pembersihnya adalah darah Yesus. Tetapi hati akan selalu dapat dikotori lagi oleh dosa, sebab manusia masih hidup di dunia. Dunia yang penuh dengan dosa. Mereka tidak yakin manusia bisa sempurna di bumi, ini pandangan yang keliru

Banyak orang Kristen beranggapan bahwa hanya di surga di mana tidak ada Iblis, maka juga tidak ada dosa. Dalam hal ini kesucian dipahami sebagai keadaan yang tidak ternoda dosa oleh karena tidak adanya cobaan atau godaan dari Iblis. Selama masih ada Iblis yang mencobai dan menggoda, maka bisa dipastikan manusia akan selalu berbuat dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil. Dalam hal ini dosa dipandang sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari. Dosa dipandang sebagai kemutlakan yang pasti dialami oleh orang yang hidup di bumi ini. Selama masih tinggal dan hidup di bumi, tidak mungkin tidak terpengaruhi oleh dosa. Mereka berpikir bahwa dosa pasti dilakukan.

Pemikiran di atas ini mengisyaratkan bahwa manusia seperti sebuah papan yang terletak di pinggir jalan yang dilalui berbagai kendaraan. Tidak bisa tidak papan itu akan dikotori debu. Karena pengertian ini maka mereka harus selalu melakukan pengakuan dosa dalam liturgi dan sekaligus berita pengampunan dosa demi pembersihan yang harus selalu dilakukan. Dengan demikian cara menanggulangi dosa adalah datang ke gereja untuk mengikuti liturgi di mana di dalamnya terdapat litani (sejenis doa) pengakuan dosa dan berita pengampunan. Usai dari kebaktian di gereja mereka merasa telah menerima pengampunan. Gereja seperti itu mengajarkan cara penyelesaian dosa yang tidak tuntas. Mereka tidak mengajarkan kesempurnaan secara proporsional.

Harus kita sadari bahwa manusia bukanlah papan. Papan adalah benda mati yang tidak dapat menghindarkan diri dari debu yang dapat menempel padanya, tetapi manusia dalam kehendak bebas dan kemampuan yang Allah berikan dapat menghindarkan diri dari debu atau kotoran dosa. Satu hal yang tidak dapat dilakukan oleh Allah adalah bahwa Allah menempatkan manusia pada keadaan yang tidak dapat menghindari kesalahan. Terdapat cara lain yang diajarkan suatu aliran denominasi gereja dalam melakukan pemberesan atau penyelesaian dosa. Seseorang yang telah melakukan suatu pelanggaran atau dosa datang ke gereja di suatu bilik “pengakuan dosa”. Bilik tersebut berdampingan dengan bilik lain yang di dalamnya terdapat seorang rohaniwan. Seorang yang berbuat dosa tersebut harus mengaku dosa yang dilakukan dalam bilik pengakuan dosa tersebut. Pola pemberesan dosa seperti ini adalah penyelesaian yang tidak tuntas. Pengakuan dosa harus disertai pertobatan, artinya perubahan pikiran dan berusaha untuk tidak melakukan dosa yang sama lagi, selanjutnya harus mengenakan gaya hidup Tuhan Yesus. Dengan cara berpikir yang salah di atas, maka seseorang tidak akan berusaha untuk sempurna.