Kesempatan Yang Luar Biasa
20 November 2019

Hidup ini harus dipahami sebagai kesempatan yang luar biasa. Suatu kesempatan yang diberikan oleh Allah kepada orang percaya untuk menjadi anak-anak-Nya sehingga orang percaya dapat memiliki persekutuan yang indah dengan Allah sebagai Bapa. Banyak orang tidak menghargai hidup ini, mereka mengisi hari hidupnya hanya untuk memburu kekayaan dunia dan menikmati segala hiburannya. Mereka tidak menyadari betapa mahal kesempatan yang Allah berikan untuk menjadi anak-anak-Nya. Manusia memiliki tubuh dengan semua komponen dan metabolismenya yang sangat menakjubkan, dan unsur rohani atau jiwa yang tidak kelihatan, termasuk di dalamnya kecerdasan dan perasaan. Inilah keadaan manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya. Keberadaan yang luar biasa ini merupakan potensi untuk dapat bersekutu dengan Allah, dimana manusia dapat berinteraksi dengan Allah dengan interaksi interpersonal yang saling mengisi.

Keberadaan alam semesta dengan segala fasilitasnya juga sangat menakjubkan dan segala sesuatu yang ada di dalamnya merupakan sarana untuk terjadinya suatu perjumpaan antara manusia secara pribadi dengan Allah semesta alam yang Mahaagung sebagai Bapa. Jadi, alam semesta dengan segala kekayaannya bukanlah tujuan dan sarana untuk mengalami kegembiraan hidup. Kegembiraan hidup hanya ada di dalam Allah, yaitu dalam persekutuan dengan diri-Nya. Jika seseorang sudah memiliki kegembiraan hidup di dalam dan karena atau oleh Dia, barulah dapat menikmati segala sesuatu yang Allah telah ciptakan. Usaha menikmati ciptaan Allah tanpa hidup dalam persekutuan dengan Allah adalah sebuah pengkhianatan terhadap Dia.

Lusifer adalah oknum yang berniat menikmati kehidupan tanpa persekutuan dengan Allah. Jika demikian, berarti yang menjadi kegembiraan hidup adalah dirinya sendiri dan segala sesuatu di luar Allah. Kuasa jahat ini berusaha menarik manusia menjadi sekutunya dan memiliki irama hidup seperti dirinya. Salah satu penyesatan yang dilakukan adalah menawarkan keindahan dunia sebagai kegembiraan hidup atau kebahagiaan (Luk. 4:5-8). Inilah yang dilakukan Iblis terhadap Tuhan Yesus pada awal pelayanan-Nya. Iblis membujuk Tuhan Yesus untuk menyembahnya dengan memberi imbalan keindahan dunia. Jadi kalau seorang mengagumi dunia dan terpikat di dalamnya, maka ia telah menyembah Iblis (Luk. 4:5-8).

Perlu direnungkan, seandainya tidak ada manusia, maka tidak ada perjumpaan antara Allah sebagai Bapa dan manusia sebagai anak. Hal ini tidak ada dampaknya sama sekali terhadap siapa pun dan apa pun. Namun ternyata Allah berkenan menciptakan manusia. Karena hal ini maka mau tidak mau terdapat fakta adanya peluang terciptanya sebuah persekutuan antara Allah sebagai Bapa dan manusia sebagai anak. Hal ini ditawarkan kepada manusia. Dengan hal ini, maka mulai muncul kemungkinan sebuah kerugian atau keuntungan, kehinaan atau kemuliaan dan neraka kekal atau surga kekal. Inilah yang membuat manusia sebagai makhluk yang beresiko tinggi. Hidup ini bukan sekadar sebuah perjalanan sederhana yang singkat, setelah itu berlalu tanpa dampak atau akibat.

Sebagai makhluk ciptaan yang eksis karena atau oleh Allah, manusia harus menemukan Allah sebagai Bapanya dan membangun persekutuan dengan diri- Nya. Karena pemberontakannya, manusia mengalami ketragisan yang luar biasa. Manusia telah terpisah dan kehilangan sumber kehidupan. Manusia telah kehilangan kemuliaan atau kurang kemuliaan Allah sehingga tidak dapat membangun hubungan dengan Allah sebagai Bapa (Rm. 3:23). Inilah malapetaka terhebat dan peristiwa paling tragis dalam sejarah kehidupan manusia. Kalau manusia tidak memiliki Juruselamat, maka tidak ada kesempatan sama sekali untuk dipertemukan kembali dengan Allah sebagai Bapa.

Melalui dan di dalam Yesus Kristus manusia diberi kesempatan untuk kembali bersekutu dengan Allah sebagai Bapa. Apakah kesempatan ini dimanfaatkan atau tidak, tergantung kepada masing-masing individu. Kesempatan ini sangat luar biasa karena menjadi kesempatan satu-satunya untuk membangun hubungan dengan Allah sebagai Bapa, dan persiapan untuk memasuki kehidupan kekal bersama Dia di dalam Rumah-Nya. Karena kekerasan hati manusia, banyak orang menolak kesempatan yang sangat berharga ini. Mereka lebih menyibukkan diri untuk memperoleh fasilitas dunia, padahal bukan pada maksud fasilitas itu keselamatan dalam Tuhan Yesus diberikan. Dalam hal ini Tuhan Yesus berkata, ”Bahwa hidup itu lebih penting daripada makanan” (Mat. 6:25). Kalau hidup seseorang diisi dengan hidup dalam persekutuan dengan Allah, maka menjadi arsip abadi yang indah dalam Kerajaan Surga.