Kesadaran terhadap Keberadaan Diri
19 February 2021

Play Audio

Dalam Lukas 7:47 dikatakan, “…tetapi orang yang sedikit diampuni sedikit juga ia berbuat kasih.” Kalimat ini mengesankan bahwa Tuhan tidak memberikan pengampunan sepenuhnya, atau seakan-akan hanya sebagian atau bisa dalam porsi sedikit. Apakah Tuhan dapat memberikan pengampunan dengan sebagian saja? Apakah bisa dalam porsi sedikit? Tidak dapat dipungkiri, secara harfiah kalimat tersebut dapat berarti demikian. Namun jika diartikan demikian, maka timbul kesan bahwa Tuhan tidak konsekuen dalam memberi pengampunan kepada manusia. Lalu, bagaimana memaknai perkataan ini?

Tentu ayat firman Tuhan ini tidak bermaksud untuk menyatakan bahwa pengampunan Tuhan dapat diberikan sebagian saja. Kita harus melihat dari sudut pandang manusia atau objek yang diampuni. Merujuk pada kisah perempuan berdosa yang berdiri di belakang kaki Yesus yang tidak henti-hentinya menangis, membasuh kaki-Nya dengan air mata dan menuangkan minyak, ia menyadari betapa banyak dosa yang telah dia lakukan. Ini dari sudut manusianya. Hal ini berbeda dengan Simon orang Farisi yang merasa dirinya sudah baik di mata manusia. Ia merasa dirinya adalah orang saleh yang tidak memiliki dosa seperti perempuan itu. Dalam hal ini, besarnya dosa yang dimaksud Tuhan dalam ayat itu tidak hanya menunjuk pada keadaan orang tersebut, tetapi kesadarannya terhadap keadaan dirinya.

Perempuan berdosa ini merasa banyak dosanya, besar dosanya, maka ia melakukan hal yang luar biasa terhadap Tuhan. Sebaliknya, karena Simon orang Farisi itu tidak merasa bahwa dirinya berdosa, maka ia hanya melakukan hal yang biasa bahkan kurang terhormat, seperti yang dikatakan dengan tegas oleh Yesus: “Ketika Aku masuk rumahmu, kamu tidak mencuci kaki-Ku tapi perempuan ini mencuci dengan air matanya. Kamu tidak mencium Aku, tetapi wanita ini mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki Aku dengan minyak, perempuan ini memecahkan, menuangkan minyaknya kepada-Ku.” (Luk. 7:44). Dalam konteks budaya hari itu, jika ada tamu yang dianggap terhormat dari tuan rumah, maka tuan rumah yang mencuci kaki tamu itu. Tuan rumah yang kemudian mencium terlebih dahulu kaki tamu tersebut dan memercikkannya dengan minyak wangi. Tetapi hal itu tidak dilakukan oleh Simon orang Farisi karena ia memandang Yesus tidak terhormat atau kurang terhormat dibanding dirinya.

Berbeda dengan wanita itu, Simon orang Farisi merasa dirinya tidak memiliki dosa sebanyak wanita tersebut. karena pada saat itu, ia memandang dirinya sebagai penegak Taurat. Inilah yang dimaksud Tuhan ketika berkata, “Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.” Dalam hal ini, besarnya dosa yang dimaksud dalam pernyataan Tuhan tidak hanya menunjuk pada keadaan orang tersebut, tetapi kesadarannya terhadap keadaan dirinya. Simon orang Farisi itu tidak sadar bahwa dirinya belum berkeadaan seperti yang dikehendaki Allah. Ia berpikir dengan menjadi agen penegak hukum keagamaan, ia telah memiliki keadaan yang benar. Dengan berpikir demikian, ia merasa telah cukup baik sehingga tidak melakukan banyak perbuatan kasih. Sebaliknya, wanita yang merasa berdosa itu melakukan banyak perbuatan kasih karena berangkat dari kesadaran akan dirinya yang belum berkenan. Kesadaran akan dirinya membuat perempuan tersebut diampuni oleh Tuhan.

Kisah wanita berdosa dan Simon orang Farisi ini memberi pelajaran berharga bagi kita. Pelajaran tersebut adalah kita tidak boleh cepat merasa puas dengan keadaan diri kita. Jangan bepikir jika tidak melakukan pelanggaran moral, diterima masyarakat, dan mengambil bagian dalam kegiatan gerejawi, maka kita sudah berkenan di hadapan Tuhan. Sesungguhnya kita harus terus merasa haus dan lapar untuk terus mengejar standar keberadaan yang dikehendaki oleh Tuhan. Tentu hal ini dapat dilihat oleh orang itu sendiri bersama dengan Tuhan jika jujur memperkarakannya. Tuhan akan membukakan mata rohani seseorang terhadap keadaan dirinya ketika ia haus dan jujur memperkarakannya. Selain itu, ia akan bisa menghayati kebesaran dan kekudusan Allah. Ketika seseorang semakin menghayati kekudusan Allah, ia akan menyadari kemelesetan yang ada di dalam dirinya. Orang yang memburu kesucian, orang yang haus dan lapar akan kebenaran, pasti dibukakan pengertiannya untuk melihat keadaan dirinya, supaya semua unsur kekafiran, semua sampah-sampah dosa masa lalunya bisa dikenali dan ditanggulangi.