Kerinduan Membagi Injil
23 July 2018

Paulus menegaskan bahwa orang yang berseru atau memanggil Yesus sebagai Tuhan, yang karenanya mereka teraniaya, akan membuahkan keselamatan (Rm. 10:13). Kata “berseru” dalam teks aslinya adalah epikaleomai (επικαλεομαι), yang juga bisa berarti appeal (an urgent request for something important), menyampaikan permintaan yang mendesak kepada Tuhan untuk sesuatu yang penting. “Orang yang berseru” menunjukkan kepada orang yang sedang dalam keadaan berkebutuhan khusus. Kalau dikaitkan dengan keadaan orang Kristen pada waktu itu, orang yang berseru kepada Tuhan adalah orang-orang Kristen yang menderita aniaya karena nama Yesus atau karena beriman kepada Yesus.

Dalam atmosfer pikiran Paulus, memercayai Yesus adalah keuntungan atau keunggulan. Walau harus disertai dengan aniaya dan penderitaan. Itulah sebabnya Paulus merindukan orang-orang juga bisa berkeadaan seperti dirinya dan orang-orang percaya yang menderita aniaya. Keadaan menderita karena aniaya tersebut, sebenarnya membuat orang percaya menjadi lebih mulia dan unggul daripada mereka yang tidak memiliki keadaan tersebut. Karenanya Paulus mempersoalkan bagaimana Injil bisa didengar sebanyak mungkin orang, agar mereka mendengar Injil dan diselamatkan (Rm. 10:14). Paulus juga memuji orang-orang yang mau memberitakan Injil. Dalam tulisannya Paulus menyatakan, betapa indahnya jejak langkah orang yang memberitakan Injil (Rm. 10:15).

Kerinduan atau keinginan Paulus agar orang lain mendengar Injil, merupakan satu hal yang sukar dimengerti, sebab mereka yang menerima Yesus sebagai Tuhan, kemudian menjadi orang Kristen pasti akan menderita aniaya. Secara tidak langsung, pemberitaan Injil yang dilakukan Paulus sama dengan mengajak orang untuk menderita.  Tidak mudah orang bersedia menerima Injil, yang justru membuat mereka menderita aniaya di bumi ini. Biasanya atau pada umumnya, tidak ada orang yang mau hidup menderita. Betapa sulitnya pemberitaan Injil seperti ini.

Pemberitaan Injil pada zaman gereja mula-mula pasti pemberitaan Injil yang murni. Injil diberitakan hanya untuk mengajak orang beriman dengan benar kepada Yesus, artinya memiliki hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah, seperti Abraham hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah. Ini sama artinya dengan hidup dalam ketaatan kepada Allah dalam segala hal, sehingga dapat hidup dalam kesucian dan kekudusan. Injil diberitakan dengan menyertakan pengharapan kedatangan Tuhan Yesus, kebangkitan dari antara orang mati dan selanjutnya tinggal di rumah Bapa. Inilah Injil yang diberitakan tanpa jaminan untuk hidup nyaman di bumi sekarang ini.

Injil yang murni ini adalah Injil penderitaan, bukan Injil kemakmuran duniawi atau kemakmuran materi di bumi. Injil yang benar menawarkan kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus, sebagai anggota keluarga Kerajaan, tetapi harus memikul salib yaitu menderita bersama dengan Yesus. Ini berarti harus melepaskan segala sesuatu atau kehilangan nyawa demi iman kepada Yesus. Tentu saja Injil seperti ini, pada waktu itu, hanya bisa diberitakan oleh orang-orang yang telah menang melawan penderitaan aniaya kekaisaran Roma, yaitu mereka yang bersedia setia sampai mati, walaupun di bumi ini mereka tidak hidup dalam kenyamanan. Kalau orang percaya belum menghayati Injil yang murni pada zaman itu, dan belum mengalami penderitaan bersama Tuhan, pasti tidak akan bisa memberitakan Injil yang murni atau Injil yang benar.

Hal ini sangat berbeda dengan pemberitaan Injil zaman sekarang. Di zaman ini, Injil diberitakan tanpa resiko dan konsekuensi; sebaliknya, Injil diberitakan dengan janji berkat, mukjizat, dan berbagai jalan keluar dari masalah hidup secara umum. Tentu saja pemberitaan atau pengajaran mengenai hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah seperti Abraham yang menghasilkan kesucian, tidak mendapat porsi pemberitaan yang proporsional. Injil yang diberitakan adalah Injil tanpa pengharapan yang kuat terhadap kedatangan Tuhan dan kebangkitan dari antara orang mati. Injil seperti ini diberitakan oleh mereka yang belum mengerti dan mengalami Injil yang murni. Mereka juga belum mengerti apa artinya menderita bagi dan bersama Tuhan. Hamba-hamba Tuhan palsu seperti itu, menjadikan Injil sebagai sarana untuk memperoleh keuntungan materi dan keuntungan pribadi lainnya. Injil yang diberitakan pasti Injil kemakmuran duniawi yang sarat dengan janji-janji berkat dan mukjizat.

Jemaat Kristen yang menerima Injil yang palsu tersebut tidak akan mampu menghayati bahwa dunia ini bukan rumah orang percaya. Dalam pemberitaan Injil palsu, tidak memuat pengajaran yang menekankan secara proporsional kerinduan untuk tinggal di rumah Bapa. Sebaliknya, diajarkan dan dijanjikan bahwa mengikut Yesus berarti hidup dalam “berkat”, sehingga bisa menemukan Firdaus di bumi. Inilah Injil tanpa penderitaan. Injil yang palsu ini memarkir jemaat di dunia, yang akhirnya menggiring mereka ke dalam kebinasaan. Jejak langkah pemberita Injil palsu ini, bukan jejak langkah yang indah seperti yang Paulus maksudkan dalam Roma 10:15, tetapi jejak langkah yang buruk membawa manusia kepada penyesatan.