Kerasukan
12 November 2020

Play Audio Version

Setelah mengaku sebagai anak Allah, seseorang harus hidup dalam ketakutan selama menumpang di dunia (1Ptr. 1:17). Mengapa demikian? Sebab penebusan Tuhan Yesus bagi kita dimaksudkan agar kita dikeluarkan atau diubah dari cara hidup yang sia-sia yang telah diwarisi dari nenek moyang, masuk ke dalam kehidupan dalam kesucian yang standarnya adalah Allah Bapa sendiri (1Ptr. 1:16-19). Seorang Kristen harus terus berusaha untuk bertumbuh dalam perubahan pola berpikir, sehingga mampu memiliki pola berpikir seperti Allah Bapa. Dengan demikian, tidak ada tempat bagi filosofi dunia dalam pikirannya, yang sama dengan tidak memberi pangkalan untuk Iblis. Dalam kisah Petrus, ia dipakai oleh Iblis untuk mencegah Tuhan Yesus ke Yerusalem dengan nama Allah agar Yesus tidak mati di kayu salib. Petrus merasa bahwa apa yang ada di dalam ide atau pikirannya berasal dari Allah. Sebaliknya, Petrus menganggap bahwa apa yang hendak dilakukan oleh Tuhan Yesus bukan berasal dari Allah (Mat. 16:21-23). Jadi, selama itu Petrus merasa bahwa pengertiannya berasal dari Allah, padahal ia menyerap pengertian yang datang dari Iblis. Ia tidak sadar bahwa sebenarnya ia sedang “kerasukan” Iblis.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa apa yang didaratkan atau diasup dalam pikiran menjadi landasan Iblis. Kalau sampai masukannya cukup, maka Iblis akan leluasa mengatur dan menguasai orang tersebut. Itulah sebabnya, kita harus selalu mempertimbangkan bahwa kemungkinan masih ada pengaruh kuasa gelap dalam hidup kita, yang terkait dengan cara berpikir dan prinsip-prinsip kebenaran yang kita pahami. Kita harus selalu memperkarakan, “Apakah kita benar-benar sudah ada dalam kebenaran Tuhan?” Terkait dengan hal ini, Rasul Paulus berkata: “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau” (1Tim. 4:16).

Petrus telah menerima masukan dalam pikirannya mengenai konsep Mesias yang salah, yaitu konsep Mesias menurut orang-orang Yahudi. Jadi, tidak heran kalau Iblis bisa menyusupkan idenya dalam diri Petrus untuk merusak pekerjaan Tuhan. Kepada Petrus, Yesus tegas berkata, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Dalam hal ini, betapa berarti dan pentingnya konsep-konsep yang ada dalam pikiran seseorang. Dalam hal ini pula kita mengerti, mengapa Yesus mengatakan bahwa “manusia hidup bukan saja dari roti, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah.” Kalimat “keluar dari mulut Allah” menunjuk kepada kebenaran yang murni, yang tertuang dari Allah. Dalam hal ini, sesungguhnya yang dibutuhkan setiap orang percaya bukan sekadar pengajaran yang diajarkan orang kepadanya, baik melalui khotbah secara lisan maupun buku yang tertulis, melainkan sebuah perjumpaan dengan Allah secara riil, dimana orang bisa berinteraksi dengan Allah.

Sekarang ini, ajaran salah yang justru lebih banyak beredar yaitu pengajaran yang tidak membawa seseorang kepada keselamatan yang sejati. Sebagai buktinya, semakin tidak kita jumpai orang yang benar-benar memiliki kualitas hidup seperti Yesus. Hal ini bisa terjadi dalam kehidupan banyak orang Kristen, sebab pengajaran yang mereka terima berorientasi kepada berkat jasmani dan mukjizat. Padahal, pergumulan hidup untuk memiliki pikiran dan perasaan Kristus adalah pergumulan yang berat, yaitu memasuki pintu yang sesak. Dibutuhkan perjuangan yang benar-benar serius. Orientasi pengajaran yang terfokus pada berkat jasmani dan mukjizat, tanpa disadari mengarahkan jemaat kepada materialisme dan usaha membangun Firdaus di bumi. Ini adalah kecerdikan Iblis yang menyimpangkan pikiran orang percaya dari fokus yang benar.

Banyak pengajar palsu yang mendapat kesempatan berkhotbah di berbagai media. Mereka merasa dan mengaku sudah bisa berdialog dengan Tuhan, padahal mereka tidak berdialog dengan Tuhan yang benar. Mereka terbiasa menyampaikan sesuatu yang diklaim sebagai suara dari Tuhan, tetapi apa yang mereka katakan adalah pikiran manusia, bukan pikiran Allah. Cirinya adalah apa yang disampaikan mengarah pada pengultusan diri sebagai orang yang dekat dengan Allah, berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani, bukan perkara-perkara yang “di atas.” Hal ini sangat tampak jelas pada pengajaran teologi kemakmuran dan penekanan alam roh.

Dalam seluruh tindakan kehidupan setiap hari, orang percaya harus memiliki pikiran dan perasaan yang sesuai dengan Allah Bapa. Sehingga setiap keputusan dan pilihan-pilihannya tidak menyimpang dari kehendak-Nya. Hal ini harus dipandang sebagai hal yang wajar dan natural, sebab standar kehidupan anak Allah adalah melakukan kehendak Bapanya, yaitu Allah. Apa yang mengisi pikiran seseorang menjadi landasan dengan siapa dia bersekutu dan dikuasai. Kalau yang mengisi pikirannya bukan kebenaran Firman Allah, maka ia dikuasai oknum si jahat. Kalau seseorang memiliki pemahaman yang benar mengenai Tuhan dan kebenaran-Nya, maka ia bisa dikuasai oleh Tuhan.