Kepenuhan di Dalam Allah
09 October 2020

Play Audio Version

Dari kenyataan bahwa bumi ini diberi Tuhan kesempurnaan yang begitu hebat, maka manusia yang menerima bumi ini haruslah manusia yang memiliki relasi ideal dengan Dia. Kalau relasi dengan Allah tidak ideal, tidak mungkin bumi yang sempurna bisa dinikmati. Itulah sebabnya, setelah manusia kehilangan kemuliaan Allah, bumi pun harus terhukum atau terkutuk. Manusia yang telah memberontak kepada Allah adalah makhluk yang tidak layak menikmati kesempurnaan ciptaan Allah. Nanti di langit baru dan bumi yang baru—di mana ada manusia-manusia yang telah dipulihkan atau dikembalikan ke rancangan Allah semula—barulah manusia memiliki dan menikmati dunia yang tidak terkutuk atau bumi yang tidak terhukum. Doa Bapa Kami yang diajarkan Tuhan Yesus merupakan persiapan untuk kehidupan guna menerima langit baru dan bumi yang baru.

 

Oleh sebab itu, kita harus benar-benar menyadari bahwa hidup kita hari ini hanya sebagai persiapan untuk kehidupan di dunia yang akan datang, yaitu di langit baru dan bumi yang baru. Kita tidak bisa lagi dan memang tidak boleh mengharapkan dunia kita hari ini menjadi hunian yang ideal. Bumi di mana kita hidup hari ini adalah produk yang gagal atau produk yang rusak karena kejatuhan manusia ke dalam dosa. Oleh belas kasihan Allah, Yesus menyediakan tempat bagi kita di mana kita akan menikmati dunia yang tidak ada dosa dan kejahatan, yaitu di langit baru dan bumi baru yang tidak terkutuk. Sebagai orang percaya, kita harus menaruh pengharapan ini sebagai satu-satunya pengharapan kebahagiaan kita (1Ptr. 1:13).

 

Untuk itu, kita jangan sampai diracuni oleh keinginan-keinginan dunia yang membuat kita tidak mengingini dunia yang akan datang. Kita harus bersedia memadamkan atau mematikan semua hasrat yang yang tidak sesuai dengan keinginan atau kehendak Allah. Hasrat-hasrat yang tidak sesuai dengan kehendak Allah pastilah hasrat-hasrat yang tidak bertujuan untuk kepentingan Kerajaan Allah. Biasanya, hasrat-hasrat seperti itu ditujukan untuk kesenangan diri sendiri saja, bukan untuk kemuliaan Allah. Doa Bapa Kami mengarahkan orang percaya untuk mematikan keinginan pribadi dan menghadirkan kehendak Allah di dalam hidup kita, dalam kerangka pemerintahan Allah di dalam seluruh aspek hidup kita.

 

Kenyataan dalam hidup ini, banyak orang telah diracuni oleh keinginan-keinginan dunia yang membuat mereka sama sekali tidak mengingini dunia yang akan datang. Tanpa kita sadari, kita pun diracuni oleh hasrat-hasrat dan keinginan-keinginan duniawi. Kemudian, kita menjalani hidup wajar seperti manusia lain, yang hidupnya digerakkan oleh gairah dari hasrat-hasrat dunia dan keinginan dari diri sendiri. Kalau keadaan ini berlangsung berlarut-larut di dalam hidup seseorang, maka ada suatu situasi dimana orang tersebut tidak bisa lagi diperbaiki. Jiwanya telah menjadi rusak, yaitu terikat dengan keinginan keinginan daging dan hawa nafsu yang rendah, sehingga tidak bisa lagi berbalik kepada Tuhan. Oleh sebab itu, selagi kita masih bisa menyadari kesalahan kita dan berbalik, kita harus berbalik kembali kepada Tuhan dengan segenap hati. Itulah sebabnya, Firman Tuhan mengatakan agar kita tidak menyia-nyiakan keselamatan yang begitu besar yang diberikan Allah kepada kita, dan agar kita tidak mengeraskan hati pada waktu Tuhan melawat kita atau memberi peringatan, agar kita berbalik kepada-Nya.

 

Kuasa gelap berusaha menggiring sebanyak mungkin orang pada satu situasi atau level dimana ia tidak bisa lagi berbalik kepada Tuhan; suatu keadaan dimana jiwa seseorang tidak dapat diperbaiki lagi. Dalam stadium itu, seseorang tidak akan pernah bisa menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Kalaupun orang tersebut tidak menjadi jahat, tetapi ia tidak pernah menjadi sempurna seperti Bapa. Orang-orang seperti ini tidak akan pernah memenuhi rencana Allah, yaitu menjadi serupa dengan Yesus. Ini berarti ia tidak pernah mengalami keselamatan, yaitu dikembalikan ke rancangan Allah semula. Banyak orang Kristen yang sebenarnya berkeadaan demikian. Ironis, mereka tidak menyadari keadaan tersebut. Mereka merasa telah memiliki keselamatan, padahal belum. Orang yang memiliki keselamatan, pasti berkeadaan serupa dengan Yesus.

 

Jadi, kalau Tuhan Yesus berkata, “kamu harus sempurna seperti Bapa di surga,” itu adalah kemungkinan atau suatu keniscaayaan. Alkitab mengatakan bahwa di dalam Dia, berdiam secara jasmaniah kepenuhan Allah (Kol. 1:19). Tetapi dalam ayat yang lain, dikatakan bahwa di dalam diri orang percaya juga berdiam kepenuhan Allah (Ef. 3:19). Yesus adalah manusia sejati, yang di dalam diri-Nya bisa berdiam kepenuhan Allah, artinya kodrat Allah. Dimana segala sesuatu yang Dia pikirkan dan lakukan, selalu sesuai dengan perasaan Allah. Anak-anak Allah yang lain, yaitu orang percaya pun dapat memiliki kualitas hidup serupa dengan Yesus. Inilah inti keselamatan.