Kepekaan Hadirat Allah
22 December 2020

Play Audio Version

Seiring dengan pertumbuhan kedewasaan rohani kita dan perjalanan hidup di hadirat Allah, semakin hari orang percaya dapat mengalami hadirat Allah yang lebih pekat atau tebal. Hal ini tergantung dari seberapa ideal hubungan kita dengan Allah. Idealnya, hubungan kita dengan Tuhan ditentukan seberapa kita bertumbuh dewasa dalam kekudusan. Semakin seseorang hidup tidak bercela dan semakin tidak mencintai dunia serta semakin sepenanggungan dalam pekerjaan Allah, maka hadirat Allah semakin kuat dialami dan dimiliki. Dalam hal ini, kepekatan hadirat Allah yang dialami setiap orang berbeda-beda seiring dengan proses pendewasaan masing-masing individu.

Oleh sebab itu, kita tidak boleh puas dengan pengalaman ada di hadirat Allah yang telah kita alami. Allah Bapa menyediakan berkat hadirat-Nya setiap hari semakin besar sesuai dengan kapasitas kita membuka diri. Karena itu, kalau kita berurusan dengan Allah, yang menjadi fokus perhatian bukanlah pemenuhan kebutuhan jasmani, melainkan kedewasaan rohani untuk sempurna seperti Bapa agar kita dapat semakin mengimbangi kekudusan Allah. Hal ini membangun relasi yang ideal dengan Allah. Pengalaman rohani yang telah kita miliki harus berkembang terus sebagai dasar untuk melanjutkan perjalanan hidup bersama dengan Tuhan.

Banyak hal yang harus kita hadapi, dan banyak hal yang harus kita selesaikan dengan Tuhan ke depan, yang oleh karenanya kita harus mengalami hadirat Allah lebih tebal atau lebih pekat lagi. Apalagi kalau kita belum memiliki pengalaman yang cukup dengan Tuhan, berarti kita harus meraih lebih banyak pengalaman dengan Tuhan yang berguna untuk proses penyempurnaan bagi kedewasaan rohani kita. Kita harus membuka diri terhadap Tuhan dengan menyediakan waktu untuk berdoa dan mendengar Firman setiap hari. Setiap kali bertemu dengan Tuhan, pasti ada sesuatu yang kita terima dari Dia. Kepekatan hadirat Allah pasti lebih bertambah. Pertemuan dengan Tuhan harus dipahami sebagai kesempatan berharga yang tiada taranya, lebih dari pertemuan dengan siapa pun dalam kehidupan ini. Kita harus selalu merindukan untuk merasakan hadirat Tuhan dalam jam-jam doa kita. Tuhan selalu menyediakan diri dan menyediakan berkat kekal-Nya, setiap kali pertemuan dengan anak-anak-Nya yang menghampiri Dia.

Tanpa disadari, banyak berkat kekal—yaitu kesempatan untuk mengembangkan pengalaman menikmati hadirat Allah—yang berlalu sia-sia, karena mereka lebih mementingkan hal-hal duniawi dalam kehidupan ini. Seharusnya, setiap hari kita memerhatikan hal-hal yang lebih berharga dari apa pun yang Tuhan sediakan bagi bekal kekekalan kita. Oleh sebab itu, begitu kita membuka mata pada pagi hari, kita sudah mengambil pilihan bahwa kita memilih Kerajaan Surga. Ini berarti kita mau memerhatikan berkat kekal yang Tuhan sediakan bagi kita hari itu, yaitu kehadiran Allah untuk mendewasakan kita. Kita harus mengarahkan diri kita sendiri hanya kepada Tuhan untuk menikmati kehadiran-Nya, atau hidup di hadirat-Nya. Kita yang harus memaksa diri kita sendiri untuk mencari dan mengalami kehadiran-Nya atau hidup di hadirat-Nya. Kita harus melepaskan diri dari segala ikatan yang mengganggu hubungan kita dengan Allah. Ikatan-ikatan tersebut adalah ikatan dosa dan percintaan dunia; kita harus hidup kudus dan tidak dapat dibahagiakan oleh dunia ini.

Semakin pekat hadirat Allah yang dialami seseorang, semakin kuat suasana surga yang dialami dan dirasakan. Semakin hari, akan semakin merasakan suasana Kerajaan Allah. Orang tersebut sudah mengalami suasana surga sebelum masuk surga. Orang percaya seperti ini pasti sangat dikenal di surga. Orang yang semakin menikmati suasana surga akan semakin rindu pulang ke surga. Di lain pihak, hatinya semakin tawar terhadap keindahan dunia ini. Itu berarti orang percaya tersebut akan semakin mengasihi Bapa dan Tuhan Yesus. Selanjutnya, ia akan semakin terlepas dari percintaan dunia. Orang-orang seperti ini pasti mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Orang seperti ini tidak takut mati. Sampai pada titik tertentu, keselamatan menjadi milik yang pasti dan ia memiliki hak penuh masuk Kerajaan Allah, seperti yang dikatakan di dalam 2 Petrus 1:11. Sebaliknya, kalau orang Kristen tidak semakin merasakan kehadiran Allah, berarti hatinya semakin “klop” dengan suasana dunia, karena cita rasa jiwanya adalah dunia ini. Sehingga, ia tidak merasa bahwa ia berasal dari atas. Orang-orang seperti ini tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Biasanya, mereka adalah orang-orang yang takut mati.