Kepastian Keselamatan
16 May 2020

Play Audio Version

Kalau seseorang berpandangan bahwa Allah secara sepihak menentukan keselamatan seseorang di luar kesadaran orang tersebut, maka keselamatan sering hanya dipahami sekadar terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga. Pandangan ini biasanya juga disertai dengan asumsi bahwa keselamatan atas individu didasarkan pada pilihan Allah secara sepihak berdasarkan kedaulatan Allah yang mutlak. Dalam hal ini, respons manusia tidak dibutuhkan atau tidak bisa berperan secara proporsional, bahkan tidak berperan sama sekali. Manusia menjadi objek yang hanya menerima takdir atau penentuan Allah di luar kemampuan diri manusia itu untuk menolak atau menerima.

Kompensasi dari pengertian keselamatan yang tidak tepat tersebut adalah kepastian keselamatan hanya didasarkan pada pengertian dalam nalar, bukan pada pengalaman pergaulan pribadi dengan Allah. Mestinya, kepastian keselamatan dibangun dari penghayatan terhadap kehadiran Allah, dan kehidupan yang diubahkan menjadi semakin seperti Yesus. Untuk membela definisi keselamatan yang tidak tepat di atas, para penganutnya harus menyusun sistematika dogmatika yang selogis-logisnya untuk dapat mengurai dan memberi landasan premis keselamatan tersebut. Sebagai hasilnya, tersusun dogmatika yang kelihatannya sistematis dan kokoh, namun sebenarnya rapuh, serta implikasi konkretnya miskin dan dangkal. Doktrin seperti ini tidak mampu menyelamatkan orang Kristen dari pengaruh dunia. Masyarakat Eropa sebagai contohnya.

Biasanya, komunitas orang Kristen yang menganut pandangan ini lebih menggunakan nalar dan membangun sistematika teologi yang diusahakan selengkap-lengkapnya, untuk membuat pandangan mereka tampak Alkitabiah. Tetapi di lain pihak, kehidupan orang-orang Kristen seperti ini kurang bergairah untuk menjangkau kesucian hidup yang berstandar kesempurnaan Bapa atau keserupaan dengan Yesus. Tidak sedikit di antara mereka yang sangat cakap berdebat, berapologetika, dan memaparkan penjelasan-penjelasannya dengan istilah-istilah yang sesuai dengan pandangan mereka, guna mendukung doktrin mereka. Fakta di lapangan, komunitas mereka cenderung menjadi arogan dan merasa sebagai orang Kristen yang paling benar dalam pemahaman mengenai Alkitab.

Komunitas tersebut juga memiliki kecenderungan kurang menekankan hal-hal yang bersifat subjektif, sehingga mereka miskin dalam pengalaman pribadi dengan Allah. Bagi mereka, subjektivitas tidak dapat dipercayai sama sekali. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa keadaan manusia yang telah jatuh dalam dosa tidak bisa dipercayai sama sekali, karena keberdosaan manusia tidak membuka peluang sama sekali untuk mengenal kebenaran. Padahal, orang percaya yang menerima pembenaran memiliki meterai Roh Kudus yang menuntunnya kepada seluruh kebenaran. Mestinya, orang percaya membuka ruang hidupnya untuk bergaul dengan Allah melalui Roh Kudus, guna memperoleh pengalaman pribadi dengan Allah, sebab Allah hidup dan riil. Subjektivitas tidak selalu berarti negatif dan sesat. Hal ini tergantung pada kedalaman seseorang bergaul dengan Allah.

Manusia harus merespons kasih karunia dengan tindakan konkret. Tindakan itu adalah usaha yang sungguh-sungguh untuk mencapai target yang dikehendaki Allah, yaitu menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah semula. Yesus adalah model manusia yang dikehendaki oleh Allah. Dengan demikian, kehidupan orang Kristen memiliki satu-satunya agenda, yaitu menjadi seperti Yesus. Inilah kekristenan yang sejati. Ini berarti menjadi Kristen, artinya dikuburkan bersama-sama dengan Yesus (Rm. 6:4).

Kekristenan yang sejati menempatkan orang percaya untuk meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya, dan berusaha menanggalkan manusia lama atau mematikan kodrat dosa, guna mengalami proses pembaruan. Pembaruan tersebut seperti sebuah proses “format ulang” atas kehidupan orang percaya dari kodrat dosa menjadi seorang yang berkodrat ilahi. Dalam hal ini, yang dibutuhkan bukan hanya sistematika teologi yang memenuhi pikiran, melainkan juga pergaulan riil dengan Allah dalam kehidupan doa, dan kehidupan setiap hari melalui segala peristiwa. Tujuan hidup orang percaya hanyalah bagaimana dilayakkan menjadi anak-anak Allah yang nantinya masuk ke dalam anggota keluarga Kerajaan Surga dan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus.

Kepastian keselamatan harus dibangun dari pengalaman berjalan dengan Tuhan dan penghayatan terhadap kehadiran Allah. Sehingga, kepastian keselamatan bukanlah dibangun dari keyakinan di dalam nalar, melainkan pengalaman riil dengan Allah. Pengalaman riil dengan Allah ini bukan hanya membangun keyakinan di dalam nalar, melainkan juga perasaan yang telah bersentuhan dengan Pribadi Allah. Memang, seharusnya orang percaya tidak membiasakan diri “merasakan apa yang diyakini” tetapi “merasakan apa yang dialami.” Dengan demikian, perjalanan hidup kekristenan bukanlah fantasi yang dirumuskan di atas kertas dalam sistematika teologi, melainkan realita yang dialami langsung. Kualitas hidup seorang yang sungguh-sungguh mengalami Tuhan akan tampak dalam seluruh perilakunya. Hal ini merupakan fenomena yang tidak terbantahkan. Sesungguhnya, kelakuan seseorang menunjukkan teologinya.