Kepala Pemerintahan
25 December 2016

Ketika Tuhan Yesus berinkarnasi menjadi manusia, pemerintahan jagad raya dikendalikan sepenuhnya oleh Allah Bapa. Hal ini menunjukkan supremasi atau keunggulan Allah Bapa. Tanpa siapa pun, bahkan tanpa Allah Anak, Bapa bisa menjalankan roda pemerintahan jagad raya (bumi dan surga). Tetapi sebaliknya, tanpa Bapa, Anak tidak bisa melakukannya sendiri. Bapa bisa ditinggalkan oleh Allah Anak, tetapi Allah Anak (Tuhan Yesus) tidak dapat ditinggalkan oleh Bapa, sebab memang kuasa berasal dari Bapa melalui Roh Kudus yang menaungi jagad raya ini. Roh Kudus adalah Roh Allah atau Roh Bapa sendiri yang memuat kuasa Bapa tanpa batas.

 

Ketika Tuhan Yesus sudah menyelesaikan tugas keMesiasan-Nya, segala kuasa di surga dan di bumi diserahkan kembali kepada Tuhan Yesus Kristus (Mat. 28:18-20). Penyerahan kekuasaan dari Bapa yang digambarkan sebagai “yang lanjut usia” kepada Anak manusia dinubuatkan oleh Daniel. Dalam Daniel 7:13-14, ditunjukkan penyerahan kekuasaan dari Allah Bapa kepada Anak Manusia, yaitu Tuhan Yesus. Tuhan

Yesus adalah Tuhan yang tampil mewakili Bapa dalam mengatur jagad raya ini sampai selama-lamanya. Dengan demikian tegas dikatakan bahwa Dia adalah Allah (Yoh. 1:1; Rm. 9:5). Dalam hal ini Bapa berkenan membagi atau menyerahkan kekuasaan pemerintahan atau yang sama dengan kemuliaan-Nya –sebagai bagian dari Lembaga Ilahi- kepada Putra Tungal-Nya ini (Yoh. 17:5). Itulah sebabnya Tuhan Yesus dinyatakan sebagai Allah (Elohim) bersama dengan Bapa dalam lembaga Allah yang esa.

 

Sebagai Tuhan, Yesus Kristus adalah Kepala Pemerintahan di bumi dan di surga. Alkitab menulis dengan tegas bahwa Tuhan Yesus adalah Kepala segala sesuatu, Firman Tuhan mengatakan: Sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi (Ef. 1:10) Teks yang senada dengan teks ini juga ada di dalam Efesus 4:5, Kolose 2:10, Ibrani 10:21 dan lain sebagainya. Itulah sebabnya dengan tegas Petrus dalam khotbahnya kepada penduduk Yerusalem menyatakan: Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus (Kis. 2:36).

 

Penjelasan di atas menunjukkan betapa terhormatnya Tuhan Yesus, sebab kekuasaan yang tak terbatas diberikan kepada Tuhan Yesus. Tuhan Yesus berkuasa atas apa pun dan siapa pun, kecuali di hadapan Allah Bapa. Tuhan Yesus hanya tunduk kepada Allah Bapa. Tuhan Yesus menerima kemuliaan dari Allah Bapa. Pengagungan atau kemuliaan tersebut di dalam atau di hadirat Bapa; tidak berdiri sendiri (Yoh. 17:5 ; 22). Pada hari kedatangan-Nya atau penyataan-Nya nanti, Tuhan Yesus akan tampil dengan kemuliaan Bapa yang diberikan kepada diri-Nya. Harus dimengerti dan diterima bahwa Tuhan Yesus tidak memiliki kemuliaan dari diri-Nya sendiri, tetapi kemuliaan dari Bapa (Mat. 16:27). Jadi kalau dikatakan dalam beberapa teks bahwa Ia datang dengan kemuliaan-Nya, harus dipahami bahwa kemuliaan itu dari Bapa.

 

Pernyataan ini penting sekali, bahwa kemuliaan yang Tuhan Yesus miliki berasal dari Bapa, dinikmati atau dirasakan di hadirat Bapa dan untuk kemuliaan Bapa sendiri. Itulah sebabnya tidak segan-segan Bapa menyerahkan seluruh kekuasaan kepada Tuhan Yesus Kristus. Kemuliaan di sini maksudnya adalah kebesaran kuasa untuk memerintah. Inilah yang dijanjikan oleh Bapa baik untuk Tuhan Yesus maupun orang percaya (Rm. 8:17). Pada suatu hari nanti di Kerajaan Surga, Tuhan Yesuslah yang bertakhta di Yerusalem Baru. Berbahagialah orang yang sejak di bumi telah menjadi pengawal Kerajaan Allah, yang menderita bersama-sama dengan Tuhan Yesus, karena Dialah Penguasa tertinggi. Dan orang percaya akan memerintah bersama-sama dengan Tuhan Yesus.

 

Kalau hari ini banyak orang non Kristen merendahkan, melecehkan dan menciderai Tuhan Yesus, hal itu terjadi karena pikiran mereka tidak mengerti dan hati mereka tertutup terhadap kebenaran. Tetapi kalau orang Kristen sendiri tidak menghargai Dia secara pantas sebagai Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja, maka itu tindakan yang tidak kalah jahatnya. Pengakuan Yesus adalah Tuhan tidak cukup dengan perkataan di bibir, tetapi harus dalam tindakan nyata, yaitu sikap tunduk sepenuh kepada Dia dan melayani Dia tanpa batas.