Kemusafiran Hidup Orang Percaya
30 October 2019

Ketika seseorang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, maka ia menempatkan diri sebagai musafir atau orang yang menumpang di bumi ini. Dari sejak masa kanak-kanak, banyak orang telah terdidik memiliki pola berpikir anak-anak dunia. Mereka merasa bahwa dunia inilah satu-satunya kesempatan dan tempat yang dimiliki manusia untuk dapat dinikmati dan menjalani kehidupan. Mereka berpikir bahwa tidak ada kehidupan lain selain di bumi ini. Dengan demikian, mereka tidak mengharapkan ada kehidupan lain yang lebih baik. Cara berpikir seperti ini juga ada dalam kehidupan banyak orang Kristen. Kalau cara berpikir seperti ini tidak diubah, maka mereka akan terpenjara di dunia dan tidak memiliki naluri sebagai musafir. Orang-orang Kristen seperti yang tersebut di atas juga tidak mau kehilangan kesempatan untuk menikmati dunia semaksimal mungkin. Demi menikmati dunia ini, mereka rela mengurbankan segala sesuatu. Bahkan pengiringannya kepada Tuhan pun tidak diperhatikan secara benar. Orang-orang seperti ini tidak berhasrat mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah dan hidup dalam pemerintahan-Nya.

Rasul Petrus mengatakan bahwa sebagai orang percaya di bumi ini adalah “pendatang dan perantau” atau orang yang menumpang di bumi ini (1Ptr. 1:17; 2:11). Oleh karena langkanya atau tidak adanya pemberitaan mengenai hidup kemusafiran, maka banyak orang Kristen memandang hal kemusafiran ini sebagai sesuatu yang sangat asing atau bahkan aneh. Hal ini terjadi karena sudah sangat lama orang Kristen tidak mendengar ajaran ini. Kalau orang percaya tidak memahami pokok pengajaran ini, sulitlah menjadi orang percaya yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Perpindahan orang percaya ke Kerajaan Surga bukanlah dimulai nanti setelah kematian, tetapi harus dimulai sejak sekarang selama masih hidup di dunia.

Orang yang tidak menjalani hidup kemusafiran dan memindahkan hati ke dalam Kerajaan Surga, tidak akan memiliki harta dalam Kerajaan Surga. Ini artinya tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Surga. Kebenaran ini harus mulai disuarakan dengan lantang sekarang; hendaknya telinga mendengar, setiap mata terbuka, dan setiap hati digetarkan agar jalannya yang sesat dikembalikan ke jalan yang benar menuju Kerajaan Surga. Selanjutnya, orang percaya harus mulai belajar untuk menghayati kehidupan sebagai musafir di dunia ini. Tanpa memiliki jiwa kemusafiran yang benar, seseorang tidak pernah memiliki iman seperti Abraham, berarti ia belum memiliki percaya yang benar kepada Tuhan Yesus.

Abraham sebagai bapa orang percaya, menunjukkan model imannya yang menjadi teladan bagi orang percaya. Orang percaya harus memiliki jiwa kemusafiran seperti Abraham. Dalam hidupnya, Abraham memberikan segenap hidupnya disita oleh panggilan-Nya untuk menemukan negeri yang Tuhan akan tunjukkan. Sampai mati ia tidak melihat realisasi dari janji itu, tetapi ia mengakui bahwa Allah setia. Ia hanya melihat dari jauh negeri tersebut. Hal tersebut tidak mengurangi penyerahannya kepada Tuhan yang memberikan janji itu. Proses kemusafiran atau proses memiliki hati sebagai musafir inilah yang Tuhan juga kehendaki agar orang percaya jalani. Dengan kerinduan Paulus yang sangat kuat menantikan kedatangan Tuhan, membangun jiwa musafir di dalam dirinya. Ia dapat menghayati apa artinya “bukan berasal dari dunia ini” seperti yang dikatakan guru dan Tuhannya (Yoh. 17:16).

Paulus sendiri menyadari bahwa ia adalah warga Kerajaan Surga (Flp. 3:20-21). Dengan ketidaktahuan bahwa Tuhan sebenarnya belum datang pada zamannya, menjadi cara Tuhan yang sangat efektif menjadikan Paulus sebagai model anak Allah yang berjiwa musafir di bumi ini. Pelayanan pekerjaan Tuhan bisa dikatakan sukses kalau anak-anak Allah memiliki jiwa musafir. Itulah tugas dan pekerjaan gereja; bagaimana merubah pola pikir jemaat yang duniawi menjadi pola pikir rohani sebagai musafir di bumi ini, dan menghayati bahwa mereka adalah warga Kerajaan Surga yang bukan berasal dari dunia ini. Menjadi orang Kristen yang berjiwa musafir seperti Abraham bukanlah karunia, melainkan pilihan; apakah mengarahkan hatinya ke Kerajaan Surga, atau dunia ini. Hal ini tergantung kepada masing-masing individu. Orang yang membiasakan diri mengarahkan hatinya ke Kerajaan Surga akan lebih mudah mengarahkan terus menerus sampai akhir hayat. Tetapi orang yang tidak mengarahkan hatinya ke Kerajaan Surga tidak akan mudah mengarahkannya ke sana, sampai tidak mampu mengarahkannya ke surga. Orang seperti ini tidak pernah bisa mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah dalam hidupnya.