Kemelesetan
04 January 2021

Play Audio

Ada sesuatu yang perlu kita pahami—karena ini penting untuk dipahami oleh banyak orang Kristen—bahwa belajar teologi tidak menjamin seseorang bisa menjadi rohani, saleh, dan baik menurut ukuran Tuhan. Tentu ini bukan berdasarkan dugaan atau pertimbangan pribadi karena melihat seseorang, melainkan berdasarkan pengalaman dari kehidupan pribadi seorang hamba Tuhan yang telah sejak kecil Kristen, yang menjalani sekolah teologi menjadi pendeta, menjadi guru di Sekolah Tinggi Teologi, menulis lebih dari 100 buku, menjadi ketua sinode, dan bahkan menjadi pemimpin dari beberapa kegiatan dan lembaga Kristen. Ia menyaksikan bahwa belajar teologi itu tidak menjamin seseorang menjadi saleh. Kalau kita melihat, mereka yang bersekolah di Sekolah Tinggi Teologi, ternyata semakin tinggi tingkatan pendidikannya, ada yang makin tidak suka berdoa, makin tidak rendah hati, makin tidak mau mengerti orang lain. Tetapi sebaliknya, ia makin cakap berdebat, makin berani melawan. Yang tadinya ketika baru masuk kuliah, ia begitu taat kepada dosen bahkan kepada seniornya (senior sesama mahasiswa), tetapi setelah semakin tinggi tingkat pendidikannya, makin tidak taat kepada dosen atau guru, dan makin tidak menghormati senior.

Hal ini memberikan pesan kepada kita bahwa gelar akademisi tidak menjamin seseorang menjadi hamba Tuhan yang baik. Tentu maksud menyatakan hal ini bukan mau melecehkan Sekolah Tinggi Teologi. Melainkan supaya jemaat jangan sampai tersesat, jangan sampai terkesima kalau seseorang memiliki gelar, apakah itu sarjana teologi, magister teologi, bahkan doktor teologi. Itu tidak menjamin kesalehannya, tidak menjamin kehidupannya yang baik. Tidak menjamin kualitas hidupnya dapat membimbing umat untuk mengenal Allah. Gereja telah mengalami kemerosotan berabad-abad, dan itu dimulai dari Eropa. Mereka memiliki Sekolah Tinggi Teologi yang sangat baik, yang memiliki kualifikasi akademis yang sangat baik. Dosen-dosen yang bergelar bukan saja doktor, melainkan profesor. Tetapi kenyataannya, mereka tidak dapat menyelamatkan masyarakat. Kekristenan mengalami kemerosotan, dan bisa dikatakan ‘ambruk.’ Gereja-gereja sepi ditinggalkan jemaat. Penduniawian, sekulerisme, humanisme, dan berbagai -isme lainnya telah menggantikan kekristenan dalam kehidupan masyarakat Kristen di dunia Barat.

Hal ini membuktikan bahwa pendidikan teologi ternyata tidak menjamin seseorang menjadi hamba Tuhan yang efektif menyelamatkan jiwa-jiwa sesuai dengan nafas Amanat Agung Tuhan Yesus. Kalau seandainya Tuhan Yesus hadir di bumi hari ini, kira-kira apakah Ia membuka Sekolah Tinggi Teologi? Barangkali karena kebutuhan dan tatanan dalam kehidupan di masyarakat, Yesus harus membuka Sekolah Tinggi Teologi. Masalahnya, macam apa Sekolah Tinggi Teologi yang dibangun-Nya? Apa yang diajarkan oleh Yesus? Apakah hanya menalar Allah sehingga membuat orang pintar berdebat? Kalau hanya belajar doktrin, belajar sistematika teologi, dan berbagai mata kuliah seperti yang diajarkan di Sekolah Tinggi Teologi, dikhawatirkan tidak dilahirkan hamba-hamba Tuhan yang benar-benar menjadi utusan Kristus. Seperti contohnya adanya perdebatan di media sosial dari para pendeta, notabene para teolog. Hal tersebut tidak menunjukkan bahwa mereka memiliki manner atau perilaku sebagai hamba Tuhan Yesus. Dengan perkataan atau pernyataan mereka di media sosial tersebut, justru menunjukkan mereka tidak memiliki moral Kristiani yang agung dan itu benar-benar memalukan.

Tetapi begitulah “model” teolog zaman sekarang, dimana kalau ia sudah bersekolah di Sekolah Tinggi Teologi, tidak sedikit yang tata kramanya justru menjadi rusak, kesantunannya jadi hilang. Ironis, lebih santun orang-orang muda yang tidak pernah belajar teologi, tetapi yang dengan rendah hati menerima tuntunan hamba Tuhan untuk belajar duduk diam di kaki Tuhan. Tidak akademis, tetapi memiliki hati seperti Yesus. Kalau Yesus memiliki Sekolah Tinggi Teologi, yang pasti menjadi mata kuliah utama adalah diri-Nya, hidup-Nya yang menjadi contoh yang harus diteladani. Jika tidak demikian, itu adalah sebuah kemelesetan. Mengatakan ini bukan berarti kita tidak perlu Sekolah Tinggi Teologi. Tapi hendaknya, Sekolah Tinggi Teologi tidak menjadi segalanya. Kalaupun ada Sekolah Tinggi Teologi, yang mestinya diutamakan dalam pendidikan itu adalah perubahan karakter. Maka di Sekolah Tinggi Teologi harus ada contoh-contoh kehidupan manusia seperti Yesus. Kalau bukan ketua dan dosen-dosennya, siapa? Tentu ketua dan dosen-dosennya yang harus menjadi role model dari pribadi Yesus.