Kembali Ke Gereja Mula-Mula
22 October 2017

Sering kita mendengar khotbah-khotbah yang menyatakan bahwa gereja harus kembali ke gereja mula-mula, karena gereja mula-mula adalah model gereja yang ideal. Harus dengan teliti dan cerdas kita mempersoalkan: Apa yang dimaksud dengan “kembali ke gereja mula-mula”? Hal apa yang dikembalikan? Pada umumnya, “kembali ke gereja mula-mula” tersebut adalah kembali mengalami pelayanan yang disertai mukjizat-mukjizat atau karunia-karunia Roh yang spektakuler. Ini adalah pengertian dan pandangan yang salah. Harus dipahami bahwa mukjizat hanyalah tanda (Yun. Semeion) yang sama artinya sebagai petunjuk arah, bukan sebagai tujuan. Karunia-karunia Roh juga bukan tujuan, tetapi sarana yang Tuhan berikan untuk pertumbuhan iman. Sedangkan iman itu sendiri adalah penurutan terhadap kehendak Bapa. Tujuan atau goal kehidupan Kristen adalah menjadi sempurna seperti Bapa atau yang sama dengan serupa dengan Yesus. Hal ini sesuai dengan maksud keselamatan, yaitu dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula.

Mukjizat memang dibutuhkan pada waktu yang tepat. Tanpa mukjizat orang-orang Israel pada zaman Yesus hadir dengan tubuh fisik, tidak akan mau mendengar apa yang diajarkan oleh Yesus. Padahal kebenaran Injil itulah yang memerdekakan. Tanpa mukjizat dalam pekabaran Injil, sulit menunjukkan Allah yang benar, khususnya di wilayah-wilayah yang masyarakatnya sama sekali belum pernah mendengar Injil. Mereka tidak mengenal Allah yang benar dan Yesus Kristus, Putra Tunggal-Nya sebagai utusan Allah. Tanpa mukjizat, orang-orang yang belum pernah mendengar Injil sulit diyakinkan bahwa ada Allah yang hidup yang disebut sebagai Bapa dan Putra Tunggal-Nya yang menjadi utusan untuk menebus dosa manusia. Apalagi kalau hal itu terjadi di wilayah yang masih primitif. Mereka sangat membutuhkan bukti. Maka mukjizat harus diadakan. Demikian pula dengan karunia-karunia Roh, sangat dibutuhkan untuk membangun iman jemaat (1Kor. 14:3-4; 12). Karunia Roh berperan membangun iman, namun bukan tujuannya. Tujuannya adalah iman. Iman adalah penurutan terhadap kehendak Allah yang sama dengan melakukan kehendak Bapa (Ibr. 12:1-4). Jadi, karunia roh dimaksudkan agar orang percaya dapat melakukan kehendak Bapa seperti Yesus.

“Kembali ke gereja mula-mula”, haruslah berarti kembali kepada kehidupan orang percaya yang sungguh-sungguh mengiring Yesus pada abad pertama. Sehingga orang percaya pada abad pertama tersebut dipanggil atau mendapat julukan Kristen (Kis. 11:26). Panggilan atau julukan itu bukan dari diri orang-orang Kristen itu sendiri, tetapi dari orang di luar komunitas mereka. Mereka disebut Kristen karena perilaku hidup mereka seperti Guru dan Tuhannya, yaitu Yesus Kristus. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang percaya dalam gereja mula-mula sekitar abad pertama itu berhasil menjadi orang percaya. Memang tujuan kehidupan Kristen adalah serupa dengan Yesus.

Walau gereja mula-mula adalah komunitas orang percaya yang tidak memiliki gedung, organisasi, liturgi, aset gereja, dan berbagai atribut lain seperti yang dimiliki gereja-gereja hari ini, tetapi mereka menampilkan kehidupan Kristiani yang benar. Hingga orang-orang di luar komunitas mereka menyebut orang percaya tersebut sebagai Kristen. Hal ini sangat berbeda dengan orang-orang Kristen hari ini, yang menyebut diri Kristen hanya karena “beragama” Kristen. Betapa telah merosotnya hidup Kekristenan banyak orang Kristen hari ini. Kalau dipersoalkan apakah mereka sudah menjadi seperti Kristus? Kalau dijawab jujur, tidak atau belum sama sekali.

Seharusnya kembali ke gereja mula-mula adalah kembali kepada kehidupan Kristiani yang benar, yaitu kehidupan yang memperagakan kehidupan Yesus secara konsekuen dan konsisten. Penderitaan aniaya yang mereka alami pada waktu itu membuat mereka berhenti berbuat dosa dan mengenakan kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela (1Ptr. 4:1). Adalah kebodohan kalau kita hendak kembali ke gereja mula-mula hanya karena hendak mengalami mukjizat dan karunia-karunia Roh-Nya. Dunia kita hari ini sedang menuju akhir yang dahsyat. Kita di ambang perang dunia, kehancuran dunia dari berbagai penyebab serta kedatangan Tuhan Yesus yang semakin dekat, sehingga yang harus diutamakan adalah hidup berkenan di hadapan Tuhan.