Kematian Diri Sendiri
27 September 2018

Tidak ada kehidupan tanpa kematian. Demikian pula seseorang tidak akan mengenakan kodrat Ilahi tanpa mengalami kematian diri sendiri. Kata kematian diri sendiri bertalian dengan usaha untuk memadamkan atau mematikan keinginan daging yang bertentangan dengan kehendak Allah. Ini adalah tindakan untuk memadamkan cita-cita pribadi, ambisi pribadi dan lain sebagainya, kemudian mengarahkan diri sepenuhnya untuk melakukan kehendak Allah. Ini berarti harus rela kehilangan segala hak demi Tuhan. Hal ini menunjuk kepada suatu proses perjalanan hidup Kekristenan yang benar. Jadi sebelum kita mati secara fisik dan dikubur, maka kita harus terlebih dahulu memasuki proses kematian manusia lama.

Kematian diri sendiri harus terjadi serentak atau simultan dengan terbangunnya kodrat Ilahi. Dengan proses ini orang percaya menjadi ciptaan yang baru (a new creature atau a new being). Inilah yang dimaksud Alkitab bahwa orang yang menerima Yesus diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah yang dilahirkan oleh Allah (Yoh. 1:11-13). Dilahirkan oleh Allah adalah anugerah terbesar yang dimiliki manusia. Tentu hal ini terjadi oleh karena pengorbanan Tuhan Yesus Kristus. Sebab oleh penebusan-Nya-lah kita dimungkinkan menjadi anak-anak Allah. Pengangkatan sebagai anak ditunjukkan dengan materai, yaitu Allah menaruh Roh Kudus dalam diri kita (Ef. 1:13). Dalam hal menjadi anak-anak Allah,bagi orang percaya, yang penting diberi potensi untuk dapat memiliki kodrat baru atau natur baru. Roh Kudus selain sebagai materai, juga sebagai pendamping yang membawa orang percaya bertumbuh dalam natur atau kodrat baru, dimana orang percaya sampai kepada kematian diri sendiri melalui proses panjang. Ini adalah proses mati sebelum mati.

Panggilan untuk mengalami kematian diri sendiri
sebenarnya adalah panggilan untuk semua orang percaya
agar dapat mengenakan kodrat Ilahi.
(Filipi 3:10)

Pernyataan Paulus “serupa dengan Dia dalam kematian-Nya” pada dasarnya adalah kehidupan yang ditujukan untuk kepentingan Kerajaan Allah sepenuhnya. Kata “mati” dalam teks aslinya di sini adalah thanatos (θάνατος), kata yang sama digunakan dalam Kolose 3:3; bahwa kita telah mati. Kata thanatos memang dapat menunjukkan terpisahnya tubuh dari roh, tetapi sebenarnya lebih menunjuk kepada kematian kekal, sebuah keberadaan final (Why. 20:13-14). Alkitab memilih kata thanatoshendak menunjukkan bahwa setelah menjadi anak Tuhan, maka tujuan hidup kita harus dibedakan dari anak-anak dunia. Memang pemisahan ini tidak dalam satu hari, tetapi melalui proses panjang. Proses panjang tersebut merupakan pembaharuan pikiran -supaya orang percaya tidak sama dengan dunia ini- harus terjadi setiap hari (Rm. 12:2). Firman Tuhan yang dapat memisahkan yang jiwani dan yang rohani (Ibr. 4:12). Pemisahan ini bersifat permanen, maka menggunakan kata thanatos. Terkait dengan hal ini, dalam Kolose 3:3 Alkitab berkata: “Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah”.

Kematian diri sendiri ini tidak menghilangkan kehendak bebas manusia. Manusia tetap memiliki diri. Melalui penyangkalan diri terus menerus orang percaya menyerahkan kehendak diri kepada Tuhan. Inilah sumber masalahnya, sebab ketika orang percaya hendak menundukkan diri sepenuh, maka seluruh hak orang percaya diserahkan kepada Tuhan; hak hidup layak seperti yang lain, hak memiliki uang dan segala fasilitasnya. Hak memiliki penghormatan, hak dihargai, hak diperlakukan adil dan lain sebagainya. Dalam hal ini Paulus juga memberi teladan ketika ia berkata: Hidupku bukan lagi aku tetapi Kristus yang hidup didalamku.

Orang yang mengalami proses kematian diri sendiri ditandai dengan keadaan
dimana dosa tidak lagi berkuasa dalam tubuhnya yang fana.

Ini adalah hukum terpenting dalam hidup Kekristenan. Kesediaan untuk ini merupakan hal utama.Itulah sebabnya orang percaya memberi diri dibaptis. Dalam baptisan tersebut ia menguburkan cara hidup yang lama yang Tuhan tidak kehendaki dan hidup dalam hidup yang baru (Rm. 6:1-4).Dalam hal ini orang percaya menemukan bahwa pengertian kesucian dalam Kekristenan bukan sekadar tidak berbuat dosa, tetapi tidak dapat berbuat dosa lagi. Kalau orang percaya mati bagi dosa, maka kita tidak dapat berbuat dosa lagi.

Oleh sebab itu komitmen bahwa orang percaya sudah mati bagi dosa merupakan komitmen yang harus diingatkan terus menerus. Kita harus hidup dalam kematian sampai permanen mati. Tidak ada kesucian tanpa kematian daging dan naluri duniawi. Dari proses ini kita dihantar kepada Kelahiran Baru. Ini berarti kita memiliki keberadaan yang baru (Ing. a new being). Ini adalah sesuatu yang benar-benar luar biasa. Kejadian ini adalah titik balik seseorang kepada Tuhan secara permanen yang tidak akan berbali ke dunia. Keadaan ini dinyatakan sebagai Kelahiran Baru.